Renungan Fajar: Dakwah Tebar Pesona

0
181
Ilustrasi selfie diambil dari ruangmuslimah.com

KLIKMU.CO Kulo disukani sembako sangking jamaahne gerejo, siang-siang griyo kulo di dodhok, kulo buka, wonten ibu-ibu nyukani sak kresek beras, minyak, gulo. Sanjange sangking jamaah persekutuan gerejo.

Kulo sampek aken nek kulo niki muslim. Sanjange ibu sing nyukani niku: Tidak apa-apa, kami tidak meminta untuk ikut kegiatan kami, semua warga miskin dikasih.

Pengalaman nyata di atas disampaikan oleh salah seorang jamaah masjid kami, dimana para warga miskin beberapa kali menerima santunan sembako dan kebutuhan pokok dari jamaah gereja, tanpa publikasi atau foto-foto selfie.

Sehingga tidak diketahui publik, bahkan para tetangga yang mampu pun tidak tahu akan adanya kegiatan pembagian sembako tersebut.

Sangat beda bahkan kontras dengan yang saat ini dilakukan beberapa lembaga sosial Islam. Banyak lembaga sosial atau filantropi Islam, bahkan  tidak sedikit lembaga amal  yang terjangkit demam selfie.

Foto foto selfie saat memberi shodaqoh kepada para dhuafa, langsung di unggah ke media sosial.

Hanya untuk memberikan satu kresek kebutuhan pokok kepada sepasang suami istri sepuh keluarga miskin, satu rombongan tim lembaga amal berfoto selfie dengan bentangan spanduknya,  yang ditengahnya berdiri sepasang suami istri sepuh keluarga miskin.

Seandainya sepasang suami istri sepuh keluarga miskin tersebut tahu bahwa foto menerima bantuan tersebut disebarkan ke media sosial, dimana para kerabat, saudara, tetangga, dan kenalannya bisa saja tahu akan hal tersebut, tentu keluarga miskin tersebut merasa keberatan dan tidak nyaman.

Jika pun keluarga miskin tersebut tidak melek medsos atau bahkan tidak mempermasalahkannya, bisa jadi kerabat atau saudaranya yang tahu akan hal tersebut, merasa tidak nyaman.

Euphoria filantropi yang diikuti foto selfie, bisa menjadikan si penerima tidak nyaman, hingga mengurangi atau bahkan menghilangkan pahala si pemberi shodaqoh.

“Hai orang2 yg beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. (QS: Al-Baqoroh 264).

Jika jamaah gereja memberi untuk menarik simpati. Kita ber-filantropi untuk selfie. Inilah tren Dakwah Tebar Pesona jaman now.

Dikemas dan dikelola gaya enterprise dengan kemasan entertainment

Akankah Dakwah Tebar Pesona ini dilanjut ? Tercapaikah tujuan dakwah untuk merangkul mendekatkan umat ? atau malah membuat mereka menjauh, karena merasa lebih nyaman menerima bantuan dari non-muslim yang diberikan diam-diam.

Satu dari tujuh golongan yang kelak bakal memperoleh naungan Allah di yaumul akhir, adalah orang yang bersedekah secara sembunyi2 ibarat tangan kiri tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh tangan kanannya (HR Muslim)

Mari kita bermuhasabah, berbenah, dengan terus belajar Quran dan sunnah. Agar segala amal tidak sia-sia. Semoga bermanfaat.

Surabaya 11 April 2018

Muhammad Farhan HS., Majelis tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ngagel

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here