Renungan Jelang Akhir Ramadhan #6: Ibu

0
435
Ilustrasi diambil dari google.com

KLIKMU.CO

Oleh: Karyanto Wibowo Soewignjo*

Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Bismillahirahmanirahim.
Alhamdulillahirabbilalamin.

Saudaraku yang baik hati,
Membahas dan menulis tentang ibu tidak pernah kehabisan bahan. Karena memang banyak sekali kemuliaan seorang ibu.
———-
Di waktu masih muda banget, saya sering membuat ibu was-was, atau mungkin bersedih. Betapa tidak, ketika saya SMP ibu dipanggil ke sekolah. Begitu juga ketika di jenjang SMA. Beda ketika saat perkuliahan, rektorat yang datang menemui orang tua saya.

Semoga tulisan ini dibaca anak jaman now yang masih banyak menyepelekan nasehat ibu. Juga dibaca anak jaman old yang masih punya kesempatan berbakti pada ibu, dan jika ibu nya sudah meninggal akan rajin mendoakannya
———-

Saudaraku yang budiman,
Betapa pentingnya berbuat baik pada orangtua terutama ibu, sampai Allah memerintahkan dalam ayat 15 surat al-Ahqaf : “Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula)”.

Bayangkan lelahnya ibu menggendong kita dirahimnya, tiada henti sedetikpun selama sembilan bulan. Hadirkan bayangan resiko saat susah payah melahirkan kita. Ingat kembali betapa tidak mudah membesarkan dan mendidik kita. Kadang sepertiga malamnya tak sempat tahajjud mohon ampunanNya karena sibuk mengganti popok kita.

Sekarang dengan mudahnya kita bilang ah padanya ? Sungguh kita telah melanggar perintah Allah dalam surat al-Isra’ 23.
Sekarang dengan malasnya kita bangun di sepertiga malam untuk mendoakannya ?
Sekarang setelah salam sholat, kita segera beranjak hanya karena tidak mau ketinggalan acara tv. Tidakkah sempat kita luangkan waktu sekedar mendoakannya ?
———-

Saudaraku yang rendah hati,
Apakah kita akan mampu membalas semua itu ? Tidak sama sekali.
Rasulullah bersabda : “Seorang anak tidak dapat membalas budi kedua orang tuanya kecuali jika dia menemukannya dalam keadaan diperbudak, lalu dia membelinya kemudian membebaskannya.”

Jangan sombong merasa telah membalas kebaikan ibu dengan membelikannya macam macam barang. Jangan jumawa merasa telah menanggung beban hidup masa tuanya.

Saya teringat kisah pemuda yaman menggendong ibunya thawaf di ka’bah dan bertemu Ibn Umar. Lalu ia bertanya apakah ia telah membalas budi pada ibunya. Ibnu Umar menjawab, : “Belum, walaupun setarik napas yang ia keluarkan ketika melahirkan.”

Kisah yang lain adalah Uwais al-Qarni yang menggendong ibunya menempuh jarak ratusan kilometer untuk berhaji demi baktinya pada ibu. Tak henti ia berdoa agar Allah mengampuni dosa ibu. Mendengar itu sang ibu bertanya : “Bagaimana dengan dosamu ?”. Uwais menjawab : “Dengan terampunkan nya dosa Ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ridho dari ibu yang akan membawa aku ke surga.”

Mari memunculkan sifat ‘ibu’ pada setiap langkah kita.
Mari menggapai ridho ibu sebagai salah satu kunci surga.
Maafkan kami ibu…
———-

Saudaraku yang bahagia,
Quote hari ini adalah :

Sesungguhnya ibu adalah sifat, entah melahirkan atau tidak. Tinggal bagaimana memunculkan sifat ibu, dan meletakkan kehormatan tertinggi baginya
———-

Selamat berbuka puasa. Menunaikan hak raga dengan makan minum, serta hak jiwa dengan doa yang tak tertolak.

Dzahaba Dzoma’u Wabtallatil ‘Uruuqu Wa Tsabatal Ajru Insya Allah
(Telah hilang rasa dahaga, dan dan telah basah kerongkongan, serta telah ditetapkan pahala insya Allah.)

Wassalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh

*KWS Life Academy.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here