Rona-rona Menjalani Puasa di Perantauan

0
188

KLIKMU.CO – Senin (11/7), sore itu langit Kota Pahlawan mulai memudarkan warnanya. Kereta warna orange kombinasi putih berjalan mendekati stasion Gubeng Surabaya. Terlihat perempuan pekerja pabrik dalam kereta itu menentengkan minuman dari kemasan plastik. Sepertinya telah dipersiapkan untuk bekal berbuka. Mereka sadar, saat maghrib datang ia belum tiba di rumahnya.

Sepanjang perjalanan mereka pastinya telah berjibaku dengan aroma mulut yang mengumulasi menjadi partikel, ion-ion tak sedap di ruang gerbong kereta. Ditambah lagi sesaknya para penumpang. Berdesakan. Kian membuat pengap suasana.

Mereka rela berdesakan sebagai satu alternatif untuk menyimpitkan space ruangan. “Yang penting sampai rumah,” ujar salah satu penumpang. Seraya tak sabar untuk memaksa kereta agar berlari kuat. Hingga ia merasakan segera berbuka bersama keluarga di rumah yang sudah menanti. Adzan maghrib pun berkumandang. Mereka larut dalam buka puasa di dalam gerbong. Suasana sesak, pengap tidak lagi terasa ketika perutnya sudah menanti asupan nutrisi yang seharian kosong. Ia pun bergegas membatalkan puasa.

Bambang Subagyo (33), berkali-kali merasakan bagaimana suasana berbuka di jalan. Sebagai sopir pribadi majikan beras itu, menuturkan bukan permasalahan enaknya menu masakan yang disantapnya saat berbuka bersama manjikannya itu. Kalau disuguhi pilihan, ia lebih memilih buka bersama keluarga, meski menu ala kadarnya.

Suasana keharmonisan berkumpul bercengkrama dengan keluarga, anak, istri yang membuat ia merasa kurang.

Lain lagi dengan Kasmaun (40), pria paruh baya itu bahkan sudah dua tahun berlalu merasakan Ramadhan seorang diri. Dia terpisah dengan keluarga. Ia mengais rejeki di negeri seberang. Malaysia sebagai tempat peraduan nasib. Hingga jarang merasakan nikmatnya berbuka bersama keluarga besarnya.

“Saya hanya bisa bertanya lewat telepon kepada anak atau istri, buka apa di rumah,” papar Kasmaun menceritakan. Meskipun, ia bisa memilih menu kesukaannya. Baginya, ada yang tidak komplit dalam kesuasanaan indahnya puasa.

“Kalau dirumah sudah disiapkan istri kan, tapi di sana harus mencari makanan agak lumayan jauh. Kadang ada yang cocok dan tidak. Kadang juga harus mengantri di kantin,” paparnya. Sulit lagi kalau saat sahur, lanjut Kasmaun cerita, karena disekitar tempat tinggal jarang yang berjualan. “Kadang tidak sahur, hanya bikin kopi saja,” aku Kasmaun. Padahal besoknya harus bekerja. “Menjalani puasa di perantauan ada kekurangan. Berbahagialah ketika berpuasa berkumpul dengan anak dan istri.”

Mengisi hari di bulan ramadhan dengan aktivitas kebaikan merupakan kebaikan plus tersendiri. “Tidur orang berpuasa itu pahala, namun lebih berpahala ketika bulan puasa tidak mengurangi aktivitas keseharian itu,” papar Arif, salah satu mahasiswa dalam memberikan tausiah ramadhan tahun lalu. Selama bulan ramadhan ia bersama kelompoknya melakukan safari dakwah. “Mengisi pondok ramadhan di desa-desa, atau mengajar TPQ dan melakukan tadarus dan lain-lain,” akunya yang seminggu berpindah tempat.

Beda dengan Arini (20), dia menjadi penjual dadakan. Dia melirik ada peluang dalam Ramadhan, ia menjajahkan minuman di sepanjang jalan Soekarno Hatta, Malang. “Disini kan banyak mahasiswa, jadi peluang bisnis ada. Lumayan perputaran ekonominya, meski beberapa jam menjelang buka,” aku Arini mahasiswa ekonomi di salah satu PTN Malang ini via WatShap yang mengaku bisa meraup omset bersih 200 ribu perhari.

Senada, Sri Wahyuningsih, pedagang takjil, dia juga mengaku omset penjualan meningkat rata-rata 200%. Pasar kaget yang hanya buka pada saat ramadhan memberikan keberkahan tersendiri. “Menjual makanan di pasar ta’jil alhamdulillah beda dibanding dengan bulan lain,” papar wanita sempai ini. Setiap hari, kata dia, membawa lebih dari sepuluh jenis makanan ringan. “Setiap hari saya harus membuat aneka jajanan lebih dari 10 jenis,” papar wanita yang mangkal di pasar ta’jil sawojajar malang ini. Apapun yang dilakukan dalam menjalani puasa, terpenting adalah meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada sang Maha Kuasa. (Abdul Kholiq)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here