Ruh Pendidikan Muhammadiyah Harus Menelusup Kesendi Kehidupan Peserta Didik

0
187
Foto penambangan freeport diambil dari economy.okezone.com

KLIKMU.CO Sekolah Lima hari sesuai instruksi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional Republik Indonesia sudah diterapkan seluruh Perguruan Muhammadiyah Wiyung Kota Surabaya.

Guna membahas peningkatan kinerja di lembaga pendidikan, seluruh satuan pendidikan yang tergabung dibperguruan itu melakukan Rapat Kerja (Raker), Sabtu (28/7).

Raker tersebut diikuti oleh tim manajemen dan bendahara SDM 15, SMPM 17 plus dan SMAM 9 Surabaya dengan jumlah peserta sekitar 45 orang.

Agenda tersebut merupakan agenda tahunan yang dilaksanakan di awal tahun ajaran baru. Hal itu sebagai monitoring setiap satu semester, baik semester gasal maupun Gena.

Menurut Ali Shodiqin, M.Pd.I Wakil Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 5, bahwa tujuan raker adalah memberikan pencerahan peserta untuk merumuskan program kerja, dilanjutkan evaluasi satu tahun yang sudah berjalan, kemudian penyusunan program dan penetapan rencana anggaran tahun 2018-2019.

Sementara itu, Drs. H. M. Maskur Ketua PCM Wiyung juga pemateri memberi pencerahan dengan materi bagaimana penguatan ideologi Muhammadiyah di Sekolah.

“Materi Al Islam, KMD (Muhammadiyah), HW dan Tapak Suci harus menjadi ruh Sekolah, tidak sekedar teori tapi prakteknya diutamakan,” tegas Maskur dihadapan peserta Raker.

Peserta pun diharapkan harus bisa merumuskan dan melaksanakan integrasi antara pengetahuan umum dan Al Qur’an, misalnya teori matematika, seorang guru diharapkan bisa memberi gambaran tentang teori al Jabar dalam kehidupan sehari-hari. Minimal Aljabar sendiri, lanjut Masker diambil dari tokoh Islam bernama Al-Jabar inilah dibangkitkan kebesaran Islam.

Setelah istirahat, dilanjutkan pemateri kedua, Dr. Syamsul Shodiq, M.Pd anggota Majelis Dikdasmen dan Dosen Bahasa Indonesia UNESA, yang memberikan pencerahan tentang makna pendidikan.

Bagi Dia mendidik itu hakekatnya membimbing dan mengembangkan sesuai kompetensi, jika tidak mau membimbing, maka jangan jadi pendidik.

“Pendidikan Muhammadiyah itu sudah terintegrasi dengan sistem pendidikan yang ada di Indonesia, misalnya konsep KI 1 dan KI 2 di kurikulum 13 itu sebenarnya implementasi Ismuba yang ada di kurikulum pendidikan Muhammadiyah,”itu harus kita pertahankan dan perjuangkan di Sekolah Muhammadiyah,” katanya, disambut tepuk tangan yang meriah peserta.

Diakhir pencerahan Syamsul menambahkan, radikalisme pendidikan harus bisa dilaksanakan,melalui penguatan Ismuba, pembiasaan ibadah, integrasi HW dan Tapak Suci.

“Sehingga Sekolah Muhammadiyah menjadi pilihan nomer satu saat PPDB, seperti SDM Limas,” kelakarnya, sambil menunjuk team manajemen SDM Limas. (Ali Shodiqin/Dul)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here