Rumah Baca Cerdas: Warisan Malik Fadjar dan Upaya Menghidupkan Ajarannya Kini

0
148
Salah satu siswa di ruang public library RBC Institute. (RBC/KLIKMU.CO)

KLIKMU.CO – Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Pak Malik Fadjar pergi meninggalkan banyak legasi.

Ungkapan tersebut tidaklah salah. Kepergian sang tokoh 7 September lalu meninggalkan banyak warisan. Salah satu warisan itu adalah Rumah Baca Cerdas (RBC) atau yang kini lebih dikenal dengan nama Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute A. Malik Fadjar.

Setelah hampir setahun vakum karena pandemi, RBC yang didirikan pada 2005 ini “hidup” kembali. Satu kegiatan penting telah sukses digelar Rabu lalu (11/11/2020) di kantornya, Jalan Puncak Borobudur, Ruko Permata Jingga Kav 12-13, Malang. Yakni, Sarasehan bertema “Aktivisme Kaum Muda dan Senjakala Demokrasi” yang menghadirkan empat organisasi mahasiswa: PC IMM Malang Raya, HMI Cabang Malang, PC PMII Kota Malang, dan GMNI Malang Raya.

Beda RBC dan RBC Institute

Kepada KLIKMU.CO, Direktur Eksekutif RBC Institute Subhan Setowara mengatakan, RBC didirikan langsung oleh Abdul Malik Fadjar pada 2005. Dari sejarahnya, menurut Subhan, RBC memiliki cerita yang panjang. Itu setelah dia melacaknya, salah satunya lewat buku.

“RBC dan RBC Institute itu beda sejarahnya. RBC ada sejak 2005. Didirikan Oktober dan diresmikan 30 November 2005,” ujarnya.

Di dalam sebuah buku disebutkan, Rumah Baca Cerdas (RBC) didirikan bertepatan dengan peringatan Nuzulul Qur’an  17 Ramadan 1426 H atau 22 Oktober 2005.

“Lalu, diresmikan oleh Hasri Ainun Habibie pada 30 November 2005,” paparnya.

Hasri Ainun Habibie atau yang biasa dikenal dengan Ainun adalah istri Presiden Ketiga RI B.J. Habibie. Ainun di situ menulis: “Dalam menimba ilmu tidak dibedakan antara pria dan wanita, agar dapat memperoleh SDM sebanyak mungkin dari anak bangsa dengan memiliki iman taqwa yang tinggi secara simultan,” tulis Ainun.

“Dengan demikian, dapat tercapai kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan,” lanjut tulisan itu.

Subhan membeberkan, setelah sekian lama RBC berdiri, Nazarudin Malik, sang anak, pernah menyampaikan bahwa tampaknya perlu ada Malik Fadjar Institute. Tapi, Pak Malik waktu itu tidak menjawab iya atau tidak.

“Pak Nazar beranggapan Pak Malik tampaknya tidak mau namanya dijadikan institut,” ujarnya.

Sampai Pak Malik Fadjar wafat September lalu sebetulnya sempat ada nama RBC Institute. Tapi, menurut Subhan, pengurusnya belum jelas. Barulah kemudian dibentuk pengurusnya setelah beberapa anak muda di UMM dikumpulkan.

“RBC Institute itu atas kehendak Pak Nazar. Karena beliau ingin pemikirannya (Malik Fadjar, Red) tetap hidup,” ucapnya.

Direktur Eksekutif RBC Institute Subhan Setowara. (RBC/KLIKMU.CO)

Fasilitas RBC Institute

Terkait dengan aktivitas saat ini, Subhan mengaku masih berupaya menghidupkan, tapi belum resmi belum di-launching. “Masih reopening,” katanya.

RBC Institute terdiri atas dua lantai. Lantai atas diisi public library atau perpustakaan umum. Sementara lantai bawah ada kafe dan ruang belajar atau learning space.

“Learning  space ini jadi ruang utama. Di sana fasilitas lengkap, mulai tempat baca, ngopi, tempat diskusi, ataupun pertemuan komunitas,” bebernya.

Tempat ngopi buka pukul 13.00-21.00, perpustakaan (public library) buka mulai pukul 10.00-17.00, sedangkan learning space buka paling lama: 10.00-09.00. “Kita buka Senin-Sabtu. Kalau minggu, libur,” kata pria kelahiran Kupang, NTT, tersebut.

Learning space yang berada di lantai 1. (RBC/KLIKMU.CO)

Upaya Wariskan Ajaran Pak Malik

Usai Pak Malik Wafat, gagasan-gagasan sang guru bangsa tentu tidak boleh luntur. Maka dari itu, RBC Institute ini menjadi salah satu wadah untuk mewariskan ajaran-ajarannya.

Dalam rancangan program yang disampaikan Subhan kepada KLIKMU.CO, setidaknya ada tiga misi yang digapai terkait upaya mewariskan gagasan mantan menteri pendidikan nasional tersebut.

Pertama, Menjadi lembaga kajian yang strategis dalam mengejawantahkan pemikiran pendidikan dan politik A. Malik Fadjar melalui riset, diskusi, dan publikasi. Kedua, regenerasi dan pengkaderan literasi untuk melahirkan kader-kader intelektual yang di masa depan siap menjadi pemimpin dan tokoh yang berkontribusi bagi bangsa.

“Ketiga, penguatan RBC sebagai rumah belajar komunitas yang nyaman, inspiratif, dan produktif, khususnya bagi generasi muda,” tandasnya.

Tantangan Subhan Setowara dan tim ke depan dalam upaya mewariskan ajaran Pak Malik memang tidak mudah. Khalayak menanti program dan inovasi seperti apa yang bakal diejawantahkan dari ketiga misi tersebut. (Achmad Santoso)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here