Saat Kyai Dahlan Diteriaki “Kyai Sesat-Kyai Palsu”

0
25823
Foto cuplikan flm sang pencerah diambil dari dailymotion

KLIKMU.CO

Oleh: Sukriyanto AR*

Di awal-awal KH Ahmad Dahlan melancarkan gerakannya banyak sekali tantangan dihadapi. Mulai dari dituduh sebagai kyai palsu, kyai kafir, kyai sesat, Kristen Putih sampai caci maki. Bukan hanya dari mereka yg tua2 tetapi juga anak2. Mungkin, anak2 itu cuma disuruh.

Pada suatu hari sekitar jam 9 jam 10 pagi, ketika KHA Dahlan sedang menelaah (membaca) salah satu kitab di beranda rumahnya, ada serombongan anak2 yg mendatangi rumahnya sambil berteriak2 (mungkin ada yg menyuruh).

“Kyai sesat, kyai sesat, kyai sesat. Kyai palsu, kyai palsu, kyai palsu …”

KH Ahmad Dahlan bersama Para Muridnya
Mendengar suara riuh itu Kyai Dahlan keluar sambil tersenyum. Anak2 itu masih berteriak2, “Kyai palsu, kyai palsu, kyai palsu. Kyai sesat, kyai sesat, kyai sesat”, dan seterusnya.

Kyai Dahlan tetap berdiri di depan rumahnya memperhatikan anak2 itu sambil tersenyum. Bahkan kemudian Kyai Dahlan ikut bertepuk tangan mengikuti irama teriakan anak2 itu juga sambil menirukan apa yg diteriakkan anak-anak itu, “Kyai palsu-kyai palsu, kyai palsu. Kyai sesat, kyai sesat, kyai sesat.”

Mungkin karena mereka (anak2) itu lelah berteriak atau karena heran, karena Kyai Dahlan tidak marah, maka mereka lalu berhenti berteriak dan ‘mlongo dan ndomblong” (terbengong2).

Ketika berhenti Kyai Dahlan bertanya, ‘Lho kok berhenti? Ayo terus! kata Kyai Dahlan.

Karena anak-anak itu diam, kemudian dgn senyum kebapakan dan penuh wibawa Kyai mendekati anak2 menyalami anak2 itu satu persatu sambil ditanya namanya siapa? Ayahnya siapa? Rumahnya di mana? dan seterusnya.

Kemudian, Kyai Dahlan duduk di undak2kan (tangga rumah) sambil mengajak anak2 duduk di sekitarnya. “Mari, duduk di sini”, kata Kyai Dahlan.

Karena keramahan sekaligus kewibawaan Kyai Dahlan, anak2 itu pelan2 satu per satu duduk di sekitar Kyai. Kyai Dahlan tidak mempersoalkan teriakan, tetapi menanyakan di mana rumahnya, putranya siapa, pekerjaan orang tuanya apa?

Juga ditanyakan pula ada yg sekolah apa tidak? Dulu, tidak setiap anak bisa sekolah. Kalau habis maghrib apa ada yg ikut mengaji. Kalau ngaji, ngajinya di mana, siapa yg mengajar mengaji? Dan seterusnya.

Setelah mendapat jawaban anak2 itu, kyai bertanya. “Apa kamu semua mau bermain bersama saya? Apa kamu semua mau saya dongengi?”

Tawaran yang simpatik itu dijawab oleh mereka serempak, “Mau Kyai, mau Kyai”.

Kata Kyai, “Baik, kalau mau, sekarang masuk ke rumah”

Kemudian Kyai Dahlan minta Nyai membeberkan tikar dan membuatkan minuman. Setelah itu Kyai Dahlan mendongeng suatu kisah yang diambilkan dari tarih Islam. Karena cara mendongengnya menarik, kadang2 disertai dialog yg komunikatif, tokoh2 yg didongengkan itu seakan-akan hidup. Anak-anak terpukau keasyikan.

Ketika mendengar azan dhuhur, Kyai berhenti dan berkata. “Itu sudah terdengar azan sekarang kita berhenti, shalat dulu. Sekarang kamu berwudhu, ada yg belum bisa berwudhu? Terus shalat bersama saya di langgar itu. Ada yang belum bisa shalat? Nanti habis shalat kita ke sini lagi”.

Ketika anak2 keluar untuk berwudhu, Kyai Dahlan membisiki Nyai Dahlan, “Tolong sediakan makan siang ala kadarnya untuk anak2 itu. Kita kedatangan murid2 baru,” kata Kyai.

Selesai shalat anak2 diajak makan. Selesai makan, Kyai Dahlan berkata, “Nah, sekarang pulang dulu, kapan-kapan boleh main ke sini,” ucap Kyai Dahlan.

Tentu saja setelah itu tidak ada lagi cacian dan makian terhadap KHA Dahlan. Yang ada adalah, sekelompok anak2 yg dgn gembira dan ceria belajar baca Al Qur’an, belajar agama kepada Kyai Dahlan.

Rupanya, Kyai Dahlan memanfaatkan cacian itu sebagai momentum untuk mendapatkan murid baru.

Judul Asli : Kisah KH. Ahmad Dahlan Mendapatkan Murid Baru
Sumber: muhammadiyah.or.id dari Sukriyanto AR, Kisah-kisah Inspiratif Para Pimpinan Muhammadiyah, hlm. 69-71.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here