Saat Santri NU Mewarisi Pikiran Maju Kiai Dahlan

0
273
Kiai Nurbani Yusuf, pengasuh komunitas Padhang Makhsyar. (Foto Klikmu.co)

Oleh: Kiai Nurbani Yusuf

KLIKMU.CO

Kepada santri NU aku cemburu…

Militansi dan kepercayaan diri. Itu yang bikin saya cemburu. Mereka tak takut menjadi Muhammadiyah meski ada ribuan anggota dan kader jamiyah NU belajar di perguruan Muhammadiyah.

Mereka tak takut menjadi Syiah atau menjadi Wahabi meski ratusan lainnya belajar di Yaman, Ummul Qura, Qoum atau Teheran, bahkan di perguruan tinggi Wahabi. Santri NU mewarisi pikiran maju Kiai Ahmad Dahlan saya bilang.

NU adalah kekecualian, tutur Robbin Bush dalam sebuah risetnya tentang kekecualian NU. Santri NU cepat sekali bangkit dari kalah. Cepat move on dan gampang melupakan kesalahan, kemudian merebut kembali dengan tingkat adaptasi tinggi.

Santri NU membuang yang buruk-buruk dan kembali pulang membawa yang baik-baik dari semua yang ada, khas pikiran maju Kiai Ahmad Dahlan di awal pergerakan.

Santri NU bisa belajar di mana pun, di sekolah dengan manhaj dan idelogi yang bisa saja berlawanan dengan tradisi NU, itu biasa. Santri NU tetap militan. Dan tidak menanggalkan watak kulturalnya meski mengambil semua nilai-nilai modernitas: terbuka, dinamis, dan inklusif.

Meski sudah bergelar doktor atau guru besar sepulang dari peguruan tinggi Muhammadiyah atau Wahabi atau Syiah, santri NU tetap saja yasinan, tahlilan, dibaan, manakiban, tetap saja rajin berziarah dan bertadzim kepada para kiai. Satu hal yang membuat aku cemburu: militansi.

Jadi, tak perlu kaget atau terkejut jika banyak santri NU belajar di Iran, Yaman, Mesir, Sudan, China, Amerika, Eropa, bahkan di perguruan Wahabi di Saudi. Tak mengapa, yang penting bisa belajar dan mendapat beasiswa.

Antum bisa cek sekarang, berapa ratus santri NU bergelar doktor atau PhD pulang dari luar negeri dalam setahun. Berapa ratus lainnya yang mengakses beasiswa di perguruan tinggi pemerintah dan swasta dalam setahun.

Ada puluhan guru besar yang lahir dari tradisi pesantren dalam setahun. Dahsyatnya, mereka tetap menjadi santri NU militan. Jadi, siapa bilang kalau santri NU itu kolot atau tradisional. Itu hanya stigma yang menyesatkan dibuat para orientalis kala itu.

Santri NU bisa belajar di mana pun dari manhaj apa pun dan pulang tetap menjadi santri NU. Mereka tak pilih-pilih sebab punya kepercayaan diri yang kokoh. Mereka bergaul dan hadir di semua komunitas antar iman, antarideologi atau manhaj tanpa takut berubah.

Mereka terbuka dalam semua urusan muamalah, tapi eksklusif dalam urusan iman: tetap bermadzab Syafi’i, bertarekat dan berzikir di majelis-majelis para kiai tanpa menanggalkan gelar modernitasnya.

Berbeda dengan sebagian yang lain, berubah dan melawan. Berubah menjadi Wahabi, berubah menjadi Salafi, berubah menjadi liberal, berubah menjadi sekuler, berkawan dengan orang kafir disesatkan, bergaul dengan lain iman ditasyabuhkan dan menganggap rumput tetangga tampak lebih hijau, kemudian melawan tradisi di mana pernah dibesarkan. (*)

@nurbaniyusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here