Sambangi Madura, Bang Dahnil Sebut Tiga Isu Terkait Perpolitikan Indonesia

0
341
Dahnil Anzar Simanjuntak mengisi tablig akbar di Madura.

KLIKMU.CO – Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Pamekasan & Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Se-Kabupaten Pamekasan periode 2019-2023 resmi dilantik pada Sabtu (26/10/2019) di Aula Panti Asuhan Muhammadiyah Pamekasan. Dalam pelantikan ini, hadir Pimpinan Muhammadiyah, Aisyiyah, dan Pemuda Muhammadiyah Madura.

Khusus di Kabupaten Pamekasan, undangan terdiri atas PDM, PDA, PCM, PCA, ortom, Pimpinan AUM, bupati, DPD PAN, DPC Gerindra, DPR RI Fraksi PAN, DPRD Fraksi PAN, dengan jumlah undangan keseluruhann 440 peserta.

Pelantikan ini dilanjutkan dengan tablig akbar oleh mantan ketua umum Pemuda Muhammadiyah Dr Dahnil Anzar Simanjuntak SE ME.
Tema tablig akbar kali ini adalah “budaya politik santun dalam menciptakan peradaban yang berkemajuan”.

Bang Dahnil menyatakan, dalam membangun politik yang santun harus dimulai dari memurnikan tauhid, memperkuat ilmu, dan pengetahuan. “Maka dengan otomatis akan terbentuk sebuah peradaban yang berkemajuan,” ujarnya.

Dahnil menambahkan, hidup di zaman digitalisasi seperti sekarang ada tiga isu terkait dengan perpolitikan di Indonesia. Pertama, isu climate change (perubahan iklim). “Bahwa politik tanah air akhir-akhir ini menjadi magnet dan perhatian khusus oleh berbagai tokoh nasional maupun internasional. Jadi, dalam kondisi seperti sekarang kita harus memulai untuk meninggikan tauhid vskita dan keilmuan kita,” ujarnya.

“Sehingga tidak mudah terbawa arus iklim yang panas, tapi justru kita harus mampu mendinginkan iklim yang panas itu,” imbuhnya.

Yang kedua, kata Dahnil, isu digitalisasi. Hampir semua kehidupan kita dikendalikan oleh digital. “Seperti adanya aplikasi ini, jadi kita harus siap untuk bisa mengendalikan digital ini untuk peradaban yang positif yang membawa kemaslahatan ummat.

Yang ketiga, artificial intelligence (kecerdasan buatan). “Muslim Indonesia itu sangat toleran. Ketika Islam tidak toleran, maka bisa bubar Indonesia. Maka ketika ada kelompok yang bilang Islam radikal, antitoleransi, berarti ia tidak memahami sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia ini,” tuturnya. (*/Achmadsan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here