Santri Progresif: Menuju Era NU Digital

0
72
Kompas.com

Oleh: Nurbani Yusuf

KLIKMU.CO

Saya aktivis pergerakan. Lahir dari keluarga Muhammadiyah ortodoks. Tapi besar d lingkungan NU tradisional. Saya menikmati tahlilan, yasinan, dan shalawatan, bahkan mungkin lebih dari yang mereka pahami.

Santri NU perlahan telah bekerja keras untuk mengambil semua: politik, pendidikan, ekonomi, budaya, dan teknologi. Santri NU telah mengubah NU yang dikenal kolot dan jumud menjadi modern dengan tidak meninggalkan watak kulturalnya.

Bukan NU kalau tak bebas berinovasi—APP Yasin, diba’, doa ahli kubur, nu-kids, dan puluhan jenis bacaan shalawat berlimpah di Google play. Satu bukti bahwa NU begitu ramah dengan teknologi: memanfaatkan dan menguasainya tanpa canggung. NU tidak takut dengan perubahan sebab NU adalah perubahan itu sendiri.

Satu catatan saya: santri NU itu adaptif. Cepat bangkit dari keterpurukan. Cepat islah sehabis tengkar dan cepat melupakan kesalahan masa lalu. Pendek kata, warga Nahdhiyin itu cepat ‘tobat’ sehabis melakukan kekeliruan. Itu yang bikin mereka tetap kukuh dan dominan.

Dalam politik, misalnya, santri NU sudah menabalkan sebagai yang terdepan. Kiai Ma’ruf Amin, salah satu kader terbaiknya, dilantik menjadi wakil presiden mendampingi Jokowi. Tak mengapa satu kursi menteri agama lepas toh sebentar lagi juga dapat ganti. Ribut sebentar kemudian islah. Cara damai gaya santri memang asyik. Satu bukti bahwa NU punya stok kader politik berlimpah. Karier politik kader-kader muda NU begitu cemerlang dan bertebaran di mana-mana hampir di semua partai politik ada dan eksis.

Berbeda dengan ormas Islam sejenis. Tradisi politik NU tidak melulu mengikuti text book. Meminjam analogi Robin Bush (1999), NU pintar bermain dansa sehingga susah dijerat atau dipaku pada posisi tertentu. Kepolitikan NU tak bisa dicandra dengan rumus atau teori sebab NU adalah ketidakpastian itu sendiri. NU bisa bermain di semua tempat tanpa terpaku pada definisi. NU adalah perubahan yang terus berubah. Anda tak akan mengerti NU jika diam di tempat.

Meski tidak disebut modernis, NU ternyata lebih terbuka, kenyal, dan dinamis—sebutan bahwa NU adalah organisasi tradisional harus direvisi. Pun dengan santri-santrinya. Mereka cepat menangkap perubahan jaman. Adaptif dan ulet bersaing. Yang paling penting dari mereka adalah mau belajar mengejar ketertinggalan. Ketika ormas serupa menikmati kemapanan dengan sebutan organisasi modern.

Beberapa peneliti luar negeri pernah menyebutnya sebagai organisasi tradisional, kolot, jumud dan entah apalagi. Semua diterima dengan hati lapang dan dijawab dengan kerja keras. Para santri NU menjawab dengan tuntas bahwa semua yang dituduhkan tidaklah sepenuhnya benar. NU menjawab dengan pemajuan, modernisasi, dan dinamisasi dengan tidak meninggalkan watak kulturalnya.

NU bisa dengan cerdas memadukan antara kemodernan dan watak kulturalnya dalam satu konstruksi konseptual yang kukuh. Ratusan pesantren modern—boarding school tumbuh subur—kader-kader NU duduk di lembaga-lembaga elite pemerintahan dan dekat dengan kekuasaan. Banyak yang masih belum percaya dan belum siuman menerima kenyataan bahwa NU telah jauh berubah. Lebih modern, lebih dinamis dan inklusif.

Dakwah NU mewarisi tradisi Walisongo. Adat, tekonologi bukan sesuatu yang harus dilawan atau dibuang tapi sebaliknya dijadikan media, tulis Alfian ketua LIPI. NU melakukan Islamisasi, bukan dekonstruksi nilai. NU tidak mengganti kultur lokal dengan yang bernuansa Arab tegas Dr Agiel Siradz.

Gagasan Islam Nusantara misalnya adalah ikhtiar NU menyandingkan budaya lokal dan Islam bukan sesuatu yang harus saling berhadapan. Agaknya NU ingin manjawab tesis benturan peradaban Samuel Huntington dalam sebuah paragraf dialektis.

Meski banyak disalah pahami tapi warga NU punya logika sendiri yang barangkali berbeda—dan saya yakin NU akan berhasil menyandingkan dalam sebuah harmoni yang utuh dan kokoh. Watak kultural NU terbukti ampuh menjinakkan apa yang disebut sebagai budaya. Bukan hanya belantara politik—Bahkan geogle pun berhasil dijinakkan dan sesak dengan wajah NU.

Selamat Hari Santri. Rahayu. Rahayu. Rahayu.

Nurbani Yusuf, dosen Universitas Muhammadiyah Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here