Sastra Siber Jadi Tonggak Baru di Masa Pandemi

0
157
Sekretaris Hiski Komisariat Malang sekaligus Kaprodi PBSI FKIP UMM Dr Sugiarti MSi. (Arif/KLIKMU.CO)

KLIKMU.CO – Masa pandemi tak menyurutkan semangat Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Lembaga Kebudayaan UMM untuk berbagi ilmu mengenai pembelajaran sastra. Menggandeng Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (Hiski) Komisariat Malang, kali ini memasuki webinar sastra dan pandemi serie 2 mungusung tema Sastra dalam Merefleksi Kehidupan di Masa Pandemi, Kamis (25/6/2020).

Kegiatan ini merupakan lanjutan dari webinar seri 1 yang juga mengangkat tema pembelajaran sastra di masa pandemi. Webinar kedua ini menghadirkan Dr Sugiarti MSi sebagai keynote speaker. Lalu, Dr Taufik Dermawan MHum, Dr Mundi Rahayu MHum, Dr Lilik Wahyuni MPd, dan Dr Ari Ambarwati MPd sebagai narasumber pendamping.

Dr Sugiarti MSi dalam materi Tonggak Baru Sastra Siber di Masa Pandemi menyampaikan, keberadaan sastra siber di masa pandemi seperti sekarang ini menjadi tonggak baru dalam kesusastraan Indonesia. Penulis berbagi pengalaman imajinatif dan kreatif dalam bentuk karya nyata sehingga dapat dinikmati pembaca.

Selain itu, sastra siber awalnya hanya dianggap sebagai tong sampah yang menganggap bahwa sastra siber adalah karya sastra yang tidak lolos di percetakan. ”Namun, seiring dengan perjalanan waktu, keberadaan sastra siber di masa pandemi telah memberikan banyak kesempatan kepada karya-karya yang selama ini belum sempat dinikmati oleh khalayak umum menjadi lebih mudah untuk dinikmati,” ujar sekretaris Hiski Komisariat Malang itu.

Sugiarti melanjutkan, keberadaan sastra siber di era teknologi seperti sekarang ini sangat fundamental dan penting bagi perkembangan sastra. Hal ini diperkuat bahwa sastra sisber merupakan taman bermain yang dapat membawa semua penikmatnya masuk dan menelusuri karya-karya yang terhampar di dalamnya.

Bukan hanya itu, kata Sugiarti, keberadaan sastra siber juga menjadi salah satu sumbangsih nyata dalam membangun perkembangan sastra di Indonesia. Keberadaan sastra siber juga memiliki daya jangkau pembaca yang sangat luas dan tidak terbatas pada satu kalangan saja. ”Membaca karya sastra juga akan menghaluskan budi,” kata ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMM itu.

Sementara itu, Dr Taufik Dermawan MHum menyinggung bahwa sastra di masa pandemi ini seolah sebuah wahyu yang diturunkan untuk umat manusia, sebagaimana makna dasar dari kata wabah itu sendiri yang berarti peringatan.

Lalu, Dr Mundi Rahayu MHum membahas mengenai wabah sebagai sebuah retorika yang masuk dan menembus dimensi sosial politik yang dapat mengonstruksi metaforis dan tekstual di tengah masyarakat.

”Sastra juga sebagai salah satu media yang menjadi tolok ukur old normal (kebersamaan, keakraban, ketemuan, berusaha akrab dengan teknologi) dan new normal (kebersamaan, keakraban, jaga jarak, teknologi menjadi kebutuhan utama),” kata Dr Lilik Wahyuni MPd, narasumber lain.

Dr Ari Ambarwati MPd menambahkan, di era kehidupan di masa pandemi seperti sekarang seolah mengingatkan kembali bahwa semua manusia masuk dalam orkestra yang dipimpin makhluk mikro bernama Covid-19. ”Itu membuat semua manusia patuh,” ujarnya. (Achmad San)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here