Satire Abu Nawas Menjual Agama

0
217
Foto pribadi

KLIKMU.CO

Oleh: Nurbani Yusuf

Waktu Rasullulah saw habis untuk ngurusi umat. Bukan sebaliknya, umatnya yang sibuk ngurusi hidup Rasululah.

Agama… agama… agama… begitu suara Abu Nawas dari pintu ke pintu di setiap sudut pasar. Aku menjual agamaku siapa mau beli? Suara lantang Abu Nawas memecah keheningan. Para pedagang belingsatan, tak sedikit yang heran, sebagian geram, bahkan menumpah marah.

Lantas menuduh Abu Nawas macam-macam. Mulai gila, sinting, hingga ateis tak bertuhan. Bukankah orang yang telah menjual agamanya sudah pasti tak bertuhan meski dibungkus jubah dan surban menjuntai.

Risi dengan perilaku Abu Nawas di luar kewarasan, mereka bersepakat menangkap penyair kesayangan khalifah ini. Diikat, dibawa ke istana, diadili. Itulah cara terbaik, singkat, dan beres, tanpa meninggalkan soal di bekakang hari. Tapi, Abu Nawas tetap melenggang: agama, agama, siapa mau beli agamaku?

***

Akan halnya manusia agung. Rasulullah saw tak pernah merepotkan atau sibuk minta pertolongan umatnya, bahkan saat beliau saw membutuhkan kendaraan saat hendak pergi hijrah. Rasululah saw tetap beli onta meski diberikan gratis oleh Abu Bakar as Siddiq, sahabat karibnya.

Apalagi dalam hal urusan pribadi, Rasululah saw mengerjakan sendiri semua kebutuhannya dan tidak merepotkan para sahabatnya. Rasulullah saw mengambil kayu bakar, menimbun batu, dan mencangkul parit.

Disebutkan dalam kitab Hayatu Muhammad bahwa Rasulullah saw menjahit pakaiannya sendiri, mengikat tali kekang kudanya sendiri, dan membantu pekerjaan para istrinya. Tak ada sahabat atau pengawal yang membawakan sandalnya atau meraih jubahnya yang menjuntai, sebagai tanda kehormatan.

Syaikh Muhammad Haikal melanjutkan, kekasih Allah ini pergi ke pasar sendiri, tanpa pengawal atau bodyguard. Hidupnya sederhana, jauh dari glamor dan gaduh. Hidup Rasulullah saw ini didesain untuk meringankan beban umatnya, bukan ngrepoti, apalagi memberati dengan alasan syari sekalipun.

***

Dr Ziauddin Sardar menyebut bahwa Rasululah saw tidak mendapat apa pun dari dakwahnya. Tidak menyebabkan hartanya bertambah, kuda tunggangan, rumah mewah atau jabatan dan kekuasaan yang dikumpulkan. Bahkan sebaliknya, hartanya habis untuk biaya dakwahnya itu. Sebab, beliau tidak pernah terima amplop atau penghormatan lainnya.

Syaikh Ibnu Husyam menuliskan: ”Waktu Nabi saw habis untuk berdakwah. Memberi makan yang lapar, menghibur yang sedih, membantu para fakir, anak yatim, dan janda-janda yang kehilangan suaminya, hingga hartanya ludes. Rasulullah minum berbagi, makan juga berbagi, dan selalu ambil jatah paling belakang.

Nabi saw tinggal di emperan masjid, tanpa kerumunan pengawal, deret bodyguard, atau sekretaris pribadi. Manusia paling agung yang diberi hak membuka pintu surga pertama ini tetap bersahaja dan sederhana, “Katakan aku Muhammad, hamba Allah dan rasulNya.”

Allahumma shallu alaihi. (*)

 

@nurbaniyusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here