Sayang Sekali Kau Tak Akan Pernah Beristirahat dengan Tenang

0
169
Foto diambil dari Ayo Semarang

(In solidarity, merasakan hatimu, istri dan suami teman sejawat, petugas kesehatan Indonesia yang gugur di medan juang)

Oleh: Nurhira Abdul Kadir *)

Sayangku,

Kata orang, kau pergi terlalu cepat
Tapi Allah bilang tidak, kau pergi tepat waktu.

Sedang aku, biarkanlah setidaknya hari ini, aku tidak mengatakan apa-apa.

Cakrawala penuh angkara, prasangka, dan fitnah.
Biarlah.

Tidak mengatakan apa-apa baik bagiku
Baik bagimu.
Baik bagi semesta.

Setiap makna dapat dituliskan setelah tanda titik
setiap pengertian.
Dan kepergianmu, titik
setiap orang dapat menyambung dengan kalimat mereka sendiri. Tapi bukan kata-kataku.

Dipan kita, masih wangimu.
Anak-anak menangis dalam dekapanku.
Bagaimana aku harus mengisi apa yang terenggut dari hati mereka?

Aku selalu takut kehilanganmu. Kini aku kehilanganmu. Jadi, apa lagi yang harus kutakutkan?

Sungguh gemetar aku merasai harus meneruskan hidup tanpa pundakmu.

Tapi, Allah bilang, pejuang tak pernah mati. Kita mengira mereka pergi. Tetapi sesungguhnya mereka hidup.

Kau pejuang.
Kau bahkan diizinkan menghadap-Nya dengan bajumu sendiri. Keringatmu menempel di baju itu. Perjuanganmu. Darahmu. Lelahmu. Doamu.

Napasmu yang penghabisan. Bahkan najismu di baju itu. Semua pantas di mata-Nya. Ia bahkan mau kau pulang sebagai dirimu, apa adamu. Dia menunggumu dengan penuh kebanggaan.

Wangi tubuhmu meriuhkan penghuni langit.

Aku akan diam, Sayang.
Aku tak ingin meluputkan betapa magis sorak sorai langit bukakan pintu untuk pahlawannya.

Dengan bajumu sendiri. Dengan seluruh yang kami pandang najis. Dalam kantong jenazah yang dipandang nista. Bahkan Allah tak inginkan manusia menyentuhmu lagi.

Lihat, langit yang membuka. Mengatasi seluruh prasangka dan prahara yang menyesaki pandang, kau pulang dengan kemegahan perwira.

Lihat, lihat kami. Betapa menyedihkan. Mungkin kami yang merasa bangga dengan hidup ini, harus menghadap-Nya dengan mengganti pakaian kami. Kami tak pantas datang dengan baju sendiri.

Jadi, adakah yang lebih menggetarkan daripada itu?

Sayang,

Diam mengajarkan banyak hal.
Jadi setidaknya pada hari ini.
Aku ingin berteduh kepada diam.
Aku tak ingin prahara merenggut makna kepergianmu dariku dan anak-anak.
Aku ingin mendengarmu bicara padaku,
Seperti dulu ketika kau dan aku memahami hening.

Sungguh, aku ingin membisikimu, tidurlah dengan tenang.
Tetapi sayang sekali. Itu tidak akan pernah terjadi.

Kau telah dipilih-Nya untuk tetap hidup.
Kau dipilih untuk tetap berdiri di bangsal-bangsal pasien.
Berjalan di lorong-lorong rumah sakit
Berada di mana luka meminta disentuh ketulusanmu.
Kau akan terus hidup.
Menjadi semangat untuk teman-temanmu,
menyentuh lara pasien-pasienmu.

Kau akan terus berada di antara kami
Duduk di kursimu yang kosong mengawasi kami, menasihati kami dalam heningmu
Kau akan tetap berdiri dalam barisan sajadah kami
Mengaminkan permohonan kami.

Sayang sekali
Sayang sekali kau tak akan pernah tidur di sana.
Kau akan terus menjadi pijar cemerlang.
Tak henti,
Dalam kegelapan dan nestapa kami.

Keiraville, 20 Juni 2020, pukul 9.58 am

*) Penulis adalah dosen UIN Alauddin Makassar & mahasiswa Program Pascasarjana University of Wollongong

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here