Seabad TK Aisyiyah Bustanul Athfal (1919-2019): Mendulang Generasi Emas

0
575
foto diambil google

 

KLIKMU.CO

Oleh: Mu’arif*

Mendadak viral postingan Achmad Zaky, CEO BUKALAPAK, ketika hari pertama masuk sekolah tiba. Ia memposting sebuah poto masa kecilnya memakai seragam Taman Kanak-kanak. Founder BUKALAPAK itu mengaku dengan jujur kalau ia sebenarnya lulusan TK ‘Aisyiyah—mungkin maksudnya Taman Kanak-kanak ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA). Tetapi yang lebih menarik lagi, TK ABA yang telah melahirkan sosok Achmad Zaky, pengusaha toko online terbesar di Indonesia, telah genap berusia seabad (100 tahun).

Bagaimanakah proses historis berdirinya TK ABA? Tulisan singkat ini akan mengulik sekilas proses berdiri TK ABA yang dimulai sejak pembentukan Frobel Schoololeh kelompok remaja putri yang tergabung dalam perkumpulan Siswa Praja Wanita(SPW) seabad silam.

Berawal dari Siswa Praja Wanita

Siswa Praja Wanita(SPW), perkumpulan para siswi yang dibentuk pada tahun 1919, bertujuan untuk mewadahi aktivitas dan kreativitas di luar jam sekolah. Kira-kira semacam kegiatan ekstra kurikuler jika menggunakan istilah zaman sekarang. Pembentukan organisasi ini memang beriringan dengan pertumbuhan sekolah-sekolah Muhammadiyah di Yogyakarta pada waktu itu. Sang inisiatornya bernama Bapak Soemodirdjo—populer disapa Pak Sumo. Tetapi terdapat beberapa versi yang menyebutkan sejarah berdirinya organisasi ini.

Pertama, sumber Bisjron Ahmadi AW (1952) menyebutkan bahwa organisasi yang didirikan oleh Pak Sumo adalah Siswa Praja(SP). Jadi, organisasi ini dibentuk tidak atas dasar jenis kelamin dari para anggotanya. Namun tidak lama setelah pembentukan SP, faktor jenis kelamin menjadi pertimbangan untuk memecah organisasi ini menjadi dua: Siswa Praja Prija(SPP) dan Siswa Praja Wanita(SPW).

Kedua, sumber dari seorang penulis yang menggunakan inisial “Tante We” (1940). Ketika menjelaskan sejarah berdirinya SPW, “Tante We” juga menyinggung berdirinya SPP secara bersamaan. Berbeda dengan versi Bisjron Ahmadi AW, “Tante We” menyebut secara bersamaan berdirinya SPW dan SPP (lihat Tante We, “Riwajat N.A.” Taman Nasjiah, no. 3, Th. II, September 1940).

Struktur pertama SPW adalah sebagai berikut: St. Washilah (ketua), St. Umnijah (wakil), St. Djuhainah (sekretaris), dan St. Zuchrijah (keuangan) (lihatM. Bisjron AW, “Bustanul Athfal Jogjakarta dari Masa ke Masa” dalam buku Peringatan 40 Tahun Muhammadijah, 1952).

Dalam organisasi SPW dibentuk sub-sub struktur yang meliputi: Tholabussa’adah, Tajmilul Achlaq, dan Dirasatul Banat. Kegiatan-kegiatan di bawah Urusan Tholabussa’adah seperti: mengaji atau cursusagama, shalat subuh berjama’ah, shalat tarawih keliling, dan lain-lain. Kegiatan-kegiatan di bawah Urusan Tajmilul Achlaq seperti: berderma, latihan berkumpul (rapat) dan berpidato, dan lain-lain. Sedangkan kegiatan-kegiatan Urusan Dirasatul Banatseperti: mengumpulkan anak-anak kecil di sebuah rumah (nantinya menjadi bakal Mushalla ‘Aisyiyah) untuk dibimbing membaca huruf Hijaiyyah, mengaji surat-surat pendek Juz ‘Amma—istilah populer pada waktu itu “Ngaji Turutan”, mendengarkan dongeng, dan lain-lain.

Dari ketiga Urusan dalam SPW, maka Urusan yang terakhir itulah yang relevan dalam konteks tulisan ini. SPW Urusan Dirasatul Banat berhasil menyelenggarakan pendidikan anak yang terus menerus digeluti oleh para aktivis organisasi ini. Mula-mula diselenggarakan di sebuah rumah di Kampung Kauman, terutama pada masa kepemimpinan Siti Washilah. Namun, baru sekitar 5 bulan memimpin SPW, Siti Washilah mengundurkan diri karena ia menikah (dengan KRH Hadjid). Dengan alasan ini, dapat diketahui bahwa batas keanggotaan SPW adalah remaja putri yang belum menikah.

Siti Umniyah, wakil SPW, menggantikan posisi Siti Washilah yang mengundurkan diri. Masih di tahun 1919, sekretariat SPW dipindah ke rumah Siti Umniyah (nDalem Pengulon). Tak berapa lama, kegiatan pengajian anak-anak SPW Urusan Dirasatul Banat pun dipindah ke rumah Siti Umniyah. Di tangan Siti Umniyah dan didukung kawan-kawan pengurus SPW, pengajian anak tersebut berubah menjadi kegiatan pendidikan anak usia pra sekolah yang pada waktu itu dikenal dengan istilah yang pada mulanya disebut Frobel School hingga menjadi Bustanul Athfal. “Di dalam pimpinanannya St. Oemnijah, SPW makin lama makin bertambah maju sehingga mempunyai tambahan gerakan, ialah Tholabussa’adah, Tajmilul Achlaq, dan Dirasatul Banat, kemudian dapat mendirikan pula sekolahan Bustaanul Athfaal” (Taman Nasjiah, no. 3 tahoen II, September 1940).

Cukup menarik di sini karena rentang waktu antara 1919-1922 terjadi proses institusionalisasi yang nantinya akan mematangkan lembaga pendidikan usia pra sekolah ini. Proses ini tentu melibatkan perdebatan yang cukup intens, tidak hanya melibatkan para pengurus SPW, tetapi juga para pengurus ‘Aisyiyah. Mengapa? Karena SPW pada waktu itu dimasukan ke dalam salah satu Urusan ‘Aisyiyah. Posisi ‘Aisyiyah sendiri adalah Bagian (Departemen) dalam struktur Muhammadiyah. Dengan demikian, posisi SPW dalam struktur Muhammadiyah adalah sub-sub struktur. Sedangkan ‘Aisyiyah adalah sub-struktur Muhammadiyah.

Institusionalisasi TK ABA

Siti Badilah Zuber, seorang santriwati KH Ahmad Dahlan yang menjadi salah satu tokoh perintis ‘Aisyiyah, mengisahkan bagaimana proses institusionalisasi TK ABA ke dalam struktur Bagian ‘Aisyiyah. Dalam Kongres ke-11 yang diselenggarakan pada tahun 1922, salah satu keputusan resminya adalah propaganda pendirian Muhammadiyah di luar Yogyakarta yang harus diiringi dengan pembentukan pengurus ‘Aisyiyah (lihat Siti Badilah Zuber, “Tarich Moehammadijah dan ‘Aisjijah,” Soeara Aisjijahno. 9-10/Oct 1940).

Maka berdasarkan kaidah organisasi pada waktu itu, struktur organisasi ‘Aisyiyah harus dilengkapi dengan sub-struktur atau yang dikenal dengan istilah “Oeroesan.” Badilah Zuber mencatat ada 5 Oeroesan dalam struktur ‘Aisyiyah: 1) Siswa Praja Wanito, 2) Oeroesan Madrasah, 3) Oereosan Tabligh, 4) Oeroesan Wal-‘Ashri, dan5) Oeroesan Dzakirat.

Dalam rentang waktu antara 1924-1931, perdebatan dalam rangka proses institusionalisasi TK ABA dan juga perubahan nomenklatur SPW cukup menarik untuk diikuti. Kebijakan propaganda ‘Aisyiyah ke luar pulau Jawa (keputusan kongres 1922) mengalami peningkatan yang cukup signifikan, sehingga penggunaan istilah dalam organisasi harus bisa dipahami dengan mudah oleh masyarakat di luar etnis Jawa. Maka nama Frobel School (Bahasa Belanda) dan SPW (Bahasa Jawa) perlu segera diganti untuk mempermudah para pengurus ‘Aisyiyah dari lintas etnis ketika mengucapkannya. Dipilihlah nama-nama dalam Bahasa Arab, Bustanul Athfal—untuk pengganti Frobel School dan Nasyiatul Aisyiyah (Nasyiah)—untuk SPW. Alasannya agar mudah diterima oleh mayoritas umat Islam dari berbagai etnis.

“Pada salah satu Mu’tamar Aisyiyah telah diputuskan supaya diadakan Sekolah Frobel (Frobelschool). Putusan tsb dilaksanakan sekitar th. 1924 oleh ibu Aisyiyah di Kampung Kauman, Yogyakarta dan diberi nama “Bustanul Athfal Aisyiyah,” tulis HMh Mawardi dalam artikel, “Perkembangan Perguruan Muhammadiyah” (Suara Muhammadiyah, no. 11/Th ke-58/1978). Sumber majalah Taman Nasjiah menyebutkan bahwa pada tahun 1929, pada masa kepemimpinan St. Zoechrijah, SPW diganti menjadi Nasyi’atul ‘Aisyiyah. Nama ini jelas mengisyaratkan mode perkaderan ‘Aisyiyah.

Konsekuensi dari kebijakan organisasi (keputusan kongres 1924), pengelolaan TK ABA tidak lagi oleh Nasyiatul Aisyiyah, tetapi langsung di bawah Bagian ‘Aisyiyah Oeroesan Madrasah. Sedangkan Nasyiatul Aisyiyah sendiri menjadi salah satu Oeroesan dalam struktur Bagian Aisyiyah. “Dalam pimpinan sdr St Zam’ah, ada perobahan jalah Boestanoel Athfaal soedah ta’ mendjadi oeroesannja NA lagi, karena menoeroet kepoetoesan ‘Aisjijah Boestanoel Athfaal itoe haroes diserahkan kepada Oeroesan Madrasah,”tulis “Tante Wee” (Taman Nasjiahno. 3, Th. II, September 1940).

Seabad TK ABA (1919-2019): Pelayanan Pendidikan Anak Usia Pra-Sekolah

Seabad TK ABA (1919-2019) adalah proses yang sangat panjang bagi sebuah institusi pendidikan di tanah air. Apalagi, institusi pendidikan yang dikelola Aisyiyah ini adalah pendidikan anak usia pra sekolah. Hingga kini, belum ditemukan lembaga pendidikan anak usia pra sekolah yang mampu bertahan selama seabad selain TK ABA.

TK yang diinisiasi dan digerakkan oleh organisasi perempuan sayap Muhammadiyah ini lahir sebagai upaya penguatan terhadap konsepsi keluarga dan perlindungan anak (generasi penerus) yang menjadi anti-thesa gerakan Feminisme dan Neo-Feminisme yang berkembang di Eropa pada 1914-1918 (Ny. Sri Mangoensarkoro (1940).

Pemikiran (ideologi) yang melatarbelakangi berdirinya ‘Aisyiyah, pandangan dan sikap terhadap institusi keluarga, serta upaya menyiapkan generasi penerus yang berkualitas lewat pendidikan anak telah membedakan organisasi sayap perempuan Muhammadiyah ini berbeda dengan aliran Feminisme dan Neo-Feminisme.

Dengan perluasan dan pertumbuhan gerakan ‘Aisyiyah—juga Nasyiatul Aisyiyah—TK ABA menyebar ke seluruh pelosok tanah air, memberikan pendidikan bagi generasi muda untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Proses pertumbuhan TK ABA yang kini telah mencapai usia seabad layaknya proses ‘mendulang generasi emas’ yang telah berhasil nyata. Seperti kisah Achmad Zaky, CEO BUKALAPAK, ia adalah salah satu dari ribuan butir-butir emas hasil pendulangan Aisyiyah ketika mendidik generasi muda Indonesia selama 100 tahun.

*) Pengkaji sejarah Muhammadiyah-‘Aisyiyah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here