Sebatas Kemampuan

0
256
Ilustrasi diambil dari mama.ua

KLIKMU.CO

Oleh Rhadiesty Megha Putri*)

“Yang patah tumbuh, yang hilang berganti. Yang hancur lebur akan terobati. Yang sia-sia akan jadi makna. Yang terus berulang suatu saat henti. Yang pernah jatuh kan berdiri lagi.” Penggalan lirik lagu Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti oleh Banda Neira, Grup duo volk Indonesia dengan nama yang dikenal sebagai salah satu dari enam pulau di Kepulauan Banda, dalam tatanan geografis Maluku Tengah. Di sini Saya tidak hendak mengajak pembaca untuk menghafal lirik lagu tersebut. Penggalan lirik lagu tersebut hanyalah kumpulan kata yang mewakili pembahasan yang ingin Saya angkat kali ini.

Berbicara tentang kehidupan memang tak ada habisnya. Ada saja hal yang bisa dibahas. Hal itu hadir atas banyaknya perbedaan yang Allah ciptakan dalam kehidupan ini. Awalnya, ketika Kita belum memahami hakikat kesabaran, Kita akan cenderung marah, menyalahkan, egois, merasa paling benar, dan berbagai sifat sombong lainnya. Kadang Kita merasa Allah swt. tak adil dengan Kita. Kadang Kita juga bertanya-tanya dimana letak salah Kita. Bahkan Kita cenderung membandingkan kehidupan Kita dengan kehidupan orang lain. Ya begitulah manusia itu.

Daí kondang Indonesia, Ustadz Khalid Basalamah menitikberatkan dalam ceramahnya di Youtube yang berjudul Masih belum percaya Allah Maha Adil, Simak Kisah ini bahwa Allah yang Maha Tinggi dan Maha Pemurah, selalu mengawasi Kita dengan keadilan-Nya, dengan keluasan Ilmu-Nya. Hukumannya memang benar akan datang kepada pelanggar. Perlindungan-Nya memang datang kepada yang terdzlimi. Pasti.” Dalam ceramahnya, mengisahkan Nabi Musa as. pernah satu waktu berkata kepada Jibril bahwa Ia ingin melihat keadilannya Allah swt. Lalu Allah swt. menjawab melalui Jibril bahwa Musa as. adalah manusia yang punya kapasitas dan pasti tak akan mampu sabar melihat keadilannya Allah swt. Musa as. menjawab dengan tauhid-Mu ya Allah, Saya akan mencoba.

Allah swt. pun menyanggupi dan menunjukkan kepada Musa as. satu kejadian saja. Kemudian Allah swt. perintahkan Musa as. untuk pergi melihat dari kejauhan sebuah mata air yang terdapat di tengah padang pasir dan Musa as. hanya melihat, tidak melakukan apapun. Allah swt. memperlihatkan keadaan pertama dimana datanglah seorang laki-laki berkuda yang berhenti di mata air tersebut untuk minum. Ternyata Laki-laki tersebut membawa sekantong uang di pinggang sebelah kirinya dan kantong tersebut jatuh di sisi mata air tanpa disadari. Kemudian laki-laki tersebut pergi.

Keadaan kedua, ada seorang anak belum baligh berumur 9-10 tahun menghampiri mata air tersebut untuk minum. Ia melihat ada kantong berisikan uang. Ia ambil dan dibawanya pergi. Keadaan ketiga, datang orang buta. Orang buta ini mau berwudhu untuk melaksanakan sholat. Bersamaan dengan itu datang laki-laki berkuda yang hendak mencari kantong uangnya yang terjatuh tadi. Karena tidak menemukan, laki-laki berkuda pun menuduh laki-laki buta yang mengambilnya. Sehingga terjadi pertengkaran hingga laki-laki berkuda membunuh laki-laki buta. Melihat kejadian tersebut, Musa as. berdoa: “Ya Allah, Saya tidak sabar dengan kejadian ini.” Jibril kemudian datang dan menyampaikan salam dari Allah swt. dan menjelaskan kejadian yang sebenarnya yang perlu Musa as. ketahui.

Sebenarnya, laki-laki berkuda pernah menjadi majikan dari ayahnya anak kecil tadi. Ayahnya anak kecil itu dulu bekerja kepada laki-laki berkuda namun upahnya selama bekerja tidak diberikan. Subhanallah, upahnya selama bekerja sebanyak jumlah uang yang ada dikantong yang diambil anaknya tadi. Dengan cara-Nya, Allah swt. menyampaikan hak ayahnya kepada anak itu walaupun si anak tak mengetahui bahwa laki-laki berkuda itu yang telah mendzalimi ayahnya. Lalu bagaimana dengan laki-laki yang buta tadi? Karena upah selama bekerja tidak diterimanya, maka ayah anak kecil tadi berhenti dan mencari pekerjaan lain. Karena suatu hal, laki-laki buta yang dulunya tidak buta itu membunuh ayahnya anak kecil tersebut. Atas ijin Allah swt. akhirnya si buta dibunuh oleh penjahat juga. Sedangkan hak ayahnya walaupun sudah meninggal dunia, Allah swt. tetap sampaikan kepada keturunannya.

Allah swt. berfirman:

اِنَّهُمْ يَكِيْدُوْنَ كَيْدًا

“Sungguh, mereka (orang kafir) merencanakan tipu daya yang jahat.”
(QS At-Tariq 86: 15)

Allah swt. berfirman:

وَّاَكِيْدُ كَيْدًا

“dan Aku pun membuat rencana (tipu daya) yang jitu.”
(QS At-Tariq 86: 16)

Kisah tersebut menyadarkan kepada Kita untuk senantiasa berprasangka baik kepada Allah swt. Sebagaimana penggalan lirik lagu Banda Neira bahwa yang patah akan tumbuh, yang hilang akan berganti, yang hancur lebur akan terobati, yang sia-sia akan jadi makna, yang terus berulang suatu saat berhenti dan yang pernah jatuh akan berdiri lagi. Allah swt. dengan ke-Mahaan-Nya telah mengatur semuanya dengan sempurna. Kita hanya diminta untuk sabar menjalani-Nya. Tak ada yang sia-sia selama Kita sudah berada di jalan Allah swt.

Meskipun belum sepenuhnya memahami tentang hakikat kesabaran, melalui kisah tersebut, akankah Kita masih merasa Allah swt. tak adil dengan Kita? Akankah Kita masih membandingkan kehidupan Kita dengan kehidupan orang lain? Akankah Kita masih merasa paling benar dengan sudut pandang Kita? Akankah Kita masih memelihara berbagai sifat sombong lainnya dalam hati Kita? Hanya Allah swt. dengan diri kita sendiri yang tahu jawaban atas pertanyaan tersebut. [*]

*) Penulis adalah Kontributor KLIKMU.CO.

Rhadiesty Megha Putri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here