Sedekah Centelan: Solusi Aisyiyah di Masa Pandemi yang Kian Dibutuhkan Warga

0
174
Potret sedekah centelan Aisyiyah Ranting Sutorejo, Cabang Mulyorejo. (Titin/KLIKMU.CO)

KLIKMU.CO – “Centelan”. Istilah ini merupakan sebuah program dari ibu-ibu Aisyiyah. Kata centelan ini muncul sejak pandemi korona melanda Indonesia, khususnya di Surabaya yang menjadi penyumbang kasus terbesar, sehingga merugikan banyak sektor. Mulai pendidikan, perkantoran, hingga yang paling fatal sektor perekonomian.

Di bidang perekonomian, misalnya, banyak pekerja yang kena pemutusan hubungan kerja (PHK). Lalu, ojol dilarang mengangkut penumpang sehingga penghasilan berkurang. Hal ini berakibat kurangnya pemasukan bagi keluarga yang terdampak.

Melihat permasalahan itu, Aisyiyah merasa turut bertanggung jawab untuk menolong sesama. Aisyiyah Pusat pun langsung menginstruksikan kepada Aisyiyah yang ada di daerah maupun ranting dengan membuat program “Centelan”.

Hal demikian diakui Dra Hj Zaenab Naili, ketua Pimpinan Aisyiyah Cabang Mulyorejo. “Setelah ada instruksi dari pusat, kami langsung bergerak dan turun tangan dalam membantu meringankan beban masyarakat sekitar,” katanya.

Khusus Aisyiyah Cabang Mulyorejo, centelan diletakkan di empat titik, yakni Ranting Mulyorejo, Ranting Sutorejo, Ranting Tempurejo, dan Ranting Kalijudan.

Wanita yang masih kelihatan sehat dan bugar ini menyampaikan, waktu berlangsungnya kegiatan centelah adalah seminggu sekali setiap Jumat, meskipun tidak tertutup kemungkinan bisa di lain waktu atau kondisional.

Contohnya, minggu lalu di Ranting Tempurejo sedekah centelan dilaksanakan pada Sabtu (15/8) karena bekerja sama dengan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya yang sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata ( KKN), tepatnya di RT 01, RW 03.

Lantas, mengapa dinamakan centelan? Hj Zaenab menambahkan, barang yang dibagikan itu dicentelkan dan orang yang membutuhkan akan mengambil sendiri tanpa dilayani oleh panitia seperti halnya kegiatan sosial lainnya. Tempat untuk berbagi pun bisa di mana saja. Yang penting layak dan bisa menjaga keamanan sesuai protokol yang ada.

“Di Ranting Sutorejo bisa berbagi di dekat sungai, di Ranting Kalijudan berbagi di tanah kosong seperti bekas pembuangan sampah. Namun, masyarakat tetap antusias untuk mengambil karena memang mereka sangat membutuhkan,” paparnya.

Hj Zaenab melanjutkan, yang diberikan dalam sedekah centelan ini bukan hanya bahan pangan seperti kegiatan baksos pada umumnya, tetapi lebih lengkap. Ada bahan pangan (sembako), sayur-mayur, bahkan pakaian layak pakai dan juga jilbab. “Awalnya memang hanya sembako dan itu pun hanya sekitar 20-25 bungkus. Tetapi sekarang karena semakin banyak warga sekitar yang bersedekah, centelan semakin meningkat dari waktu ke waktu, yaitu sampai sekitar 50-75 bungkus. Itu merata dari empat ranting di Mulyorejo,” lanjutnya.

“Sesuai dengan tujuan dari gerakan Aisyiyah, yaitu mengajak kebaikan dan mencegah kemunkaran, sedekah centelan ini tidak dikhususkan untuk warga Muhammadiyah saja, melainkan semua yang membutuhkannya karena terdampak kondisi yang ada saat ini,” tandasnya. (Titin/Achmad San)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here