Sejarah Hadirnya Perpustakaan

0
205

 

Oleh: Prof Dr Djoko Saryono MPd

Guru besar sastra Universitas Negeri Malang

KLIKMU.CO

/1/
Marilah sejenak kita ingat kembali keberadaan, kedudukan, dan peranan perpustakaan dalam kebudayaan dan peradaban manusia. Sejarah membuktikan bahwa kemajuan kebudayaan dan peradaban di berbagai belahan dunia dilandasi oleh adanya lembaga pendidikan yang memiliki perpustakaan yang kuat dan terkemuka pada satu sisi dan pada sisi lain adanya tradisi literasi yang kokoh dan terbuka. Demikian juga kemajuan bangsa-bangsa di pelbagai penjuru dunia ditandai oleh kemampuan merespons secara setimpal atas bermacam-macam perubahan yang menyodorkan kebutuhan, tantangan, dan ancaman baru. Kemampuan merespons secara setimpal tersebut berkembang berkat adanya lembaga pendidikan yang memiliki perpustakaan yang sanggup menemukan, mentransformasikan, dan menyebarluaskan pengetahuan, ilmu dan teknologi pada satu pihak dan pada pihak lain berkembangnya tradisi literasi yang mantap.

Sebagai ilustrasi, pada masa lampau, bangsa Sumeria di wilayah Mesopotamia –yang sering dianggap sebagai wilayah lahirnya kebudayaan dan peradaban yang maju pada masanya– mampu membangun kebudayaan dan peradaban yang cemerlang berkat adanya pusat pembelajaran dan tradisi literasi yang mantap. Betapa tidak, pada abad XXX SM, bangsa Sumeria sudah menghasilkan tulisan epik indah berjudul Gilgamesh, yang masih dapat kita nikmati hingga sekarang. Demikian juga bangsa Cina, jauh pada abad-abad sebelum Masehi, sudah memiliki tradisi literasi yang mantap dan menghasilkan berbagai karya tulis yang sanggup melintasi berbagai zaman, misalnya Analecta, Art of War, dan Tao The Ching yang tetap laris dibeli dan dibaca orang sampai sekarang.

Pada kisaran abad-abad kedelapan sampai keenam sebelum Masehi, bangsa India Kuno juga sudah menghasilkan karya langgeng-menggobal Mahabharata, Ramayana, dan Tata Bahasa Panini berkat berkembangnya tradisi literasi dan pusat-pusat pembelajaran. Pada abad-abad Sebelum Masehi, Yunani Kuno sudah menjadi pusat intelektual, pembelajaran, dan literasi yang menghasilkan karya-karya tulis yang bisa dinikmati oleh manusia zaman sekarang. Bahkan Plato, salah seorang pemikir besar Yunani Kuno, sudah mendirikan perguruan tinggi Academia, yang dianggap sebagai universitas pertama di dunia, dengan tradisi simposium [symposium = pesta minum anggur kalangan intelektual aristokratis seraya berdiskursus persoalan tertentu] yang bisa membuahkan bermacam-macam wacana tulis yang dapat kita baca dan menginspirasi hingga sekarang.

Jangan dilupakan pula, Alexandria (Iskandariah), sebuah kota indah di Mesir, pada masa lampau sangat maju dengan perpustakaan yang luar biasa baik dari koleksi pustakanya maupun peran sosiokultural dan epistemik-intelektualnya. Demikian juga kegemilangan dan kejayaan Baghdad pada masa Abbasiyah, yang ditandai oleh kemajuan pengetahuan dan ilmu yang mengagumkan, disokong oleh Perguruan Tinggi Nizamiyah yang memiliki perpustakaan luar biasa, tradisi literasi yang kuat, dan tradisi keilmuan yang terbuka.

Semua ilustrasi tersebut menunjukkan betapa perpustakaan memiliki keberadaan, kedudukan, dan peranan yang fundamental, vital, dan strategis dalam memajukan tradisi intelektual, tradisi keilmuan, dan tradisi literasi. Selanjutnya hal tersebut memajukan kebudayaan dan peradaban berbagai bangsa di dunia.

/2/
Dapat dikatakan bahwa pada permulaan zaman modern sampai pascamodern sekarang tetap tampak kedudukan dan peranan fundamental, vital, dan strategis perpustakaan termasuk perpustakaan lembaga pendidikan bagi kemajuan intelektual, literasi, dan keilmuan, yang selanjutnya mendorong kegemilangan kebudayaan dan peradaban berbagai bangsa. Pada zaman modern, harus diakui, kemajuan bangsa-bangsa Eropa, Amerika, Rusia, dan Cina ditopang oleh tradisi literasi, intelektual, dan keilmuan di lembaga pendidikan dan masyarakat pada satu sisi dan pada sisi lain disangga oleh keberadaan, kedudukan, dan peranan perpustakaan yang begitu berarti di lembaga pendidikan dan masyarakat.

Tentu kita ingat bahwa Renaisans yang dimulai di Prancis dan Aufklarung (Pencerahan) yang dimulai di Italia, yang kemudian mampu membebaskan seluruh Eropa dari Abad Kegelapan, disangga oleh kasmaran dan kegandrungan intelektual, literasi, dan keilmuan yang diwadahi lembaga pendidikan, pembelajaran, dan perpustakaan. Universitas Cambridge, Universitas Oxford, dan Universitas Leiden beserta perpustakaan masing-masing yang sangat representatif dan signifikan, menjadi pusat intelektual, literasi, dan keilmuan yang membawa kemajuan dan keunggulan bangsa Eropa.

Demikian juga Harvard University, Stanford University, dan Massachusetts Institute of Technology beserta perpustakaan masing-masing pada satu sisi dan pada sisi lain Congress Library telah menjadi pusat intelektual, literasi, dan keilmuan sekaligus lambang kemajuan dan keunggulan Amerika dalam berbagai bidang kehidupan, mulai bidang ilmu, teknologi maupun ekonomi dan militer. Perguruan tinggi di Rusia yang memiliki perpustakaan representatif juga menjadi pusat intelektual, literasi, dan keilmuan, yang selanjutnya membawa kemajuan dan keunggulan Rusia. Perguruan tinggi di Cina beserta perpustakaan masing-masing yang sangat representatif dan mutakhir telah menjadi tonggak intelektual, literasi, dan keilmuan. Ini semua menunjukkan, perguruan tinggi beserta perpustakaan masing-masing yang representatif dan memiliki vitalitas menjadi sumbu dan hulu kemajuan dan kejayaan berbagai bangsa di dunia.

Sebab itu, dapat dibilang, kemajuan dan kejayaan suatu bangsa didasari oleh adanya tradisi intelektual, literasi, dan keilmuan yang baik dan mantap. Pada umumnya tradisi tersebut ditumbuhkembangkan di lembaga pendidikan beserta perpustakaan masing-masing yang representatif dan inklusif serta mampu membentuk komunitas epistemik yang tangguh. Di sinilah keberadaan, kedudukan, dan peranan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar, intelektual, literasi, dan keilmuan demikian fundamental, vital, dan strategis. Untuk itu, perpustakaan lembaga pendidikan perlu ditempatkan sebagai fundamen pokok bangunan lembaga pendidikan satu sisi dan pada sisi lain harus difungsikan sebagai pusat sumber belajar, intelektual, literasi, dan keilmuan sedemikian rupa. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here