Sejarah PAM Medokan Ayu: Awalnya Panti Umum, Kini Berubah Jadi Panti Bayi

0
104
Kegiatan hafalan surah-surah pendek juz 30 santri binaan Panti Asuhan Muhammadiyah Medokan Ayu atau yang lebih dikenal dengan panti bayi. (Yuda/KLIKMU.CO)

KLIKMU.CO – Tahun 2010 Prof Dr Ir Triwulan, dosen ITS, mewakafkan tanah seluas kurang lebih 418 m² beserta bangunannya kepada Persyarikatan Muhammadiyah. Secara formal, Panti Asuhan Muhammadiyah (PAM) Medokan Ayu berdiri pada 22 Juli 201.

Terbentuk pula struktur kepengurusan panti dengan Suprapto sebagai kepala panti asuhan, Imam Syafii sebagai sekretaris, Sidiq Mustafa sebagai bendahara, dan Habibullah sebagai kepala kepengasuhan/kepala asrama.

Kepada KLIKMU.CO, Kepala Panti Suprapto menyatakan, Panti Asuhan Muhammadiyah Medokan Ayu saat awal berdiri masih dikategorikan sebagai panti umum. Pihaknya tidak membatasi anak yang diasuhnya. Namun, seiring berjalannya waktu, panti lebih difokuskan pada pengasuhan bayi atau balita dengan pertimbangan banyak balita yang ditelantarkan keluarganya karena impitan ekonomi sehingga tidak mampu merawat anak mereka.

Apalagi, lanjut dia, saat itu masih jarang ada panti yang fokus mengasuh balita.

“Sampai saat ini sebanyak 42 anak asuh tinggal di panti ini dengan perincian 6 anak telah duduk di bangku SMA, 4 anak asuh tengah menjalani pendidikan di SMP, 16 anak duduk di bangku SD, 10 anak masih TK atau play group, sisanya masih balita. Bahkan ada juga 2 anak asuh yang dikuliahkan,” papar Suprapto, Selasa (10/11/2020).

Dia menjelaskan, program kegiatan anak asuh meliputi bina iman dan taqwa (shalat berjamaah, puasa sunah, pengajian rutin, shalat lail, dll), kegiatan di bulan Ramadhan, wisata rohani/outbound, pelatihan keterampilan, life skill, dan kewirausahaan, dan sebagainya.

Suprapto juga mengatakan, ada beberapa permasalahan di panti. Misalnya, masih diperlukannya perluasan gedung karena semakin meningkatnya jumlah anak panti. Ruang perpustakaan dan ruang bermain yang memadai untuk anak balita pun belum ada.

“Selain itu, ada beberapa kendala seperti balita yang alergi susu sehingga mengonsumsi susu soya perlu adaptasi 1 hingga 2 tahun untuk kembali ke susu formula. Lalu, kekurangan konsultan kesehatan atau psikologi untuk mengetahui karakter bermacam-macam anak asuhnya,” ungkap Suprapto. (Yuda/Red/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here