Selamatkan Anak Didik dari Ancaman Generasi yang Hilang

0
108
Ilustrasi Kompas.com

Oleh Achmad Santoso MPd, editor Klikmu.co, pemerhati pendidikan

KLIKMU.CO

Setahun sudah pandemi Covid-19 menghembalang Indonesia sejak kasus pertama ditemukan awal Maret tahun lalu. Kurang lebih setahun pula para siswa harus belajar dari rumah yang kelak kita sebut sebagai pembelajaran jarak jauh (PJJ). Kabar baiknya, vaksinasi bagi tenaga pendidik dan kependidikan mulai berjalan dan pemerintah berharap Juli sudah bisa pembelajaran tatap muka. ”Targetnya, pada Juni nanti 5 juta guru selesai divaksin,” kata Jokowi saat meninjau vaksinasi perdana bagi guru di SMA Negeri 70 Jakarta (24/2/2021). Kabar buruknya, pandemi yang berkepanjangan telah membuat sejumlah siswa mengalami apa yang disebut sebagai learning lost: kehilangan kemampuan dan pengalaman belajar pada siswa.

Hal itu diakui oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kemendikbud Totok Suprayitno dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan Komisi X DPR pada 21 Januari 2021. Indikatornya dapat diamati dari hilangnya pengalaman dan kemampuan belajar sebagian besar peserta didik. ”Tanda-tanda learning lost sudah mulai tampak meskipun ini baru hasil analisis guru berdasarkan asesmen diagnostiknya,” kata Totok.

Temuan itu menunjukkan bahwa lebih dari separuh alias 50 persen peserta didik tidak memenuhi standar kompetensi. Artinya, ketuntasan pembelajaran tidak pernah tercapai. Oleh karena itu, kita semua, insan-insan dunia pendidikan, wajib mewaspadai dan terlebih mengantisipasi gejala learning lost ini. Sebab, jika mereka tidak dapat tumbuh kembang dengan baik, ancamannya bisa lebih mengerikan: menjadi bagian dari generasi yang hilang (lost generation).

Gejala Cabin Fever
Pandemi belum usai, waspadai dampak psikologis anak. Pandemi yang telah berjalan setahun memang memberikan kejenuhan akut bagi segala lini kehidupan berikut para pelakunya. Di dunia pendidikan, jangankan siswa, guru saja pasti juga boring ketika harus terus-menerus beraktivitas dari rumah. Padahal, biasanya aktivitas mereka cukup padat di sekolah. Tak hanya mengajar, tapi juga mengurusi hal-hal lain yang berkaitan dengan tugas-tugas produktif sekolah.

Setali tiga uang, anak yang biasanya belajar sambil bermain dengan gembira ria di sekolah bersama teman-temannya setahun belakangan ini mesti menerima kenyataan pahit bahwa mereka harus belajar dari rumah. Jika sekolah yang bersangkutan tidak pintar-pintar menawarkan upaya kreatif dalam pembelajaran, si anak akan semakin jenuh belajar, yang pada akhirnya bisa terjerumus ke dalam gejala learning lost tadi.
Dalam ilmu psikologi, gambaran itu disebut sebagai cabin fever.

Dikutip dari laman Alodokter, cabin fever adalah istilah untuk menggambarkan sejumlah perasaan negatif akibat terlalu lama terisolasi di dalam rumah atau tempat tertentu. Tak hanya jenuh, orang yang mengalami cabin fever juga bakal merasakan sedih, gelisah, mudah tersinggung, dan beragam perasaan negatif lainnya. Pasalnya, mereka terlalu lama berada di suatu tempat dan terisolasi dari lingkungan sekitar.

Cabin fever rentan terjadi kepada orang-orang yang berada di tempat perlindungan saat terjadi sebuah bencana. Juga kepada orang-orang yang menjalani karantina akibat terjadi pandemi atau wabah seperti Covid-19 ini. Tak terkecuali terhadap anak-anak yang terkurung di rumah selama setahun. Masih dilansir dari Alodokter, guru dan orang tua mesti melihat apakah gejala cabin fever berikut ini sudah tampak pada diri ananda.

Pertama, merasa sangat sedih, gelisah (agitasi), dan putus asa. Kedua, lemas atau kurang energi. Ketiga, gampang marah dan tersinggung. Keempat, sulit berkonsentrasi atau berpikir. Kelima, mengalami gangguan tidur seperti sulit tidur atau terjaga terlalu dini. Keenam, menjadi tidak sabaran. Ketujuh, kehilangan ketertarikan dan motivasi terhadap segala hal. Kedelapan, kerap mengidam makanan atau, sebaliknya, justru tidak nafsu makan. Kesembilan, mengalami kenaikan atau penurunan berat badan. Kesepuluh, sulit percaya kepada orang-orang di sekitarnya. Kesebelas, tidak mampu mengendalikan emosi dan stres.

Hilangnya pengalaman dan kemampuan belajar siswa amat mungkin dipengaruhi oleh sejumlah gejala cabin fever di atas. Yang paling berpengaruh adalah sulitnya konsentrasi/berpikir serta kehilangan ketertarikan dan movitasi terhadap suatu hal, salah satunya belajar. Sebab, menurut Nana Sudjana dalam bukunya, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar (2000), belajar pada hakikatnya merupakan suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara holistik sebagai hasil pengalaman individu yang bersangkutan. Hal itu diamini oleh Oemar Hamalik bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif mantap berkat latihan dan pengalaman (Proses Belajar Mengajar, 2004).

Kata kuncinya adalah: pengalaman. Kondisi cabin fever bakal memperparah kemampuan siswa dalam memperoleh pengalaman. Interaksi dengan guru, kolaborasi dengan teman, dan pengalaman menarik lainnya yang bersifat langsung tidak mereka dapatkan. Ada yang hilang. Ada yang hampa. Kecanggihan teknologi memang tidak selalu dapat menggantikan segala yang berbasis pengalaman itu, untuk tidak mengatakan malah merenggutnya. Tidak guru, tidak pula murid.

Fenomena Learning Lost
Jika tak ada aral, vaksinasi terhadap pendidik dan tenaga kependidikan rampung Juni mendatang. Dengan begitu, presiden berharap Juli bisa sekolah tatap muka. Masih ada waktu tiga bulan lagi yang mungkin bakal serasa tiga tahun lamanya dalam masa penantian. Kalaupun vaksinasi sudah selesai, dan pembelajaran tatap muka mulai berjalan, protokol kesehatan tentu tetap wajib diindahkan.

Tentu kabar ini cukup bikin bungah siswa, orang tua, maupun guru. Pembelajaran tatap muka bak oase di padang pasir. Mendikbud sendiri juga mengakui bahwa satu-satunya jalan untuk meminimalkan learning lost adalah pembelajaran tatap muka. ”Langkah pertama yang sangat penting bagi sekolah yang sulit melakukan PJJ (adalah) harus masuk. Tatap muka lagi adalah satu-satunya solusi biar mereka tidak mengalami ketertinggalan yang berlebih,” tegas Nadiem Makarim dalam diskusi bertajuk Merdeka Belajar, Transformasi Pendidikan Indonesia pada 22 Januari 2021.

Dan, tidak hanya sekolah yang mengalami kesulitan dalam pelaksanaan PJJ. Sekolah yang lancar PJJ pun turut merasakan dampak tidak baiknya akibat berlama-lama belajar dari rumah. Namun, bagi pengamat pendidikan Indra Charismiadji, learning lost sebetulnya telah lama terjadi, bahkan jauh sebelum pandemi Covid-19 melumat negeri ini.

”Cuma, selama ini nggak kelihatan karena semuanya terjadi di sekolah dan itu tertutupi dengan ilusi mungkin dengan anak nilainya bagus, ikut bimbel. Jadi, seakan-akan anak-anak kita belajarnya bagus,” ujarnya dikutip dari IDN Times (29/1/2021). ”Jadi, problem besarnya bukan PJJ-nya, bukan tidak tetap mukanya, tetapi pada dasarnya mutu pendidikan kita sudah buruk,” lanjutnya.

Jadi, jika sebelum pembelajaran jarak jauh saja fenomena learning lost sudah diungkap, apalagi dalam kondisi sekolah daring begini. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang perlu dilakukan demi mencegah learning lost yang berlarut-larut sembari menunggu aktifnya pembelajaran tatap muka.

Misalnya yang diungkap oleh Universitas Borneo Tarakan yang bekerja sama dengan Lembaga Anak Sekolah Indonesia. Diskusi yang berlangsung pada 11 Februari 2021 tersebut melibatkan para akademisi, jurnalis, kepala sekolah, hingga guru. Ada enam hal yang dapat mencegah risiko learning lost, yakni penggunaan kurikulum darurat, asesmen siswa, pembelajaran terdiferensiasi, pelatihan guru, pendampingan guru, serta partisipasi masyarakat.

”Sebagai langkah kunci mengantisipasi kerugian lebih besar akibat learning lost, seluruh rekomendasi ini akan kami teruskan kepada Kemendikbud, Kemenag, pemerintah daerah, LPTK, dan masyarakat,” ujar Dekan FKIP Universitas Borneo Tarakan Dr Suyadi MEd dilansir dari laman Detik, 25 Februari 2021.

Nah, pembukaan sekolah yang direncanakan Juli mendatang harus diikuti dengan upaya pemulihan kemampuan belajar siswa. Dengan begitu, peserta didik bisa mengejar dampak dari ketertinggalan selama belajar dalam kondisi darurat. Salah satunya dengan mengupayakan kurikulum darurat yang fokus meningkatkan kompetensi literasi dan numerasi.

Pada akhirnya, selalu ada berkah yang tersembunyi. Pandemi ini turut mewarnai dunia pendidikan kita di Indonesia. Dari PJJ-lah guru lebih melek digital. Begitu pula murid dan orang tua. Harapannya, ketika pembelajaran tatap muka kelak, belajar pengalaman langsung yang dipadukan dengan pendayagunaan teknologi informasi akan melahirkan pola belajar baru yang lebih maju. Semoga… (*)

Tulisan ini pernah terbit di majalah Arba’a edisi ke-56 dengan judul “Selamatkan Ananda dari Learning Lost dan Cabin Fever”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here