Sepatu Adidas dari Pelajar Arab

0
246
Foto istimewa

Oleh: Haidir Fitra Siagian

KLIKMU.CO

Masih ingat cerita saya beberapa waktu yang lalu tentang sepatu untuk muslim Gambia? Saat itu, ada pengumpulan sepatu bekas layak pakai untuk dikontainerkan lalu dibawa ke Gambia. Sebuah negara miskin di Afrika Tengah.

Kami sekeluarga ikut mengantarkan sekitar lima belas pasang sepatu yang masih layak pakai. Bahkan ada sepatu baru dan mahal harganya. Kami sengaja berikan sepatu-sepatu tersebut karena sudah cukup lama tak dipakai dengan berbagai alasan. Ada yang kekecilan, ada yang kebesaran, ada pula yang tidak sesuai dengan kami.

Sesungguhnya apa yang kita berikan kepada orang lain, tentu Allah Swt akan menggantinya dengan yang lebih baik. Jika tidak di dunia ini, kita yakin akan mendapat gantinya di akhirat kelak. Itu adalah satu keyakinan yang tak bisa ditawar-tawar bagi orang-orang yang mengetahui.

Jika Allah Swt akan menggantinya di dunia ini, dengan berbagai cara pula. Apakah dengan benda yang sama atau sejenis, maupun dengan rezeki yang lain. Yang kadang kita tidak pernah duga. Ketika kita mendapatkan suatu rezeki, maka kita harus bersyukur. Kesyukuran itu menunjukkan bahwa kita adalah orang-orang yang beriman.

Sekitar satu minggu lalu, saya bertemu dengan seorang pelajar dari Arab Saudi mushalla MAWU UoW. Dia merupakan kandidat doktor dalam bidang teknik informatika di University of Wollongong Australia. Kami diskusi tentang berbagai hal. Meskipun bahasa Inggris saya tidak begitu fasih, dia memahami apa yang saya bilang. Saya pun memahami apa yang dia bilang, meski beberapa kalimat saya kurang paham.

Sebelum kami berpisah, kami saling bertukar nomor handphone. Dia sempat mengantar saya pulang ke rumah dengan menggunakan mobil sedannya. Sudah bilang, saya jalan kaki saja, karena jarak ke rumah tidak begitu jauh. Tapi dia bilang, ayolah, ikut saya, nanti saya antar. Padahal jarak dari mushalla ke tempat parkirnya, cukup jauh, lebih jauh daripada ke rumah.

Tapi karena ingin menghargainya, saya ikut saja. Di sini, tidak boleh parkir sembarangan. Hanya di tempat-termpat tertentu saja yang boleh parkir. Itupun ada yang membayar,  ada juga yang gratis. Di Uow, selama Covid-19 mewabah, parkirnya gratis. Sejak Maret 2011 ini, covid sudah reda, kembali lagi membayar parkir. Biaya parkir di sini rata-rata $2,5 per jam. Atau sekitar dua puluh lima ribu rupiah. Ada juga parkir berlanggganan, sekitar enam juta Rupiah per tahun.

Dalam perjalanan dari tempat parkir ke rumah kami sempat lagi cerita. Pas depan rumah, dia hentikan sedannya dan saya pun turun. Sebelum dia melaju, dia sempat mengatakan, maukah saya menerima hadiah darinya? Tentu, saya bilang. Dan kami pun berpisah.

Usai salat Jumat kemarin, beliau menelepon saya. Haidir tolong tunggu saya di depan Graduate House, saya mau ke situ sekarang, katanya dari balik telepon genggamnya. Saya pun segera menuju tempat dia menunggu.

Begitu saya jalan mencari mobilnya, dia keluar dari sedan camry putih. Sambik menenteng tas, dia berjalan ke arahku. Ini untukmu, katanya, sambil menyerahkan bungkusannya. Saya terima dan ajak mampir ke rumah. Tak sempat, karena dia masih mau ke kampus.

Saya pun masuk ke rumah dan membuka bungkusannya. Ternyata sepasang sepatu adidas. Persis ukurannya untuk saya. Alhamdulillah. Iseng-iseng, nyonya coba cek harganya melalui internet, harganya cukup mahal untuk ukuran saya, dan mungkin murah untuk ukurannya. Bisa-bisa harganya setara dengan gaji saya satu bulan di Indonesia.

Dan saya baru sadar bahwa sepatu yang beberapa minggu lalu saya sumbangkan untuk rakyat Gambia, hari ini sudah tuntas. Melalui seorang warga Arab Saudi, memberikan hadiah sepatu yang lebih baik dan, sedikit lebih millenial. Wallahualam.

Wassalam

Gwynneville, 20/3/2021 bakda Jumat

Haidir Fitra Siagian adalah dosen UIN Alauddin Makassar, aktivis Muhammadiyah, saat ini sedang bermukim di Australia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here