Konsultasi Kesehatan #5: Sering Uring-uringan, Mengapa?

0
498
Ilustrasi diambil dari manofmany.com.

KLIKMU.CO

Pertanyaan:

Assalamualikum w. w.
Pengasuh Konkes KLIKMU.CO yang dirahmati Allah. Saya seorang gadis pembaca setia KLIKMU.CO. Beberapa bulan belakangan ini, Ayah saya sering uring-uringan dan gampang tersinggung dan kita sekeluarga jadi ikut-ikutan emosi. Beliau menjadi gampang lupa dengan apa yang baru saja terjadi, tapi hapal sekali dengan apa yang dialami saat perang kemerdekaan dulu. Oh iya, usia Ayah saya 75 tahun. Sebenarnya, apa yang dialami Ayah saya Dok, bisakah disembuhkan? Kalau tidak bisa, apa yang harus dilakukan supaya tidak bertambah parah? Terima kasih.
(aura_farah@yahoo.com)

Jawaban:

Waalaikumus salam w. w.
Dik Aura yang baik pembaca setia KLIKMU.CO. Dari keluhan yang Adik sampaikan, sepertinya Ayah sudah mengalami kepikunan. Dalam bahasa medis sering disebut dengan Dimensia. Dimensia atau kepikunan merupakan keadaan yang meliputi perubahan jumlah, struktur, dan fungsi neuron di daerah tertentu dari otak. Penyebab hal ini belum diketahui dengan pasti, namun kemungkinan disebabkan oleh adanya faktor genetik, radikal bebas, dll. Pada dasarnya, dimensia merupakan suatu sindrom penurunan kemampuan intelektual secara progresif karena merosotnya fungsi kognitif. Akibatnya, terjadi gangguan terhadap fungsi sosial, pekerjaan, dan aktivitas sehari-hari.

Dimensia dibagi menjadi dua. Ada tipe Dimensia Alzheimer dan Dimensia Vaskuler. Pada tipe pertama, sel neuron di otak akan mati secara perlahan, dan penyakit ini bersifat progresif alias bertambah berat. Sedangkan dimensia vaskuler bisa disebabkan stroke, trauma, atau radang otak. Dimensia Azheimer dikategorikan sebagai penyakit degeneratif otak progresif yang mematikan sel-sel otak sehingga mengakibatkan menurunnya daya ingat, kemampuan berpikir, dan perubahan perilaku. Dimensia Alzheimer dapat dipicu berbagai hal, antara lain penyakit jantung, paru-paru, ginjal, gangguan darah, infeksi, gangguan nutrisi, berbagai keadaan keracunan, serta kelainan otak primer seperti stroke, infeksi, dan proses degenerasi (penuaan).

Kegagalan mendiagnosis penyakit ini secara dini dapat mengakibatkan penanganan yang tidak tepat serta memberikan beban tambahan, mulai dari ekonomi, sosial, dan emosi. Tidak hanya bagi penderitanya, tetapi juga keluarganya. Kenali gejalanya sebelum terlambat, ada baiknya kita mewaspadai penyakit ini melalui beberapa gejala dini yang mudah dikenali.
Antara lain gangguan terhadap memori yang memengaruhi ketrampilan dalam bekerja, serta kesulitan melakukan tugas yang biasa dilakukan, begitu pula dalam berbahasa. Selain itu, muncul gangguan dalam pengenalan waktu dan tempat, kesulitan mengambil keputusan yang tepat, dan sulit berpikir abstrak. Juga kerap salah dalam meletakkan barang, perubahan mood dan tingkah laku, kepribadian yang berubah, serta kehilangan inisiatif.

Semakin uzur seseorang, semakin berpotensi pula mengalami dimensia. Diprediksi 1-1,5% manusia berusia 60-65 tahun dimungkinkan menderita Dimensia. Sementara pada usia 80 tahun, kemungkinannya lebih tinggi, yakni 20-30 persen. Salah satu aspek yang memegang peranan penting dalam penanganan Dimensia adalah perawatan pasien.

Merawat penderita Dimensia tidak mudah, tetapi bisa dilakukan. Pemahaman yang cukup tentang penyakit ini, kesiapan mental, dan motivasi untuk berbagi merupakan modal utama dalam memberikan asuhan. Kasih sayang dan perhatian merupakan pintu masuk untuk memberikan asuhan yang utuh dan menyeluruh sehingga penderita Dimensia merasa aman dan nyaman. Tujuan utama penanganan Dimensia adalah agar penderita dapat mengoptimalkan kemampuan yang masih ada serta memperbaiki kualitas hidupnya. Segala upaya yang dilakukan, tidak lain untuk menunda progresi kemunduran daya ingat.

Penanganan Dimensia dapat dilakukan melalui pendekatan nonfarmakologis (psikososial) maupun terapi farmakologis.
Pendekatan nonfarmakologis merupakan pendekatan lini pertama pada pasien Dimensia ringan sampai sedang. Dalam pendekatan nonfarmakologis, diperlukan intervensi lingkungan, perilaku, dan keluarga. Selain itu untuk menunda kemunduran kognitif, penderita Dimensia harus menjalankan pola perilaku sehat dan stimulasi otak sedini mungkin.

Sementara terapi farmakologis dilakukan setelah pendekatan nonfarmakologis tidak memberikan hasil optimal. Umumnya, terapi farmakologis diberikan sesuai target gejala yang menjadi sasaran obat, yakni antipsikotik, antidepresan, antiansietas, mood stabilizer, dan hipnotik sedatif. Penanganan Dimensia, menurut panduan American Academy of Neurology (AAN), biasanya menggunakan obat asetilkolinesterase inhibitor, vitamin, dan antioksidan.

Berikut ini beberapa tips yang bisa kita praktekkan untuk mengatasi dan mencegah kepikunan.

Aktifkan Otak Kita dengan Mengkaji Alquran
a. Belajar adalah kegiatan yang membuat otak menjadi aktif. Tumbuhkan semangat belajar agar otak aktif untuk berpikir atau mengolah data. Membaca dan mengkaji Alquran sangat baik dilakukan, Alquran adalah wahyu Allah SWT yang menenangkan jiwa, meningkatkan keimanan dan menyeimbangkan nisbah keseimbangan hidup manusia.

b. Hafalan Ayat-Ayat Pendek
Pikun (Dimensia) merupakan menurunnya daya ingat. Dengan melakukan hafalan ayat-ayat pendek dapat merangsang otak untuk memperpanjang ingatan. Ulanglah hafalan Alquran dalam hati hal ini ditujukan agar Alquran meresap di qolbu dan menjaga keseimbangan daya ingat kita.

c. Dzikir Sebagai Pusat Kegiatan dan Konsentrasi
Konsentrasi adalah tiangnya daya ingat. Untuk melatih konsentrasi intensifkan dzikir sehingga kemampuan otak kita stabil. Selain memusatkan konsentrasi kita, perlu juga olah fisik yang melibatkan konsentrasi seperti Sholat yang khusyuk, dianjurkan untuk Sholat Malam ketika hening.

d. Mencurahkan Opini dan Bersosialisasi
Opini atau pendapat adalah hasil dari pembelajaran yang kita terima. Silakan berpendapat, berdiskusi agar pemikiran kita dan apa yang kita pelajari ada hasil yang baik. Ikuti pengajian rutin yang biasa diadakan di lingkukan tempat tinggal kita.

e. Rekreasi dan Senam Otak
Refreshing, jalan-jalan pagi hari, tamasya ke daerah pegunungan baik untuk membantu tubuh untuk tenang dan nyaman.
Demikian jawaban saya, semoga bermanfaat. Semoga jawaban ini membantu Adik dan Pembaca klikmu.co yang lain. Aamiin.
Wassalamualaikum w. w.

dr. H. Tjatur Prijambodo, MARS
Pengasuh Rubrik Konsultasi Kesehatan KLIKMU.CO.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here