Seruan Nabi Bukan Merevolusi Akhlak, tapi Menyempurnakan Akhlak

0
99
Foto pribadi

Oleh: Nurbani Yusuf

KLIKMU.CO

Rasulullah saw, kakek buyut para Habib, Sayyid, dan Syarif, diutus untuk menyempurnakan akhlak. Pada dirinya terdapat akhlak yang luhur sebagai sebab diutusnya untuk menyempurnakan akhlak, bukan merevolusi. Rasulullah saw dihiasi dengan akhlak terpuji sebagai bekal sebelum memperbaiki yang lain.

Indahkan lisanmu, perbaiki chatmu, rendahkan suaramu, atur sikapmu, dan buktikan hidupmu tak butuh dunia dengan tidak mengumpulkan harta dan deret kesenangan, baru kami akan mengikut.

Ketika sahabat bertanya, apakah akhlak Rasulullah itu? Aisyah ra menjawab: Al-Qur’an.
Jadi Nabi saw adalah interpretasi firman Allah. Manusia agung. Manusia luhur. Manusia berbudi. Terus berdakwah bukan karena menginginkan kekuasaan atau sejumput penghargaan seperti yang pernah ditawarkan Abu Lahab dan Abu Jahal, tapi karena akhlak luhurnya. Lisannya dan peri hidupnya adalah teladan, termasuk kehidupan rumah tangga dan track record asmaranya.

Tak ada kabar mesum dalam muamalah Nabi saw, sehingga tetap terpercaya dan tinggi marwahnya. Tidak pernah ada kabar dusta tentang Nabi saw. Sebab sepanjang hidupnya Nabi saw tak pernah berdusta. Karena itu beliau diberi gelar Al Amien bahkan oleh musuh yang paling membencinya. Jadi tak ada celah dalam diri Nabi saw itu.

Rasulullah saw adalah manusia ideal yang digambarkan dalam Al-Qur’an. Manusia tanpa cela. Manusia tanpa cacat. Dan dijaga dari kesalahan. Jadi Rasulullah saw tak pernah salah. Ucapan, tindakan, dan diamnya adalah sunah.

Rasulullah saw itu ganteng dan siapapun yang memandang akan tertunduk, bukan sebaliknya. Badannya sedap dipandang, wajahnya bersinar, tutur katanya lembut, tidak suka pidato, bicaranya ringkas dan efisien, di rumahnya hanya ada sebuah nampan dan tidur di atas pelepah kurma.

Beliau saw tidak makan sebelum lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. Tidak pernah menyimpan apalagi ada sisa makanan. Tak ada kendaraan atau baju mewah. Semua hal-hal baik terkumpul dalam diri Rasulullah saw.

Dengan ketinggian budi luhurnya, Rasulullah saw diutus untuk menyempurnakan, bukan merevolusi. Merawat dan memperbaiki yang sudah baik bukan sebaliknya, sikap kerendahhatian, tawaduk, dan lembut, bukan beringas lagi kasar. Rasulullah saw adalah tolok ukur bagi siapapun yang mengaku baik.

Saya percaya, Allah Mahatahu dan siapa pun yang benar-benar ingin berbuat bajik untuk izzul Islam, insya Allah akan dilindungi, dijaga, dan diberkahi, meski tampak tak sedap dipandang. Saya percaya bahwa setiap niat batil pasti binasa, meski dibungkus jubah lapis tujuh. Saya juga percaya menjual diri atau menjual agama sama lacurnya .
Allahumma Shalli ‘Alaihi.

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here