Setiap Orang Islam pada Dasarnya Adalah NU

0
270
Kiai Nurbani Yusuf (foto pribadi)

Oleh: Kiai Nurbani Yusuf

KLIKMU.CO

Ini tesis saya: Setiap orang Islam pada dasarnya adalah NU, sebelum berubah menjadi Muhammadiyah, Al Irsyad, Salafi, atau lainnya. Ini tulisan sudah lama dan saya unggah kembali.

Menjadi NU itu mudah. Cukup dengan membaca ushali sebelum shalat, baca sayidina saat tahiyat, baca qunut saat shalat Subuh, dan yasinan berkumpul bersama tetangga setiap malam Jumat. Hal mana dibilang tidak ada tuntunan dan tertolak karena ada indikasi bidah. Bagi saya, orang-orang NU itu memiliki kesabaran tingkat dewa, apalagi para ulamanya.

Berbagai kritik ditujukan pada tata cara amalan ibadah yang mereka lakukan dengan berbagai stigma, tidak membuat NU melemah. Justru berbalik memperkuat posisi NU sebagai jamiyah yang diterima luas sebagai model mainstream keberagamaan yang kenyal dan dinamis dan diterima semua kalangan dan lapis masyarakat.

Meski dibilang bidah dan tidak dilakukan nabi saw, majelis zikir mereka penuh sesak. Ada puluhan, bahkan ratusan ribu jamaah dalam berbagai majelis. Ironisnya, majelis yang diisukan bidah ini justru mengalahkan majelis-majelis yang mengklaim paling sunah sekalipun. Sebuah paradoks di tengah ambigu. Buah kesabaran NU cukup efektif.

Tidak tanggung-tanggung, ada puluhan bahkan ratusan amalan yang dituduhkan bidah, bahkan sampai pada tahapan musyrik. Tapi mereka tetap bersabar dan istiqamah menjalankan tanpa surut, saya patut puji dengan tulus.

Betapa sepinya Ramadhan tanpa kehadiran masjid-masjid NU yang istiqamah, di mana bacaan Quran, shalawat, dan penanda berbuka dan sahur dikumandangkan riuh penuh girah. Masyarakat antusias menyambut dengan megengan, malem selikuran, malem songo, mbruwah membawa ‘asahan’ berupa nasi dan kue yang dibawa rapi ke masjid dan mushala terdekat sebagai tanda syukur.

Fahri Ali menyebut bahwa NU berhasil membumikan ajaran langit dalam bahasa sehari-hari, sementara Prof Zamakhsyari Dhofier menyatakan bahwa ajaran Islam tumbuh berdampingan seiring sehaluan dengan tradisi. Pada tahap ini telah terjadi islamisasi budaya dan adat yang dilakukan dengan teramat cerdas. Konsep dan strategi dakwah Walisongo menjadi rujukan dan model ideal dalam dakwahnya, imbuhnya dalam sebuah riset tentang adat dan tradisi Islam sebagai media.

NU adalah jamiyah—keseluruhan umat—merepresentasi inklusivitas. Karena sifat gerakannya yang jamiyah, tradisi perbedaan adalah hal biasa. Orang NU biasa berbeda dalam hal cara dan soal-soal teknis. Imam Syafi’i berikhtilaf dengan gurunya Imam Malik sebanyak 5. 679 ikhtilaf dengan watak seperti itu, maka karakter NU adalah terbuka dan toleran pada setiap perbedaan dan ikhtilaf.

Paham keberagamaan NU tidak pernah membuat definisi rigid terhadap hal yang tidak i’tiqadi. Atas dasar itu NU membuka ruang yang luas dan terbuka untuk berkreasi dan cara beribadah secara inovatif terhadap yang bersifat ghairu mahdhah. NU justru kreatif membuat ”bidah sosial” yang membikin cara beragamanya segar dan tidak monoton.

Cara beragama demikian tentu melahirkan sikap inovatif yang sarat spiritualitas, karena menggunakan tradisi dan adat sebagai alat atau media dakwah. Yang oleh sebagian yang lain justru kerap dipertentangkan atau diberi stigma bidah atas dasar tiadanya tuntunan. Hal mana bagi NU tak perlu dalil, sebab ini hanya soal teknis yang tidak bersentuhan dengan ibadah generik yang butuh otentisitas sebagai syarat diterimanya satu amalan.

Atas dasar inilah, setiap orang Islam pada dasarnya adalah NU sebelum ia berubah. NU tidak mengubah, apalagi melawan tradisi yang ada. Sebaliknya menjadikanya sebagai alat atau media bahan dasar membangun peradaban Islam yang kenyal dan fleksibel.

Akhirnya, meskipun telat memberikan tahniah, selamat Harlah Ke-95 NU. Semoga istiqamah memegang keragaman dan kebinekaan.

@nurbaniyusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here