Shalat Gaib Tanda Matinya Hati Nurani DPR

0
130
Para peserta aksi dari IMM melaksanakan shalat Gaib tanda matinya hati nurani DPR. (Nur Anisah/KLIKMU.CO)

KLIKMU.CO – Kamis (8/10/2020) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)  bersama Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) yang terdiri atas Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Kader Hijau Muhammadiyah (KHM), dan Pemuda Muhammadiyah (PM) turut serta menggelar aksi tolak Undang-Undang Cipta Kerja yang disahkan pada 05 Oktober 2020. Keempat AMM ini berada di bawah naungan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya.

Peserta aksi berangkat dari Gedung Dakwah Muhammadiyah Surabaya menuju Gedung Grahadi untuk menyampaikan aspirasi dan pernyataan sikap tentang penolakkaan pengesahan Undang-Undang Cipta Kerja yang dirasa tidak pro-rakyat.

Ketua Umum PC IMM Kota Surabaya Devi Kurniawan menyatakan, IMM sebagai kaum intelektual yang memiliki jiwa cendekiawan berpribadi harus kritis dalam mengawal kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat, menyuarakan kebenaran, dan terus memperjuangkan kepentingan rakyat.  Menurut dia, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang merupakan harapan rakyat dalam menyuarakan aspirasi sudah tidak dapat diandalkan lagi. “DPR tidak lagi memperhatikan kondisi dan aspirasi rakyat, tetapi lebih mementingkan golongan mereka ibarat pertugas partai,” katanya.

“Jikalau kita tidak aksi dan undang-undang ini tetap disahkan, rakyat pun akan tersiksa dan lebih sengsara daripada virus. Sehingga kita IMM Kota Surabaya menyelenggarakan aksi turun jalan bersama AMM Kota Surabaya,” Moh Salim, ketua Bidang Hikmah PC IMM Kota Surabaya sekaligus korlap dalam aksi tersebut.

“Kawan-kawan sudah kita ketahui bersama Indonesia sedang berduka karena virus korona, namun pemerintahan malah asyik mengesahkan UU Cilaka seakan nyawa rakyatnya tidak lebih berharga dari UU Cilaka,” tandasnya.

Pada hari itu juga, semua kalangan mahasiswa dan buruh menyelenggarakan aksi di depan Gedung Grahadi. Sempat terjadi kericuhan di lapangan. Lantas, AMM Kota Surabaya bergerak melaksanakan shalat Ashar di depan Balai Pemuda sekaligus melakukan praktik shalat Gaib yang ditunjukkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia sebagai bentuk kekecewaan atas matinya hati nurani DPR yang  telah mengesahkan Undang-Undang Cipta Kerja.

Situasi di depan Gedung Grahadi semakin buruk sehingga para aparat memukul mundur para demonstran yang ada di depan Gedung Grahadi. Sebagai upaya menghindari kericuhan, peserta aksi dari AMM Kota Surabaya ditarik mundur untuk mengamankan kader yang ikut pada aksi tersebut. “Kami akan melakukan konsolidasi lebih lanjut dengan AMM Kota Surabaya untuk melakukan aksi lanjutan. Karena aksi pada 08 Oktober belum bisa menyampaikan aspirasi di depan Gedung Grahadi yang menjadi tujuan utama kita akibat adanya kericuhan di lapangan,” terang Nur Salim. (Nur Anisah/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here