Siapa Dalang Kerusuhan 21-22 Mei 2019?

0
456
Foto dalam aksi 21-22 Mei 2019 (ANTARA/Nova Wahyudi)

Oleh: Eriton*

KLIKMU.CO – Dalang kerusuhan pasca keputusan KPU 21 Mei 2019 sampai hari ini masih menjadi tanda tanya. Melihat fakta-fakta di lapangan tentu saja spekulasi masyarakat semakin liar. Asumsi bahwa kerusuhan itu ditunggangi pihak ketiga tak bisa dihindari.

Paling tidak ada lima alasan kuat. Pertama, meski kubu 02 menolak hasil keputusan KPU soal perolehan suara pada 21 Mei dini hari itu, namun Prabowo telah berkomitmen menempuh jalur bermartabat yang konstitusional. Yakni menggugatnya melalui Mahkamah Konstitusi (MK). Yang langsung dipimpin adik Prabowo sendiri, Hashim Djojohadikusumo. Seperti pemilu 5 tahun lalu, sikap kenegarawanan Probowo tak perlu diragukan lagi meski gugatannya di tolak oleh MK. Hal itu ditunjukkan dengan mengahadiri sumpah jabatan Presiden dan Wakil Presiden terpilih Jokowi-Jusuf Kalla.

Kedua, perolehan suara kedua paslon yang memiliki selisih cukup jauh. Paslon 01 memperoleh 85. 607.362 atau 55,50 persen. Sedangkan Paslon 02 68.650.239 atau 44.50 persen. Dengan selisih 16.957.123 atau 11 persen. Angka ini justru dua kali lipat lebih besar kalau dibanding dengan Pemilu tahun 2014 lalu yakni 8. 421.389 suara. Sebagai seorang mantan prajurit, Prabowo akan berfikir ulang untuk mempertaruhkan jiwa ksatrianya hanya sekedar menggugat hasil Pemilu dengan selisih yang demikian besar. Seiring dengan bukti-bukti kecurangan yang disinyalir BPN masih ditunggu publik.

Ketiga, Kedua Paslon, baik Jokowi maupun Prabowo telah komit menolak kerusuhan tanggal 21-22 Mei tersebut. Jokowi menegaskan dalam konferensi persnya Rabu sore 22 Mei di Istana, “Kita tidak akan memberikan ruang untuk perusuh-perusuh yang akan merusak negara kita, merusak negara kesatuan Republik Indonesia, tidak ada pilihan, nggak ada pilihan, TNI dan Polri akan menindak tegas sesuai aturan hukum yang berlaku”. sebagaimana dikutip dari BBC News.

Prabowo pun demikian, tidak membenarkan pendukungnya melakukan anarkis, kekerasan fisik dan menghindari kekerasan verbal. “Saya juga tegaskan kepada semua yang masih mau mendengar saya, para pendukung saya, sekali lagi saya tegaskan hindari kekerasan fisik.” Komitmen kedua Paslon ini sebagai menjadi penting mengingat situasi sedang panas.

Keempat, tokoh-tokoh bangsa, tokoh agama dan Ormas Muhammadiyah-NU, telah bersepakat bahwa perlu adanya rekonsiliasi Nasional. Hal ini bukan omong kosong, diawali dengan kehadiran tokoh-tokoh agama dan Ormas di kediaman JK pada 22 April lalu dan itu patut kita acungi jempol.

Kemudian bertemunya tokoh-tokoh muda. Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid, Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute Agus Harimurti Yudhoyono. Serta beberapa Gubernur dan juga walikota, diantaranya Ridwan Kamil, Emil Dardak, Ganjar Pranowo. Turut hadir juga Bupati Banyuwangi Azwar Anas, Wali Kota Tangerang Airin Rachmi Diany, Wali Kota Bogor Bima Arya.

Menurut Arya Bima seperti dikutip detik.com pertemuan pada 15 Mei itu tujuan besarnya adalah ingin membangun komunikasi menguatkan kebersamaan, yang juga mengusung damai pasca pemilu. Ini dianggap mampu memberikan energi positif bagi Indonesia dan anak-anak muda usai pemilu.

Disusul ucapan selamat Presiden RI ke 6 SBY kepada pasangan Jokowi-Ma’ruf pada 21 Mei dan akan mendukung penuh pemerintahan Jokowi-Ma’ruf jika nanti telah ditetapkan sebagai presiden terpilih 2019-2024.

Semua itu dilakukan sebagai upaya normalisasi situasi (cooling down) pasca Pemilu. Dimana polarisasi masyarakat terjadi karena isu-isu yang terbangun masa kampanye. Yang bisa mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

Kelima, aparat penegak hukum TNI POLRI juga telah bekerja demikian keras mengamankan kerusuhan tersebut. Ini patut kita apresiasi, tentu saja menindak para provokator dan juga para aparat yang melakukan penembakan yang menyebabkan korban jiwa. Proses ini sepenuhnya kita percayakan pada penegak hukum.

Akan tetapi, alasan-alasan tersebut di atas tetap saja menyisakan pertanyaan bagi kita. Lalu, siapa dalang di balik kerusuhan tersebut? Beberapa barang bukti oleh aparat penegak hukum semakin menegaskan bahwa ada tangan jahil yang menunggangi aksi itu.
Temuan amplop berisi uang 200 ribu hingga 300 ribu. Kemudian, tertangkapnya ratusan provokator oleh aparat kepolisian di lapangan. Lebih mencengangkan lagi, diamankannya seorang perempuan yang membawa ransel yang berisi bom pipa. Selain itu, puluhan butir peluru tajam juga ditemukan dalam kondisi utuh di TKP.

Fakta-fakta ini tentu saja kita serahkan kepada aparat hukum untuk menangani. Namun harus disadari bawah ada persoalan serius yang tengah terjadi pada bangsa kita. Ada yang sedang merasuk dan hendak merongrong NKRI.

Kebrutalan aksi baru-baru ini, tidak bisa lagi kita anggap sederhana, hanya soal sengketa hasil pemilu. Karena kalaupun hasil pemilu yang dipertentangkan maka gelombang masa harusnya tidak semasif dan seberutal itu. Seperti disinggung di atas.

Seiring dengan menguatnya kapitalisasi isu agama selama pilpres, semakin meyakinkan kita bahwa Ideologi bangsa tengah terancam oleh sebuah gerakan yang sistematis. Artinya aksi 21-22 Mei tidak genuine sebagai aksi rakyat Indonesia.

As’ad Said Ali dalam bukunya Ideologi Gerakan Pasca Reformasi, mengafirmasi bahwa ada banyak ideologi pasca reformasi yang berkembang di tanah air. Mulai dari ideologi-ideologi ekstrim kiri hingga ekstrim kanan.

Menurutnya, ideologi ekstrim kanan memang berbeda satu sama lain dalam hal gerakan akan tetapi memiliki cita-cita yang sama tercapainya kepemimpinan Islam.
Argumentasi ini, bukan tanpa alasan mengingat kerusuhan 21-22 Mei kemarin semakin liar dan tak terkendali. Kalau bukan Pendukung Jokowi atau Prabowo lalu milik siapa? Kita tunggu hasil investigasi penegak hukum secara menyeluruh.

*) Aktivis muda Muhammadiyah Jatim, mantan sekretaris umum PC IMM Malang Raya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here