Sinergi Ilmu Hukum dan Psikologi Kunci Atasi Korban KDRT

0
60
Kerja sama Fakultas Psikologi UMM dan Rumah Keadilan untuk membantu korban dalam urusan rumah tangga. (Ade/KLIKMU.CO)

KLIKMU.CO – Lembaga Bantuan Hukum Rumah Keadilan bertandang ke Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menjalin kerja sama dalam pendampingan klien, Jumat (28/8). Dalam keterangannya, Ketua Rumah Keadilan Syahrul Sajidin SH MH mengatakan bahwa Rumah Keadilan sangat membutuhkan orang yang paham tentang psikologi dalam menangani klien-kliennya.

“Sering kali dalam beberapa kasus, misalnya perceraian pada kasus KDRT, mereka tentunya datang ke kami dengan rangkaian masalah rumah tangganya. Setelah bercerai tidak serta-merta mereka merasa masalahnya selesai. Kami melihat mereka membutuhkan pendampingan psikologis lebih lanjut pasca-perceraian, bagaimana menghadirkan kembali optimisme, membalut luka batin, dan mengedukasi mereka mengoptimalkan proses pengasuhan, ilmu, dan keterampilan itu yang tidak kami miliki. Itulah alasan mengapa Rumah Keadilan ingin menggandeng Fakultas Psikologi UMM,” ungkap Syahrul.

Syahrul juga menambahkan bahwa dalam proses menggali informasi kepada klien juga kadang menjadi kendala bagi timnya. “Klien datang kali pertama lebih banyak bungkam, kali kedua menangis, akhirnya kami tidak mendapatkan informasi yang cukup untuk langkah selanjutnya,” kata Syahrul.

Menanggapi hal tersebut, Koordinator Pengembang Kerja Sama Fakultas Psikologi UMM Muhammad Fath Mashuri MA menerangkan bahwa ilmu psikologi dengan hukum seyogianya memang saling bersilaturahmi.

“Di sini kita belajar mengenai psikologi hukum dan forensik, salah satu konteks kajiannya adalah psychology in law yang merupakan penerapan spesifik ilmu psikologi di dalam hukum, seperti asesmen psikologis untuk menilai kondisi mental korban dan terdakwa, memberi rekomendasi hak penentuan perwalian anak berdasarkan evaluasi kapasitas psikologisnya, serta menjadi saksi ahli,” ujar Fath.

Dekan Fakultas Psikologi UMM M. Salis Yuniardi PhD menuturkan bahwa pihaknya selalu memiliki keterbukaan untuk setiap niat baik dan pengaplikasian ilmu psikologi di berbagai sektor.

“Visi kita adalah applying psychology welfaring humanity, di samping itu juga landasan gerak Muhammadiyah mengajarkan bahwa ber-Islam artinya harus menunjukkan kepedulian dan memberi pertolongan nyata, siapapun itu,” tutur Salis. (Ade/Achmad San)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here