Stop Debat Sampah di Medsos

0
92

KLIKMU.CO

Oleh: Nugraha Hadi Kusuma*

Orang-orang diluar Muhammadiyah sering bertanya, “ Kenapa warga Muhammadiyah gampang menghujat bahkan semangat mencaci maki tokohnya sendiri ketika berbeda pendapat”, dan itu dilakukan pada berbagai momen tanpa tedeng aling-aling, bahkan diberbagai medsos untuk mengungkapkan ketidaksenangannya terhadap tokoh itu, bahkan sekelas Prof Syafii Maarif, Prof Amien Rais maupun Prof Haidar Nashir menjadi sasaran bullyan bahkan stigmatisasi di kalangan warga Muhammadiyah sendiri.
Ternyata kehadiran media sosial telah membawa perubahan besar terhadap perilaku dan pola komunikasi individu warga muhammadiyah, dimana keberadaannya menggantikan fungsi surat, telepon dan komunikasi langsung tatap muka dengan menciptakan jejaring kemonikasi antar individu melalui perangkat aplikasi yang diinstalkan pada peralatan eletronik atau gawai seperti komputer yang terhubungan dengan internet dan ponsel peribadi. Para pengguna media sosial biasanya disebut sebagai warga netizen, dapat berkomunikasi dengan keluarga, teman, atasan idola dan publik figur bahkan dengan pejabat pemerintahan sekali pun, selain itu juga dapat dengan cepat mengakses informasi dari berbagai sumber dari berbagai belahan dunia hanya dengan alat telekomunikasi yang ada di tangannya dimana pun ia berada.

Hootsuite (2017) menjelaskan penguna internet pada tahun 2017 sudah mencapai sebanyak 3,8 miliar, dengan 2,9 milyarnya aktif menggunakan media sosial, tak kurang dari, pengguna media sosial terus meningkat sekitar 1 jutaan orang perhari pengguna media sosial terus meningkat dengan estimasi ada 14 orang yang bikin media sosial baru setiap detik di dunia. Sedangkan dari 2,9 milyar pengguna media sosial yang ada sekitar 2,6 milyarnya mengakses akun media sosial mereka melalui ponsel, sedangkan penggunaan internet melalui laptop atau desktop terus menurun hampir 20% termasuk penggunaan media tablet, dimana jumlahnya pengunaannya hanya 43% dari jumlah keseluruhan pengguna internet, karena orang semakin terbiasa ―go online‖ dengan layar smartphone yang lebih kecil. Sementara itu pengguna internet di Indonesia saat ini sudah
mencapai 132,7 juta orang. dari angka tersebut, 97 persennya menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial. Sedangkan situs jejaring sosial yang paling banyak diakses adalah facebook dan twitter. Indonesia menempati peringkat 4 pengguna facebook terbesar setelah Brazil, dan India dan USA.

Bedasarkan data tersebut di atas tentu kita dapat membayangkan bagai mana media sosial khususnya jejaring sosial setiap saat dan setiap waktu tidak dapat tidak akan mempengaruhi pola dan dinamika perilaku penggunanya baik melalui interaksi dan komunikasi yang dibanggun dalam jejaring sosial tersebut, maupun pengaruh persuasif dari setiap berita dan informasi yang dikirim atau yang diakses melalui WA, tweeter, blog, wiki, podcast, forum on- line lainnya.

Ada dua tipe dari pola perilaku online (online- disinhibition) individu, yaitu benign disinhibition yaitu pola perilaku online yang menunjukan sisi ramah, altruistik atau sifat protagonist individu dan tonixc disinhibition yang menunjukan sisi kasar atau sifat antagonist yang dimiliki individu (Suler (dalam Febriawan dkk., 2014). Beberapa penelitian bahkan menemukan bahwa kadang perilaku komunikasi dan respon individu di media sosial jauh berbeda dari perilaku komunikasi kesehariannya seperti dalam interaksi lansung tatap muka. Individu bisa saja lebih bebas berekspresi, dan berpendapat, dalam mengungkapan tentang apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka rasakan, kadang malah terkesan tidak asertif, narsis, dan arogan, karena merasa tidak dibebani oleh ketrikatan norma dan nilai-nilai yang berlaku dalam interaksi lansung tatap muka.

Selain itu layanan media sosial yang tidak membatasi penggunanya, baik dari segi usia dan jenis kelamin, status sosial dan pendidikan mengakibatkan para netizen bebas mengekspresikan perasaannya di akun pribadinya masing masing. Hal tersebut membuat gaya dalam proses bertutur mereka sering kali mewakili status dan identitas sosial masing masing. Kondisi seperti ini kadang tidak disadari oleh para pengguna media sosial sehingga sengaja ataupun tidak banyak yang menggunakan kata-kata atau kalimat bernuansa menyindir, mencemooh, menghina, bahkan lebih parah lagi sampai menuduh, mengancam, menuntut, sehingga pernyataan tersebut menyinggung perasaan dan meyerang harga diri lawan bicara sehinga melahirkan konflik sosial karena melahirkan pengikut yang disebut dengan

lover lawan pembenci yang disebut dengan hater

Hal tersebut tidak jarang berujung pada konflik individu di dunia maya atau di jejaring sosial diakibatkan oleh respon komunikasi yang melahirkan emosi permusuhan atau propokatif yang tendensius kebencian terhadap satu individu atau kelompok lain. Respon-respon tersebut dapat berupa komentar, pesan, tuwitan di tweeter, update ststus di beranda facebook, atau tulisan di laman web, bertujuan untuk mengkritik bahkan kadang menjatuhkan, termasuk berbagai opini dan pemikiran serta sikap yang ditunjukan sebagai tanggapan terhadap isu-isu yang sedang virall. (Martellozzo dkk., 2017).

Menurut (Febriawan dkk., 2014) pernyataan atau ungkapan kritik yang bersifat merendahkan, menghina dan menghujat pada interkasi online antar individu dimedia sosial akan memancing situasi memanas, suasana itu disebut dengan istilah flame, sedang perilakunya disebut flaming dan orang orang yang melakukanya disebut haters. Perilaku haters muncul akibat rasa tidak senang kepada seseorang atau kelompok tertentu dengan perilaku, gaya hidup, pernyataan dan kinerjanya ataupun aktifitas seseorang atau kelompok tersebut. Perilaku haters tersebut untuk selanjutnya dalam artikel ini digunakan istilah dengan ujaran kebencian siber. Ujaran kebencian siber adalah merupakan bentuk perilaku penyebaran pesan bernada kebencian melalui media internet dan situs jejaring sosial, pembuatan konten melalui, situs, blog, pesan instan online seperti; face book, whatsaap, line dan sebagainya baik melalui handpone maupun computer.

Ujaran kebencian siber dapat saja dilakukan oleh diri peribadi atau pun sekelompok orang yang membenci individu atau kelompok lainnya, bahkan dengan tujuan memengaruhi orang lain dan atau pun kelompok lainnya untuk merasakan hal yang sama yakni membenci serta berharap figure orang atau komunitas yang dibenci akan celaka, hina dan hancur kualitas dan harga dirinya. (Williams dan Pearson, 2016). Para pelaku ujaran kebencian siber melakukan penyebaran pesan, opini atau pun informasi baik yang berasal dari redaksi sendiri ataupun orang lain yang ia bagikan lagi sebagai bentuk dukungan dan pesan dan opini tersebut yang tujuannya adalah untuk mempengaruhi, mengajak secara langsung ataupun tidak langsung untuk tidak menyukai ataupun membenci bahkan memusuhi
seseorang atau kelompok tertentu yang dikategorikan sebagai musuh ataupun ancaman.

Hal di atas diperparah oleh algoritma-algorima yang yang diterapkan pada platform-platform mainstream media sosial yang kerap di gunakan oleh netizen. Salah satu algoritma yang dapat berimplikasi pada terbentuknya situasi yang membuat individu terpolarisasi pada kelompok kelompok eklusif yang kadang tertutup dalam gelombang informasi masing-masing atau biasa dikenal dengan filter bubble. Netizen akan diarahkan kepada keberpihakan terekstrim pada sesuatu hal karena algoritma yang ada pada fasilitas media sosial akan mengasumsikan bahwa seorang netizen akan suka terhadap hal tersebut. Algoritma ini merekam pola perilaku netizen melalui aktivitas like, comment, dislike, reply, follow, unfollow hingga block (Bozdag, 2015).

Berdasarkan hal tersebut media sosial menghadirkan dua bentuk pola interaksi warga netizen, yaitu selain mendekatkan antar sesama penguna namun juga sekaligus dapat saja menjauhkan dan menjadikannya terkotak-kotak sesuai dengan karakteristik kelompok masing masing. Polarisasi kelompok akan terbentuk oleh terpaan informasi yang didapat oleh individu selama ia berselancar di dunia maya dan informasi itu bersifat hanya satu arah atau perspektif. Individu sebagai masyarakat internet atau netizen memiliki kecenderungan untuk menyaring setiap informasi yang masuk baik dalam bentuk bacaan, visual, audio visual maupun konten lainnya sesuai dengan apa yang sudah diyakini, dan keyakinan tersebut akan semakin kuat ketika individu terpapar informasi yang sama dan berulang.

Dalam konteks ini Warga Muhammadiyah perlu menguatkan daya tahan diri dalam menghadapi paparan informasi yang berlimpah setiap saat. Untuk menguatkan daya tahan tersebut, diperlukan inokulasi komunikasi William J. McGuire sebagaimana dikutip di bukunya Pfau, The Inoculation Model of Resistance to influence (1997) menganalogikan proses ini seperti di dunia medis. Orang menyuntik vaksin untuk merangsang mekanisme daya tahan tubuhnya. Jika anda memiliki daya tahan tubuh kuat, tentu tak akan mudah terserang penyakit. Pun demikian dalam proses berkomunikasi. Proses member vaksin tersebut, tiada lain adalah literasi digital.

Konteks literasi digital itu adalah kemampuan menggunakan dan memanfaatkan teknologi digital seperti media sosial dengan tiga alas an utama, yakni: pengetahuan, skill dan sikap. Pengetahuan untuk menjadi penyaring sebuah informasi itu masuk akal atau tidak, punya landasan argumentasi, data, fakta atau tidak. Skill untuk mengakses dan membandingkan antara satu informasi lain dari sumber-sumber yang kredibel. Sikap ajeg dan tegas yang diperlukan untuk memastikan bahwa baik sebagai produsen maupun konsumen akan bertanggung jawab secara sosial atas informasi yang diperlukan, jangan pernah menoleransi apapun bentuk hoaks.

Dengan adanya fatwa prof Haedar Nashir jangan berdebat sampah di medsos, baru-baru ini amatlah jelas bahwa kini, menyadarkan kita di kehidupan modern berada dalam dua dunia, dunia nyata dan dunia maya. Dalam konteks fatwa ini memberikan pesan kesadaran bahwa dimensi etika tidak hanya diperlukan dalam perilaku kehidupan nyata, tetapi juga dalam berperilaku di media sosial. Media sosial yang kini menjadi sarana komunikasi-informasi keradaannya sangat penting dalam perspektif gaya hidup modern, kemajuan teknologi informasi telah memberikan perubahan besar pada pola berkomunikasi dan berbagi informasi. Dengan kenyataan ini, kita masyarakat di Indonesia masih perlu meningkatkan kesadarannya akan etika penggunaan media sosial. Selain berdampak positif bagi kehidupan individu, keluarga dan juga dapat meningkatkan branding bisnis, media sosial pun mempunyai dampak negatif jika digunakan untuk tujuan negatif. Semoga manfaat.

*Wakil Ketua LPCR PWM Jatim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here