Strategi Membangun Sekolah Muhammadiyah yang Bermutu

0
739
Smamda

Oleh: Sonah *)

KLIKMU.CO

Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi berbasis Islam cukup besar dan terkenal yang turut serta andil dalam dunia pendidikan. Setiap organisasi pasti memiliki ciri khas tersendiri dalam hal mengelola dan mengatur setiap bagian yang ditempatinya. Identitas kekhasan ini tentu saja dibungkus baju yang bernama ideologi. Muhammadiyah terkenal dengan konsep keislamannya dalam bidang pendidikan (Bakhtiar, 2019). Misi mulia sekolah Muhammadiyah yang berada di bawah naungan yayasan Muhammadiyah di antaranya menghasilkan kader-kader Muhammadiyah yang bertakwa, berbudi pekerti yang baik, mandiri, unggul, juga mampu berdakwa sehingga benar-benar siap dalam menghadapi tantangan global. Oleh sebab itu, prioritas utama adalah segala sesuatu yang menyangkut kebutuhan peserta didik.

Karakteristik sekolah-sekolah Muhammadiyah yang khas dan menjadi ciri sekaligus membedakan sekolah lain adalah faktor pengelolaannya. Lembaga pendidikan Muhammadiyah dikembangkan dengan manajemen yang profesional, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dikembangkan dengan sangat kompleks yang menyeimbangkan kecerdasan kognitif, afektif, dan psikomotor, tentunya dengan berbagai teknik penilaian yang kompleks, pendidik dan tenaga kependidikannya disiplin, budaya mutu sekolah selalu mengikuti perkembangan zaman dan ditambah dukungan penuh dari stakeholder sekolah baik warga sekolah, persyarikatan muhammadiyah dan masyarakat. Sekolah-sekolah Muhamamdiyah melaksanakan pendidikan dengan cara menerapkan ajaran agama Islam dan nilai kemuhammadiyahan; orientasinya mencetak kader-kader Muhammadiyah yang bertakwa, berbudi pekerti yang baik, mandiri, unggul, juga mampu berdakwa bagi umat lainnya. Selain itu, sekolah Muhammadiyah selalu menjunjung tinggi semangat kebangsaan dan cinta tanah air melalui rutinitas menyanyikan lagu-lagu nasional di awal pembelajaran, melaksanakan upacara bendera hari senin dan hari kemerdekaan; serta memasukkan pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) menjadi mata pelajaran wajib agar dapat mengikuti perkembangan teknologi informasi (Susilo, 2016).

Ditinjau dari segi Sumber Daya Manusianya memiliki ideologi dan loyalitas pada Muhammadiyah juga sistem yang jelas tentang kaderisasi yang berkesinambungan serta komitmen dalam kerja keras, cerdas, tuntas, dan ikhlas ini juga merupakan ciri khusus tentang SDM di sekolah Muhammadiyah sehingga menjadikan sekolah tersebut bermutu. Peran serta dari semua pihak atau bagian yang terkait sangat berkaitan erat dalam meningkatkan mutu sekolah dan mutu pendidikan. Tutur Zamroni ada tiga tataran dalam kegiatan meningkatkan mutu sekolah, yaitu: birokrat yang mencakup wilayah, sekolah dan kelas. Upaya peningkatan mutu pada tataran birokrat berupa kebijakan dan program kerja yang jelas sehingga dapat dijadikan sebagai pedoman dalam meningkatkan mutu pada ketiga tataran tersebut. Sedangkan sekolah Muhammadiyah yang bermutu dapat diwujudkan dengan menerapkan tujuh langkah berikut: (1) Penguatan visi, misi, dan tujuan pendidikan; (2) Membuat evaluasi diri sekolah (EDS) dan merancang program kerja sekolah; (3) Penguatan kepemimpinan dan teamwork; (4) Peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan; (5) Pengembangan kurikulum dan pembelajaran; (6) Penciptaan lingkungan yang aman dan tertib; dan (7) Monitoring dan evaluasi.

Mutu adalah suatu hal yang paling utama bagi lembaga sehingga tugas meningkatkan mutu itu sangat penting. Pesatnya perkembangan lembaga pendidikan menjadikan kompetisi semakin ketat antar sekolah satu dengan yang lainnya. Dengan demikian, dapat dijadikan ukuran bahwa lembaga yang paling banyak diincar konsumen berarti lembaga tersebut bermutu. Meskipun konsumen hanya menggunakan parameter sederhana untuk mengukur mutu lembaga pendidikan, seperti banyaknya siswa berprestasi, hasil ujian lulusan dan hasil akreditasi lembaga. Lalu apa yang dimaksud dengan mutu (quality), pengertian Secara klasik menunjukkan sifat tentang baik atau buruknya jasa atau barang yang telah dihasilkan oleh suatu lembaga dengan kriteria tertentu. Akan tetapi, pengertian mutu ini antara pandangan seseorang dengan orang lain terkadang bertentangan, sehingga wajar kalau ada lebih dari dua pakar yang mempunyai pandangan atau kesimpulan berbeda berkaitan dengan cara menciptakan mutu pada lembaga (Rozi, 2016).

Sebetulnya tidaklah sulit untuk mewujudkan sekolah yang bermutu. Syarat mutlak yang harus dipenuhi adalah seluruh stakeholder sekolah mempunyai cara pandang dan tekat sama dalam melaksanakan perannya masing-masing. Pada pembahasan ini akan dijelaskan bagaimana mengatur strategi membangun sekolah Muhammadiyah yang bermutu. Beberapa kajian penelitian yang sejalan dengan strategi dalam membangun sekolah Muhammadiyah yang bermutu dapat dijabarkan sebagai berikut. Menurut Sonah (2020) sekolah Muhammadiyah yang bermutu dapat ditandai dengan beberapa kriteria, di antaranya: (1) berhasil merancang program kerja sekolah berdasarkan hasil evaluasi diri sekolah (EDS) (2) Seluruh stacholder sekolah mampu melaksanakan visi, misi, dan tujuan pendidikan; (3) Memiliki seorang pemimpin yang handal dan pandai dalam menjalin kerjasama;(4) memiliki pendidik dan tenaga kependidikan yang terus meningkat kompetensinya; (5) Pengembangan kurikulum dan pembelajaran terus meningkat dari tahun ketahun; (6) Terciptanya lingkungan yang aman dan tertib; dan (7) selalu melakukan monitoring dan evaluasi untuk seluruh unit layanan sekolah.
Temuan penelitian yang telah dilakukan oleh Hidayatullah (2016) sebagai berikut:
1. Empat belas langkah yang menjadi titikberat dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan di SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo, diantaranya:
1) Penguatan visi, misi, dan tujuan pendidikan
2) Membuat evaluasi diri sekolah (EDS) dan merancang program kerja sekolah
3) Peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan
4) Penguatan kepemimpinan dan teamwork
5) Pengembangan kurikulum dan pembelajaran
6) Meningkatkan kualitas masukan peserta didik
7) Mengembangkan sarana prasarana pendidikan
8) Mengembangkan budaya sekolah
9) Mengembangkan pengabdian kepada masyarakat
10) Penciptaan lingkungan yang aman dan tertib
11) Mobilisasi sumber dana pendidikan
12) Kerjasama pendidikan dan pertukaran pelajar
13) Mengembangkan SIM (sistem informasi manajemen)
14) Monitoring dan evaluasi

Menurut Rozi M (2016), strategi membangun sekolah yang bermutu dengan cara berikut:
1) Menentukan rumusan visi misi yang khas dengan institusi.
2) Menentukan rumusan strategi untuk mewujudkan tujuan institusi
3) Menyiapkan pemimpin yang berkualitas
4) Melakukan survei pasar
5) Meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia
6) Memenuhi kelengkapan sarana prasarana
7) Mengatur pengelolaan keuangan
8) Menjalin kerjasama dengan stakeholder
9) Menjaga konsistensi mutu.

Artikel ini disusun dari hasil sebuah kajian deskriptif studi literatur yang bersumber pada beberapa hasil penelitian beberapa lembaga pendidikan muhammadiyah yang sedang tumbuh dan berkembang. Pengembangan pemikiran dalam menyusun strategi membangun mutu sekolah dengan mensitasi beberapa referensi yang mendukung ide/gagasan ini merupakan penekanan metode penulisan.

Membangun sekolah Muhammadiyah yang bermutu merupakan suatu keharusan sebagai bentuk mengembangkan persyarikatan karena sekolah tersebut dapat memberikan kontribusi besar untuk kegiatan persyarikatan Muhammadiyah bahkan kontribusi tersebut bisa juga dapat dirasakan oleh lembaga selain Muhammadiyah. Sekolah yang bermutu akan dijadikan rujukan sekolah-sekolah lain untuk belajar strategi bagaimana agar sekolah-sekolah lain ikut serta dapat berkembang dan diminati masyarakat. Salah satu ciri sekolah yang bermutu itu diantaranya memiliki manajemen mutu yang maksimal, terus memperbaiki kualitas pendidikan dan memiliki keunggulan-keunggulan tertentu serta banyak diminati masyarakat.
Mohammad Ali & Marpuji Ali (2005: 158-160); M. Joko S. (2017b: 125) dalam Joko Susilo( 2016: 569-576) bahwa secara normatif tolok ukur output dari sekolah Muhammadiyah di antaranya: 1) tertib ibadah (al-Islam), 2) mahir baca tulis Al-Quran, 3) pengetahuan akademis tinggi, 4) ketrampilan berbahasa asing, 5) ketrampilan komputer dan 6) berwawasan kebangsaan.

Dalam menyelenggarakan pendidikan, sekolah-sekolah Muhammadi-yah memiliki strategi tersendiri. Hal ini yang menjadikan sekolah-sekolah muhammadiyah tetap menjadi favorit masyarakat meskipun banyak sekolah-sekolah bagus yang mengelilinginya. (Zainal Arifin, 2013 dalam Joko Susilo( 2016: 569-576). Beberapa strategi yang dimiliki diantaranya meliputi: memiliki kekuatan kebijakan pimpinan sekolah; jelasnya sasaran tahapan yang dicapai oleh dokumen Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan; berkualitasnya guru dan karyawan sekolah; berupaya memperoleh dukungan kuat baik dari wali murid maupun masyarakat; serta kondusifnya iklim sekolah; peserta didik yang memiliki harapan tinggi (M. Joko S., 2016: 568 dalam Joko Susilo( 2016: 569-576).

Berdasarkan hasil kajian berbagai literatur dapat dirumuskan bahwa strategi membangun sekolah Muhammadiyah yang bermutu dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Penguatan visi, misi, dan tujuan pendidikan
Setiap sekolah pasti memiliki visi, misi dan tujuan, hanya saja tidak semua sekolah yang stakeholdernya faham setidaknya hafal meskipun belum faham. Jika tidak faham maka dipastikan warga sekolah atau stakeholder tidak akan menggunakan visi, misi dan tujuan pendidikan itu sebagai landasan mengembangkan sekolah. Permasalahan ini mengakibatkan sekolah berkembang tanpa arah karena cita-cita besar yang tertuang dalam visi tidak direalisasikan dalam misi sudah dapat dipastikan hasilnya tidak sesuai tujuan yang sudah dirumuskan. Fungsi dari adanya visi, misi dan tujuan itu memperjelas arah mana yang hendak dituju. Untuk memperjelas arah dan tujuan dalam mencapai visi dan misi maka sebaiknya seluruh kegiatan sekolah mampu menggambarkan visi dan misi yang harus dicapai. Dengan adanya kegiatan sekolah yang merupakan bentuk dari realisasi visi dan misi maka setiap elemen sekolah akan paham dan melaksanakan secara bersama, hal ini akan memudahkan langkah mewujudkan mutu lembaga (Suliswiyadi, 2015).

b. Membuat evaluasi diri sekolah (EDS) dan merancang program kerja sekolah

Membuat evaluasi diri sekolah (EDS) itu artinya sekolah melakukan penilaian terhadap 8 SNP mulai dari standar : 1) isi; 2) proses; 3) pendidik dan tenaga kependidikan; 4) kompetensi lulusan; 5) penilaian pendidikan; 6) sarana dan prasarana; 7) pengelolaan; 8) pembiayaan.
Penjabaran muatan 8 SNP itu diantaranya: 1) standar isi, meliputi seputar materi dan tingkat kompetensi terendah pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu untuk mencapai kompetensi lulusan terendah; 2) Standar proses, meliputi proses belajar mengajar yang dilakukan dengan cara menantang, menumbuhkan motivasi, interaktif, menggembirakan dan selalu memberikan semangat peserta didik aktif dalam proses belajar mengajar, juga memberi kesempatan peserta didik untuk berkreasi, mempunyai inisiatip dan mandiri seiring dengan berkembangnya fisik dan psikologi bakat dan minat peserta didik; 3) Standar pendidik dan tenaga kependidikan, meliputi seorang pendidik harus mempunyai kualifikasi akademik dan kompetensi mengingat perannya sebagai agen pembelajaran dan mempunyai kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional serta harus sehat jasmani dan rohani. 4) standar kompetensi lulusan, meliputi kualifikasi kemampuan lulusan yang terdiri dari sikap, pengetahuan dan keterampilan peserta didik sesuai standar nasional yang disepakati berdasarkan Peraturan Mentri Pendidikan Nasional nomor 23 tahun 2006. Kompetensi lulusan ini digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik. 5) Standar Penilaian, meliputi penilaian hasil belajar yang dilakukan oleh pendidik melalui penilaian tertulis, lisan dan praktik. 6) standar sarana dan prasarana, meliputi ketersediaan perlengkapan pendidikan, perabot, media pembelajaran, bahan bacaan dan jenis sumber belajar lainnya baik bahan habis pakai atau peralatan lain yang dibutuhkan dalam menunjang proses belajar mengajar yang konsisten dan berkesinambungan. 7) standar pengelolaan, sekolah dalam hal ini kepala sekolah beserta tim mempunyai kewenangan seluas-luasnya untuk mengelola sekolah sekreatif mungkin. 8) Standar Pembiayaan, meliputi biaya personal, biaya operasional dan investasi bantuan pendidikan yang dilakukan manajemen sekolah sesuai dengan standar nasional pendidikan. (Nasyirwan, 2015)
Setelah data evaluasi diri sekolah sudah dapat dirumuskan maka selanjutnya kita dapat menyusun program kerja sekolah dengan memperhatikan program prioritas standar mana yang membutuhkan pembiayaan lebih karena dirasa butuh diperbaiki dan ditingkatkan. Selain memperbaiki standar apa yang masih kurang sekolah juga bisa memberikan anggaran yang lebih terkait dengan fokus visi dan misi serta tujuan sekolah yang ingin dicapai. Seluruh program yang dirancang yang tertuang dalam renstra sekolah terdapat langkah-langkah yang akan ditempuh sekolah selama beberapa waktu tertentu untuk mencapai visi dan misi.(Rozi, 2016). Penyusunan, pelaksanaan dan evaluasi program ini yang menentukan mutu sekolah meningkat atau tidak.

c. Penguatan kepemimpinan dan teamwork
Kepala sekolah harus dapat menunjukkan keahliannya dalam memimpin dan melalui rapat koordinasi mampu melakukan pengendalian program kegiatan. Seorang kepala sekolah saat mengambil keputusan selalu berdasarkan persetujuan bersama, dengan demikian kepala sekolah harus memberikan peluang kepada teamwork untuk:
(1) memberikan laporan tentang semua kegiatan yang telah dijalankan beserta tingkat ketercapaiannya sekaligus hambatan dan kendala yang telah terjadi; dan (2) memberikan tanggapan, gagasan dan pendapat hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan yang telah dilakukan. kepala sekolah selalu menumbuhkan motivasi kepada peserta didik, seluruh guru, pegawai administrasi untuk belajar dan bekerja dengan sebaik-baiknya.

Mutu sekolah akan mudah dicapai dengan menggunakan teamwork yang kuat. Syaratnya semua anggota memahami tugas dan fungsinya masing-masing dalam melaksanakan semua program yang telah direncanakan dan bersedia dengan penuh semangat dan ikhlas untuk dievaluasi dan diberi pengarahan serta pembinaan oleh kepala sekolah. Dengan demikian semua program yang telah dirancang di awal tahun akan dapat berjalan dengan maksimal. Tentunya dengan berjalannya program dengan maksimal akhirnya mutu sekolah akan terjaga dan meningkat dengan sendirinya.

d. Peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan
Pendidik adalah profesi mulia seseorang untuk mendidik sekaligus mengajar peserta didiknya. Seorang pendidik atau yang umum disebut guru ini merupakan ujung tombak kegiatan sekolah karena seorang gurulah yang berada di garda terdepan yang berhadapan langsung dengan peserta didik. Jika seorang guru berhasil mewujudkan keinginan wali murid dan kepala sekolah dalam aktivitas hariannya di kelas, maka dia dikatakan guru yang profesional. (Suliswiyadi, 2015). Dengan adanya guru yang dapat menjaga kualitas pembelajaran yang mampu mencerdaskan tiga ranah kecerdasan peserta didik secara sekaligus maka dapat dipastikan mutu sekolah akan terjaga dan meningkat.
Selain pendidik juga ada tenaga pendidik yang perannya juga tidak kalah penting didalam meningkatkan mutu sekolah. Tenaga pendidik ini sangat dibutuhkan kerja sama dan turut sertanya dalam memberikan pelayanan yang terbaik terutama disaat berhadapan langsung dengan wali murid, seorang tenaga pendidik harus mampu berkomunikasi dan terampil dalam bekerja dengan demikian wali murid akan merasa terlayani dengan baik.

e. Pengembangan kurikulum dan pembelajaran.
Mutu sekolah yang tinggi juga tergantung bagimana sekolah tersebut mampu merancang aktifitas pembelajaran, baik kokurikuler, kurikuler, maupun ekstrakurikuler yang dapat memenuhi ekspektasi stakeholders ke dalam rancang bangun Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).(Suliswiyadi, 2015). Akhir-akhir ini sekolah sekolah Islam sedang memacu diri bagaimana cara meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu model pendidikan yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat adalah full day school, sekolah sehari penuh, model ini sudah lama diterapkan di sekolah-sekolah Muhammadiyah, bahkan belakangan sekolah negeri juga mulai mencoba menerapkannya.

Saat ini jika kita melihat kurikulum sekolah atau universitas Muhammadiyah terkesan sama persis dengan sekolah atau universitas negeri atau Islam hanya saja dapat tambahan materi Al-Islam dan kemuhammadiyahan. Yang dikwatirkan peserta didik malah merasa terbebani dengan banyaknya materi pelajaran yang didapat , hasilnya jarang lembaga pendidikan melahirkan bibit-bibit unggul untuk masuk dalam persyarikatan Muhammadiyah. Untuk itu sudah saatnya sekolah-sekolah muhammadiyah merancang kembali ISMUBARIS ( Al Islam, Kemuhammadiyahan, Bahasa arab dan Bahasa Inggris) terintegrasi dengan materi-materi umum yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik; contoh, penilaian materi bahasa, al Qur’an dan materi ibadah dilakukan dengan praktik langsung tidak menggunakan sistem ujian tulis seperti biasanya.

Merujuk pada apa yang telah dilakukan oleh KH. Ahmad Dahlan disaat menyampaikan pelajaran agama, saat itu menggunakan pendekatan kontekstual bukan tekstual. Karena materi agama itu harus diamalkan atau dipraktikkan tidak cukup hanya dihafalkan atau dipahami secara kognitif saja. Oleh karena itu sudah saatnya sekolah-sekolah muhammadiyah menata kembali kurikulum yang memiliki ciri khas sekolah muhammadiyah tentunya dengan spesifikasi kebutuhan sesuai kondisi wilayah masing-masing.

f. Penciptaan lingkungan yang aman dan tertib
Lingkungan sekolah dapat disetting yang aman dan tertib sehingga selalu kondusif untuk pembelajaran, tidak hanya di dalam kelas akan tetapi diseluruh area sekolah dapat dijadikan tempat yang cukup strategis untuk memberikan pemahaman secara menyeluruh bagi peserta didik. (Suliswiyadi, 2015). Selain fasilitas yang mendukung pendidik dan tenaga pendidiknya juga berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang aman dan tertib ini.

g. Monitoring dan evaluasi.
Meningkatnya kepuasan pelanggan itu tergantung dari peningkatan mutu pendidikan oleh karena itu orientasi dari perencanaan mutu sampai dengan peningkatan mutu sebaiknya lebih difokuskan lagi dan didasarkan pada nilai-nilai keislaman. Untuk mencapai tujuan tersebut dan demi berjalannya program secara maksimal perlu adanya monitoring dan evaluasi. Hal ini dilakukan oleh kepala sekolah beserta tim untuk mengaudit semua unit-unit layanan yang ada di sekolah. Dengan rutin berjalannya program monitoring dan evaluasi ini maka semua bagian unit layanan akan berusaha menjalankan tugas dan fungsinya dengan sebaik-baiknya.

Berdasarkan kajian yang dipaparkan dapat disimpulkan bahwa essensinya, sekolah Muhammadiyah yang bermutu dapat diwujudkan dengan menerapkan tujuh langkah diantaranya: (1) Penguatan visi, misi, dan tujuan pendidikan; (2) Membuat evaluasi diri sekolah (EDS) dan merancang program kerja sekolah; (3) Penguatan kepemimpinan dan teamwork ;(4) Peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan; (5) Pengembangan kurikulum dan pembelajaran; (6) Penciptaan lingkungan yang aman dan tertib; dan (7) Monitoring dan evaluasi.

 

DAFTAR PUSTAKA

Bakhtiar, S. (2019). Kebijakan Pendidikan Kosmopolitan Muhammadiyah Di Tengah Tantangan Era Disrupsi. The Journal of Society & Media, 3(1), 86. https://doi.org/10.26740/jsm.v3n1.p86-104
Nasyirwan. (2015). Pencapaian 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan Oleh Kepala Sekolah Untuk Meningkatkan Mutu Lulusan. 8, 724–736.
Rozi, M. A. F. (2016). Strategi Peningkatan Mutu Pendidikan Islam. 04(Edukas), 322–336.
Suliswiyadi. (2015). Menumbuhkan Dan Mengembangkan Mutu Sekolah Unggul Di Kabupaten Magelang. 6(2), 91–104.
Susilo, J. (2016). Strategi membangun sekolah muhammadiyah yang berkemandirian. 569–576.

*) Fakulas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Sonahseno46@gmail.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here