Sudah Siapkah Mengorbankan Ismail-mu?

0
275
Ilustrasi diambil dari internet

Oleh: Eriton

Kader IMM Malang Raya,
imam Masjid AR Fachruddin UMM

KLIKMU.CO

Ismail-nya Ibrahim adalah anaknya yang bernama Ismail. Yang kemudian ia dikorbankan itu. Ismail merupakan buah cinta yang dinantikan Ibrahim sejak lama.

Anda bisa merasakan bagaimana kecintaan orang tua kepada anak-anaknya. Konon lagi Ismail adalah anak semata wayang. Tentu saja, itu tak sulit kita bayangkan. Banyak contoh di sekitar kita. Itulah yang akan dipersembahkan Ibrahim kepada Allah SWT.

Lalu, siapa “Ismail” saya dan anda? Sesungguhnya, hari ini “Ismail” itu hidup dan ia ada di sekitar kita. Ia merupakan simbol segala sesuatu yang saya dan anda miliki. Ia merupakan apa saja alasan-alasan yang membuat anda menolak tanggung jawab, apa pun yang membuat anda nyaman.

Ia adalah jalan-jalan yang membuat anda menutup telinga dan membutakan mata. Setiap sesuatu yang mendorong saya dan anda abai pada sesama. Hal-hal yang menjadikan anda lupa diri dan sombong.

Maka, “Ismail” saya dan anda adalah segala sesuatu yang kita miliki saat ini. Yang kita rela melakukan apa pun demi itu. Apakah itu kekuasaan, harta, mobil mewah, keluarga, nama besar, cinta, paras, uang, rumah-rumah, kebun, kelas sosial, pengetahuan, profesi? Bisa juga diri kita sendiri dan anda sendiri yang paling mengerti.

Bayangkan saja, ketika kita tengah berada pada titik kemuliaan dan kebanggaan, dan hanya memiliki satu-satunya yang dicintai, mempertaruhkan semua dalam hidup demi yang dicintai. Dan mengorbankan apa pun untuknya. Lalu direnggut dari tanganmu, relakah?

Sudah siapkah mengorbankan itu semua demi kebaktian dan ketaatan kepada Allah SWT? Hanya kita masing-masing yang bisa merefleksikannya.

Ibrahim tak lain hanya sosok manusia biasa. Ia merupakan seorang ayah yang mendambakan seorang anak. Begitu berat bibirnya berterus terang kepada anak tercinta, Ismail, bahwa ia akan menyembelih sang anak dengan tangannya sendiri.

Guncangan besar melanda jiwa sang ayah, betapa perintah itu tak bisa ditawar dan diundi. Ia datang pada Ibrahim. Namun, betul bahwa perang terbesar adalah melawan diri sendiri.

Yang tampil sebagai pemenang adalah yang mampu menundukkan semua keegoisan itu. Ia memilih jalan, mencintai Allah SWT. Ketimbang mengabdi pada perasaan, pangkat, cinta, keluarga, harta, nama besar, dan lain sebagainya.

Maka, prosesi pengorbanan Ibrahim di Mina sesungguhnya berangkat dari totalitas kepasrahan dan kebebasan mutlak. Ia berhasil meruntuhkan keegoisan dan segala sesuatu yang menghalangi kebulatan tekad suci itu. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here