Sudah Waktunya Sekolah Muhammadiyah Kuasai Bahasa Inggris

0
296
Ketua Majelis Dikdasmen PWM Jatim Dr Arbaiyah Yusuf MA saat menjadi keynote speaker. (Mul/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Sekolah Muhammadiyah harus berada di garis terdepan. Jangan mau hanya di tengah-tengah, apalagi di belakang.

Demikian disampaikan Ketua Majelis Dikdasmen PWM Jatim Dr Arbaiyah Yusuf MA saat memberi keynote speech Muhammadiyah’s School Leaders Forum (MSLF) 2021. Acara tersebut diselenggarakan FOSKAM SD-MI Jatim bekerja sama dengan Mentari Group, Rabu (31/3/2021).

Acara yang mengusung tema Menyiapkan AKM dan Pengembangan Pembelajaran Bahasa Inggris itu diikuti 557 peserta secara virtual via Zoom, Live Streaming di kanal YouTube MudipatTV, dan FB Mudipat Pucang Surabaya.

Hadir juga memberi opening remark Ketua FOSKAM SD-MI Jatim Muhammad Syaikhul Islam MHI dan special speech Chief Operating Officer of Mentari Group Tri Turturi. Sedangkan dua narasumber pelatih Mentari Teacher Academy Endra Kriswanto MM dan dosen PPs Linguistik FIB UI Sisilia Setiawati Halimi PhD.

“Penting saya sampaikan, pertama tentang leadership itu sendiri karena di sini adalah Muhammadiyah’s School Leaders Forum. Maka, satu hal yang selalu ingin saya ingatkan kepada kawan-kawan, leadership itu adalah how to translate vision in to reality,” jelasnya.

Syarat utamanya tentu saja pemimpin harus punya visi dan mampu mengaplikasikannya. Setiap pemimpin dan sekolah/madrasah harus punya visi. Visi yang saling berkait.

“Visi sekolah itu diorientasikan untuk mencapai tujuan tertentu dengan jangka waktu yang panjang dan filosofis penuh makna. Yang sangat bermakna buat manusia. Karena pendidikan itu buat manusia,” tambah Arbaiyah.

Kedua, seorang pemimpin harus memahami profil siswa itu sendiri. Tujuannya, sebagai upaya mewujudkan karakter utama siswa Indonesia. Yakni, siswa yang religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan berintegritas.

“Di dalam filsafat manusia itu yang wajib dipelajari hanya empat sebenarnya. Yakni, pendidikan moral, ada agama di situ, matematika, dan sains, dan bahasa. Empat itulah sebenarnya yang harus kita dikuasai dan harus ditransferkan yang harus di internalisasikan oleh sekolah.”

Maka, apa kaitannya dengan bahasa? Bahasa ini menjadi bagian dari budaya. Sebab, di dalam bahasa pasti ada budaya. Pendidikan Muhammadiyah juga memberikan porsi penting untuk internalisasi bahasa, termasuk bahasa Inggris.

“Sekolah Muhammadiyah yang sudah mengembangkan bahasa Inggris secara bersamaan dengan penuh komitmen, maka sekolahnya pasti kualitas,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua FOSKAM SD-MI Jatim Muhammad Syaikhul Islam MHI menegaskan bahwa FOSKAM ingin berbagi dan saling menguatkan sekolah-sekolah satu dengan yang lain.

“Mudah-mudahan acara ini jadi sarana berbagi ilmu berbagi pengalaman yang terutama tentang menyiapkan asesmen ketuntasan minimum (AKM) pada bulan September atau Oktober tahun ini, yakni mereka yang duduk di kelas 5,” terang pria yang juga Kepala SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya itu.

Ustadz Icool, sapaannya, mengatakan, FOSKAM SDN-MI Jatimu akan senantiasa menghasilkan produk bermutu yang bisa dirasakan segenap peserta. Khususnya pada level teman-teman di SD dan MI Muhammadiyah di Jawa timur. “Saya juga menyampaikan terima kasih kepada pihak Mentari Books yang telah menjadi sponsor utama pada acara hari ini. Mudah-mudahan ini bukan kali pertama dan terakhir,” ujarnya.

Pihaknya ke depan akan mengadakan event-event serupa seperti ini atau yang lebih menarik lagi. Supaya resonansi kemajuan bisa ditingkatkan dalam kapasitas sebagai pendidik. “Mudah-mudahan para narasumber berkenan berbagi ilmu dan pengalaman, terutama dalam bidang pendidikan. Apa kaitannya dengan tema kita hari inim, yakni tentang menyiapkan asesmen ketuntasan minimum untuk anak kita nanti yang akan dilaksanakan pada September atau Oktober tahun ini,” paparnya.

Khususnya pada aspek pengembangan pembelajaran bahasa Inggris yang dirasa sangat penting. Sebab, kata dia, di Indonesia ini bahasa Inggris masih menjadi bahasa asing. Berbeda dengan di Malaysia atau Singapura dan seterusnya. Walaupun negara yang bukan berbasis pada media dan bukan penutur asli bahasa Inggris, di negara tersebut bahasa Inggris tidak lagi menjadi bahasa asing. Tetapi sudah menjadi bahasa kedua dan bahasa ketiga.

“Artinya, juga merupakan satu hal yang sangat penting dipelajari para pelajar mereka,” ujarnya. (mul/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here