Sugeng Tindak Pak Salim, Satpam Mudipat Penggagas Gerakan Shalat Subuh Berjamaah

0
179
Almarhum H. Agus Salim semasa hidup. (Istimewa/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Keluarga besar SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya (Mudipat) dan warga Juwingan Surabaya berkabung. H. Agus Salim, salah satu tokoh kampung Juwingan yang juga bekerja sebagai petugas sekuriti Mudipat, berpulang Ahad petang (28/3/2021).

Pak Salim, sapaan akrabnya, meninggal dunia di usia 58 tahun. Ia meninggalkan seorang istri Hj Nanik Winarni Salim dan dua anak, Citra Winantoro dan Istiqomah. Pak Salim telah 23 tahun mengabdi di Mudipat.

Agus Salim wafat ketika melaksanakan tugas menjaga keamanan sekolah pada Ahad (28/3/2021) pukul 16.20. Penyebabnya adalah serangan jantung. Hari itu, Pak Salim bertugas seorang diri. Namun, di sekolah ada dua petugas kebersihan yang sedang kerja bakti. Yakni, Supriyanto dan Bagus. Kedua petugas kebersihan itu pulang sekitar pukul 15.30.

Salah satu OB, Supriyanto, sesampai di rumah ditelepon Salim yang mengeluh tidak enak badan. Maka, kembalilah Supri, sapaannya, ke sekolah membawa minyak kayu putih.

Sampai di sekolah, Supri langsung memijat dada Salim di gedung TMB lantai 1. Dirasa enakan, Supri meminta Salim agar tetap tidur di lantai beralas sajadah. Sementara itu, dia pergi menyirami taman di pelataran sekolah.

“Selang beberapa menit saya kembali, beliau (Pak Salim) sudah tak bernapas. Saya telepon Mas Udi (satpam) dan Pak Ikhul (kepala sekolah) dan beliau segera sampai ke sekolah. Dan Pak Salim sudah meninggal saat itu, ” kisah Supri.

Setelah itu, dihubungilah keluarga dan Polsek Gubeng yang datang bersama tim TGC. Lalu, jenazah dibawah ke RSUD dr Soetomo petang itu. Setelah itu, jenazah diantar ke rumah duka bakda Isya sekitar pukul 19.55.

Almarhum dikebumikan Senin pagi pukul 08.00 di Makam Islam Juwingan. Pagi itu pengantar jenazah Salim ke peristirahatan terakhirnya sangat banyak.

Suasana saat almarhum mau dikebumikan di Makam Islam Juwingan. (Mul/Klikmu.co)

Gerakkan Shalat Subuh Berjamaah

Ikhwan, sahabat almarhum, pada pidato duka usai menshalati almarhum di Mushalla Syamsuddin Juwingan mengatakan, warga kampung merasakan telah kehilangan orang baik yang ramah itu. Warga RT 9 itu semasa hidup selalu dikenal bersahaja.

“Beliau adalah saudara sahabat ayah eyang. Beliau yang jelas adalah ayah bagi kampung ini,” jelas mantan ketua RW 11 itu di hadapan para pelayat.

Dia mengatakan, Salim semasa hidup banyak menorehkan kebaikan. Baik di kampung maupun di sekolah. Ia sosok yang gigih dan ramah pada semua orang dan murah senyum.

“Beliaulah penggagas gerakan shalat Subuh berjamaah. Awalnya beliau mengutarakan kegelisahannya kepada saya. Bagaimana caranya agar banyak orang yang mau shalat jamaah di masjid kampung. Utamanya saat shalat subuh,” terangnya.

“Kemudian beliau punya gagasan menarik. Yakni, gerakan shalat Subuh berjamaah. Caranya waktu subuh beliau datang ke mushala membawa satu jeriken kopi. Kemudian ibu-ibu membawa camilan. Alhamdulillah, gerakan ini berhasil. Shalat Subuh berjamaah selalu ramai hingga saat ini,” beber Ikhwan.

Ikhwan menilai gagasan almarhum sangat bermanfaat. “Kami bersaksi almarhum adalah orang yang baik. Saya mewakili keluarga mohon maaf atas salah dan khilaf nggih. Semoga Allah menerima semua amal saalihnya, mengampuni semua dosanya, dan Allah SWT memberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin,” tutup Ikhwan.

Sementara itu, Kepala Mudipat M. Syaikhul Islam MHI beserta keluarga besar Mudipat pun merasakan kehilangan karyawan terbaiknya itu. Di sekolah Agus Salim adalah karyawan senior yang banyak memberikan teladan kepada juniornya.

“Kami sangat kehilangan beliau. Kita doakan semoga beliau husnulkhatimah. Mendapatkan ampunan atas segala kekhilafan, diterima segenap amal ibadah, dan mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Amin yra,” ujar Ustadz Syaikhul.

Duka mendalam juga dirasakan para guru Mudipat. “Ya Allah, ustadz-ustadzah pagi tadi, beliau segar bugar bersih-bersih rumah, selesai olahraga. Saya sempat menyapa beliau,” kata Wiwik, guru Mudipat yang juga tetangga Pak Salim.

“Saya 21 tahun kerja di Pucang. Tidak pernah ada masalah dengan beliaunya. Beliau sangat ramah dan sopan. Tiap menyapa selalu diimbuhi dengan nama. Nggih, monggo, Bu Luluk,” tiru Bu Luluk , guru Mudipat lainnya.

Sugeng tindak, Pak Agus Salim. Mugi husnulkhatimah. (Mul/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here