Sumber Penyakit Itu Hati, Bukan Makanan

0
292
Ilustrasi diambil dari med-core.com

KLIKMU.CO

Oleh Sudono Syueb*)

“Makanlah selagi kamu punya. Dulu kamu miskin, tak bisa makan, masak sekarang kaya juga ga boleh makan,” demikian kata seorang dokter ahli gizi yang juga santri menggoda pasiennya.

“Jadi boleh makan apa saja, dok? Gak ada pantangannya, dok?” tanya pasien itu sambil tersenyum. “Boleh, boleh. Sakit itu kebanyakan dari hati, 80% hati menyumbang penyakit pemiliknya, sementara makanan hanya menyumbang penyakit 20%,” jawab dokter itu mantap.

Apa yang disampaikan dokter itu insyaallah benar. Allah swt. telah berfirman.

فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ ۙ فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًا ۚ وَّلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ۢبِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih karena mereka berdusta.” (QS Al-Baqarah: 10)

Kenapa hati mereka sakit? Karena mereka menolak kebenaran yang datang dari Allah dan Rasul-Nya. Hal ini telah Allah swt. firmankan dalam Alquran.

وَاَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا اِلٰى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوْا وَهُمْ كٰفِرُوْنَ

“Dan adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit, maka (dengan surat itu) akan menambah kekafiran mereka yang telah ada dan mereka akan mati dalam keadaan kafir.” (QS At-Taubah: 125)

Kalau hati sudah sakit, ia akan mengeras seperti batu, bahkan lebih keras dari batu. Allah swt berfirman.

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوْبُكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ اَوْ اَشَدُّ قَسْوَةً ؕ وَاِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْاَنْهٰرُ ؕ وَاِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَآءُ ؕ وَاِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ ؕ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras sehingga (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras. Padahal, dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang (airnya) memancar daripadanya. Ada pula yang terbelah, lalu keluarlah mata air darinya. Dan ada pula yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah tidaklah lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Baqarah: 74)

Macam macam penyakit hati menurut Islam, yaitu sebagai berikut.

1. Sombong dan Riya’

“Janganlah kalian berjalan di muka bumi dengan penuh kesombongan.” (QS Al-Isra’: 37).

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang berbuat karena riya.” (Al-Ma’un: 4-6)

Larangan untuk bersikap sombong sudah tercantum jelas dalam Alquran. Sifat sombong adalah penyakit hati nomor 1 yang diidap banyak orang, bahkan parahnya lagi orang tersebut tidak sadar dengan penyakit hatinya.

Orang sombong selalu menganggap perbuatannya benar dan orang lain salah, memamerkan kehebatan, harta, prestasi, dan lainnya hingga membuat orang lain tidak nyaman dengannya.

Selain di dunia dia akan mendapat nama buruk, karena sering menyombongkan miliknya, dia juga akan mendapat siksa di neraka karena kesombongannya itu. Harus cari cara untuk menghilangkan sifat sombong.

2. Ujub atau Kagum dengan Diri Sendiri

Rosulullah saw. bersabda.

“Tiga hal yang membinasakan: Kekikiran yang diperturutkan, hawa nafsu yang diumbar, dan kekaguman seseorang pada dirinya sendiri.” (HR Thabrani)

Mengagumi diri sendiri secara berlebihan agak mirip dengan sifat sombong. Bedanya ujub belum tentu bersama dengan keyakinan untuk menolak kebenaran.

Seseorang yang ujub dipicu karena mendapat banyak pujian dari orang lain, memiliki banyak pengetahuan, dikenal banyak orang, sering mendapat kesuksesan, memiliki fisik dan penampilan menarik, mendapatkan sesuatu dengan mudah padahal orang lain susah memperolehnya.

Faktor-faktor dari luar tersebut jika tidak dikondisikan akan membuat hati menjadi ujub. Baiknya ketika mendapat kelebihan segera ucapkan hamdalah dan tambah rasa syukur diri kepada Allah swt.

3. Kikir dan Bakhil

Sifat kikir biasanya dimiliki oleh orang kaya tapi tidak sedikit juga orang miskin juga menderita penyakit hati berupa kikir. Sifat kikir muncul karena rasa cintanya pada harta benda yang telah dia miliki, sehingga tidak mau berbagi dengan orang lain.

Orang kikir merasa apapun yang dimiliki adalah karena usaha dia sendiri jadi orang lain tidak boleh mengganggu dan meminta dari harta yang dia miliki.

“Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.” (Al-Lail: 8-11)

Sejatinya, harta itu adalah titipan dari Allah swt. yang kapan saja bisa diambil. Namun terkadang orang menjadi lalai dengan hartanya. Maka kita musti selalu ingat untuk bersedekah karena dengan sedekah harta menjadi lebih berkah.

4. Iri dan Dengki

Pasti pernah bertemu dengan orang yang iri dan dengki, mudah saja ditemui dan diketahui cirinya.

Orang yang iri akan terlihat sedih ketika mendapati orang lain bahagia. Dan merasa bahagia ketika orang lain merasa sedih atau mendapat musibah. Orang yang iri biasanya akan mencelakakan orang lain dengan tulisan, lisan, atau perbuatan.

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (An-Nisa’: 32)

5. Sum’ah

Penyakit hatu sum’ah memang sungguh hina dan tersembunyi dengan rapat. Sum’ah adalah memperdengarkan atau membicarakan tentang amalan-amalan ibadah yang dia lakukan. Awalnya ibadah yang dilakukan secara diam-diam, tapi dia akan memberitahukannya pada orang lain untuk mendapat keuntungan.

Sebagai contoh, ketika ada seorang publik figur yang menyumbangkan dana di panti asuhan, dia mengundang banyak wartawan untuk mengekspos kegiatan yang dilakukan. Perbuatan ini dilakukannya untuk mendapat simpati dari khalayak dan nama baiknya sebagai artis akan semakin terkenal.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia.” (QS Al-Baqarah: 264). [*]

*) Dosen Fikom Unitomo Surabaya dan Alumni Pesantren YTP Kertosono.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here