Sunni vs Syiah: Konflik Politik yang Diagamakan

0
399
Kiai Nurbani Yusuf (foto pribadi)

Oleh Kiai Nurbani Yusuf

KLIKMU.CO

Sunni dan Syiah adalah produk konflik politik masa lampau yang diagamakan. Dirawat dan dilembagakan, bahkan dibukukan dalam bentuk paling rigid ke dalam urusan akidah, fikih, dan muamalah. Konflik politik pun berubah menjadi perang antariman.

Jika dibiarkan berlarut, tidak menutup peluang konflik pasca-Pilpres 2019 akan masuk pada wilayah paling sensitif: akidah. Yang kalah dan yang menang terus berebut benar. Ungkapan rezim zalim, rezim kafir, rezim munafik, hizbu-allah dan hizbus-syaithan, perang badar, kadrun, cebong terus dituduhkan kepada lawan politik.

Istilah-istilah teknis agama masuk pada wilayah politik praktis. Jadilah konflik politik seakan perang antariman. Sungguh mengerikan.

Sejarah konflik rebutan khilafah masa sahabat juga hampir mirip. Masing-masing pengikut terus mencari pembenar, bahwa hanya kekompoknya yang benar dan yang lain salah. Kemudian membawanya pada wilayah teologis dan agama dijadikan bahan bakar untuk membangun girah dan militansi. Semua membangun fanatisme atas nama iman untuk berebut kekuasaan. Umat menjadi korban.

Di setiap etape, di setiap masa, selalu saja ada orang macam Yahya Waloni dan Yusuf Roni, si mualaf dan si murtad, keduanya sama. Sama-sama menjadi penceramah pada agama yang baru dipeluknya. Sama-sama menjelekkan agama sebelumnya. Si mualaf Yahya Maloni di setiap mimbarnya selalu menjelekkan Kristen, pun dengan si murtad Yusuf Roni di setiap ceramahnya selalu menjelekkan agama Islam yang pernah dipeluknya.

Dua orang tak patut dipuji, apalagi diikuti—dua sikap buruk. Dia akan memuji-muji di saat senang dan menguntungkan, kemudian pergi sambil mencaci maki setelah keinginan tidak lagi didapatkan.

Islam dan Kristen tak butuh orang macam itu. Islam dan Kristen tidak akan menjadi besar dengan kedatangannya dan tidak akan menjadi susut dengan perginya. Kecuali kebencian, konflik, dan permusuhan yang ditebar untuk mendapatkan aplaus atau riuh dari penonton yang tak sepenuhnya mengerti.

Kenapa begitu? Ini tak lebih hanya soal karakter. Suka menjelekkan dan menggunjing pihak yang tak disukainya. Apa yang “tak disukainya” pun kadang karena faktor sosial-politik-ekonomi saja. Bukan karena faktor munculnya getaran hati nurani. Ini bukan soal ‘hidayah’ yang ia dapatkan. Tapi soal status dan pendapatan. Semacam pengakuan bahwa dirinya ada dan dibutuhkan.

Migrasi agamanya seperti migrasi politik bukan karena hidayah. Ia tidak mendapati manisnya hidayah kecuali kebencian dan permusuhan yang terus berkecamuk dalam hatinya.

Tapi, ada seorang tokoh yang pindah agama dan tetap baik pada agama sebelumnya, Kristen. Ia mualaf tanpa pretensi membenci atau menjelekkan agama masa lalunya. Bahkan ia akrab dan menjalin hubungan baik dengan tokoh agama Kristen.

Cendekiawan masyhur, Dr Arief Budiman, almarhum. Ia akrab dengan Gus Dur. Ia juga akrab dengan Romo Mangun, Aristides Katopo, dan lain-lain yang beragama Kristen atau Katolik. Arief Budiman menjalani masa mualafnya dengan hening, pertobatan, dan perenungan spiritual. Semoga Dr Arief Budiman mendapatkan manisnya iman. wallahu taala a’lm.

@nurbaniyusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here