Ta’aruf, Tafahhum, Ta’awwun,Takaaful Kunci Kemenangan Umat Islam

0
265
Wakil Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr Yunahar Ilyas, Lc. M.Ag dalam Pengajian Pencerah Ahad Pagi.

KLIKMU.CO- Istilah yang sering digunakan adalah Al ukhuwah islamiyah bukan Al ukhuwah imaniyah, karena iman itu di ukur dengan Islam. Kalau sudah resmi islamnya maka tidak perlu dipertanyakan lagi keimanannya.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr Yunahar Ilyas, Lc. M.Ag dalam pengajian Ahad Pencerah Majelis Tabligh PDM Surabaya di Ruang Pertemuan Gedung Dakwah muhammadiyah Kenjeran Jl Platuk 104 Kenjeran Surabaya, Ahad (28/7/19).

Yunahar Ilyas, mengatakan, disini ditulis merajut, merajut ukhuwah, tapi kalau dalam bahasa Al quran disebut Ishlah.

“Dalam surat Al hujurat ayat 10 yakni Innamal mukminuuna ikhwatun faashlihu baina akhawaikum. Jadi, faaslihuu itu ishlah, memperbaiki menuju yang lebih baik, alishlah ilaa maahuwal ishlah, tsummal ashlah fal ashlah jadi tidak bisa berhenti, terus. Al ishlah, memperbaiki, ilaa maahuwal islah, kepada yang lebih baik, tsummal ashlah, jauh lebih baik. Fal ashlah, jauh lebih baik lagi,”paparnya.

Ustadz Yunahar-sapaan akrabnya-menjelaskan,

“kalau bahasa spanduk merajut, seperti ibu-ibu merajut, merajut biar kokoh dia, kalau di Al quran disebut innamal mukminuuna ikhwatun, sesungguhnya orang beriman itu bersaudara, akur, biasanya digunakan karena hubungan sedarah. Tetapi ini digunakan dalam hubungan iman, Hubungan iman itu sama dengan hubungan sedarah, bahkan dalam beberapa hal lebih kuat”,tukasnya

Lebih kanjut beliau menambahkan

“Jadi, disebut disitu bahwa sesungguhnya orang beriman itu bersaudara, tetapi istilah yang kita gunakan adalah Al ukhuwah islamiyah, bukan Al ukhuwah imaniyah, karena iman itu diukur dengan islam, jadi persaudaraan antar kita itu hanya bisa melihat hal-hal yang lahir, kalau iman kita tidak bisa terukur, kalau dia sudah resmi islamnya maka tidak perlu ditanyakan lagi keimanannya,”katanya.

Bagaimana cara islamnya,? Tanya ustadz Yunahar. Kalau kita hubungkan dengan ayat lain supaya ukhuwah islam itu terbentuk maka yang pertama diawali dengan Taaruf, mengenal, bukan hanya mengenal sepihak, tetapi mengenal ke dua pihak. Mengenal pendidikannya, mengenal keluarganya, kalau perlu kenal penyakit-penyakitnya.

Untuk apa Taaruf, sambungnya, untuk tafahhum, untuk saling memahami, agar tidak salah paham, mungkin beda sukunya, beda etnisnya, beda adat istiadatnya, kita tidak akan salah paham karena sudah tahu. ini teman saya ini dari medan, orang batak, wajar kalau ngomongnya tidak halus, orang medan merayu saja seperti orang marah, aku cinta kau Pak, Bapaknya saja dipanggil ‘Kau’.

“Kadang sesama Muhammadiyah bisa beda, membaca basmalah boleh di jahrkan, kalau di medan membaca keras maka diragukan Muhammadiyahnya, apalagi kalau pimpinan dari pusat. Kalau sudah memahami ditingkatkan lagi ke ta’awwun, saling tolong menolong, ketika kita mempunyai kelebihan kita bantu, ini anaknya dua mobilnya empat, kalau ini anaknya empat motornya satu, kasih kan satu, jangan seperti dua telinga yang tidak bisa ketemu,”ujarnya.

Maka kemudian, kata Ustadz Yunahar, dari Ta’awwun ditingkatkan lagi menjadi takaaful, saya tidak khawatir tidak bisa makan karena tetangga saya pasti tidak membiarkan saya tidak makan. Semua saling membantu, sehingga semua tenang dan aman,”ujarnya. (Habibie)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here