Tak Ada Hidup yang Serbainstan, “Bekerjalah!”

0
255

Oleh: R. Fauzi Fuadi *)

KLIKMU.CO

Nabi Muhammad dengan segala keagungan akhlak dan kepribadiannya mengajarkan kepada umatnya untuk selalu menerapkan etos kerja yang tinggi, dedikasi, dan keikhlasan dalam bekerja dan berkarya.

Bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup bagi diri sendiri lebih-lebih bagi keluarga adalah sebuah keharusan yang dipikul oleh semua orang, mulai dari seorang anak yang bekerja untuk dirinya sendiri sebagai pelajar, seorang ibu yang selalu mendedikasikan dirinya untuk keluarga tercintanya setiap saat, hingga ayah yang terus banting tulang demi dapur yang terus mengepul.

Seluruhnya tanpa terkecuali memang harus bergerak untuk melanjutkan hidup dan untuk generasi penerus yang diharapkan dapat menjadi lebih baik dari keudua orangtuanya. Dalam hal ini Nabi Muhammad telah menyeru kepada seluruh umatnya untuk bekerja agar tetap bertahan hidup dan mecari keberkahan darinya.

Dalam hal ini, pernah ada seorang sahabat yang datang menghadap Nabi Muhammad. Ia bermaksud meminta sedekah darinya, tetapi Nabi tak serta-merta memberi apa yang diminta, tetapi beliau menanyakan terlebih dulu harta yang ia miliki, “Adakah sesuatu (barang) di rumahmu?” Tanya Nabi.

“Ada, ya Rasulullah,” jawabnya, “Kain yang sesekali dipakai dan sesekali dijadikan alas, serta sebuah cangkir untuk minum air.”

“Bawalah kepadaku!” pinta Nabi. Sahabat tersebut kemudian pulang ke rumah. Tak lama kemudian, ia datang lagi dengan membawa barang yang dimiliknya.

“Siapa yang mau membeli barangnya?” ujar Nabi Muhammad kepada para sahabat yang lainnya. “Saya mau membelinya seharga satu dirham,” kata seorang sahabat.

“Adakah yang mau membeli dengan harga yang lebih tinggi?” pancing Nabi. “Saya mau membelinya dua dirham,” kata sahabat yang lain.

Nabi Muhammad lalu memberikan kedua barang milik sahabat yang membutuhkan uang tersebut kepada orang yang mengajukan penawaran tertinggi tadi. Nabi mengambil uang dari orang itu.

Nabi Muhammad lalu menghadap sahabat pertama seraya berkata, “Ini uangmu, satu dirham untuk membeli makanan dan diberikan kepada keluargamu, dan sisanya untuk membeli kapak. Carilah kayu bakar kemudian juallah. Aku tak ingin melihatmu lagi selama lilma belas hari.”

Sahabat tersebut melaksanakan titah Nabi. Lima belas hari berlalu, ia pun datang lagi ke hadapan Nabi Muhammad dengan membawa serta uang dari kerja kerasnya berupa uang sepuluh dirham. Dengan pembagian lima dirham ia belanjakan untuk membeli pakaian dan selebihnya untuk persediaan makanan bagi keluarganya.

Mengetahui hal itu, Nabi Muhammad mengapresiasi kerja kerasnya sekaligus menasihatinya. “Ini lebih baik bagimu daripada kelak di hari akhir engkau bangkit dengan noda di wajahmu. Sesungguhnya noda itu hanya menempel pada wajah orang-orang fakir yang hina. Mereka termasuk golongan orang yang merugi.”

Beliau juga bersabda, “Sungguh, seandainya salah seorang diantara kalian mencari kayu bakar dan memikul ikatan kayu itu, maka demikian itu lebih baik daripada ia meminta-minta kepada orang lain, baik orang itu memberi ataupun tidak.”

Arkian, bekerja memang penuh beban, menguras tenaga dan waktu yang panjang, menghantam kita dengan lelah dan penat yang tak berkesudahan. Ini pula yang dilakukan Nabi Muhammad saat masih diasuh oleh pamannya, Abu Thalib. Seperti dilansir _tirto.id,_ ketika sudah cukup umur untuk bekerja, beliau merasa harus membantu meringankan beban pamannya, beliau pun menjadi penggembala kambing. Dengan begitu beliau bisa mendapatkan upah sekadarnya. Upah itu kemudian diserahkan kepada pamannya. Abu Thalib pun merasa bersyukur mempunyai keponakan yang baik hati.

Saat menjadi penggembala, sedikit pun Nabi tak mengeluhkan pekerjaannya. Muhammad Husain Haikal dalam Sejarah Hidup Muhammad, mengisahkan babak kehidupan Nabi dengan penuh romantisme.

“Pada siang hari, di tengah udara dan suasana yang agak bebas, serta di bawah paparan sinar matahari, dan di malam hari ditemani kemilau bintang-bintang, penggembala kambing berhati suci itu menemukan tempat yang tepat untuk berpikir dan merenung. Muhammad menerawang jauh di tengah suasana alam seperti itu dan berharap dapat melihat sesuatu di balik semua itu,” urai Haekal (hlm. 140).

Interpretasi Haekal mengarah kepada gagasan bahwa Nabi Muhammad mulai merenungi secara mendalam hal-hal ketuhanan, tanda-tanda alam, dan spiritualitas saat beliau menggembalakan kambing. Haekal juga mencatat Nabi Muhammad selalu berbangga dengan pekerjaannya sebagai penggembala.

“Musa diutus, dan dia adalah penggembala kambing. Daud diutus, dan ia adalah penggembala kambing. Aku diutus, dan aku juga seorang penggembala kambing,” ujar sang Nabi dalam sebuah hadits.

Dinukil dari riwayat-riwayat shahih dan mutawatir

*) Jurnalis media daring dan pembina khusus di Ponpes Karangasem Paciran

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here