Tak Ada Tempat bagi Pemimpin Diktator

0
326
Kiai Nurbani Yusuf (foto pribadi)

Di Teheran 30 tahun silam, atau di Qoum pada tahun yang sama, spanduk besar bertuliskan kalimat yang kemudian menjadi deru.

***

Patung diktator Iran Reza Pahlevi dan ratu cantik Farah Dhiba tumbang. Rezim yang kokoh selama puluhan tahun roboh. Masyarakat bersorak. Riuh revolusi terus bergema, satu-satu pemimpin penyokong rezim dipenggal. Ada yang di bui, ada yang lari berburu suaka di negeri tetangga.

Kekuasaan memang berharga mahal, bahkan sangat mahal. Di dunia yang katanya beradab tetap saja abai pada adab. Bagi si kalah jangan ada tempat, dan bagi si menang kekuasaan akan dipegang dengan pongah.

Setiap raja selalu memilih mana putranya yang tetap hidup atau dibunuh dengan berbagai cara untuk mengamankan putra mahkota melenggang berkuasa menggantikan. Begitulah hukum kekuasaan berjalan.

***

Di masa pandemi data kesehatan menjadi penting agar tidak membahayakan kesehatan banyak orang. Presiden Trump mengaku. Pangeran Charles mengaku. Perdana Menteri Borris Johnson mengaku. Para menteri, gubernur, dan kepala daerah juga mengaku, termasuk Gubernur Anies dan Ketua PB NU Kiai Said Aqil Siroj.

Terpapar Covid-19 itu bukan kejahatan, apalagi maksiat, tapi bentuk pertanggungjawaban moral sebagai pemimpin patriot. Agar tidak mengganggu data kesehatan umat yang banyak. Pengakuan jujur membawa banyak maslahat agar yang lain terselamatkan dan terjaga darinya adalah sikap revolusioner patriot. Terlebih dari seorang pemimpin revolusi.

Akhlak dan sikap terpuji di mulai dari dirinya sendiri. Itulah contoh baik. Jadi, tak perlu kabur lewat pintu belakang atau mengubah dokumen untuk jaga image kebal Covid. Itu akhlak buruk.

Tapi, sayangnya ada yang merasa malu mengaku, karena terbiasa mengejek dan mempermalukan bila ada seorang pejabat atau pemimpin terpapar. Baginya terpapar Covid-19 itu aib. Sebab, di pikirannya hanya buruk sangka pada yang lain.

***

Jadi, apa salahnya jika terpapar. Meski mengaku putra kahyangan yang tidak tersentuh hukum atau benar salah sekalipun, sebagai konsekeensi patriotik. Jika pemimpin dianggap tak pernah salah, semua ucapan dan tindakannya adalah kebenaran tanpa interupsi, maka ia adalah calon diktator yang kebal kritik dan ringan menghukum kepada siapapun yang dianggap tidak sehaluan.

Rumah ibu tua pun jadi sasaran amuk yang penting bisa musuhan. Ia akan mudah berkata kafir, sesat, munafik. Lantas, apa yang bakal terjadi bila yang gemar berkata demikian menjadi penegak keadilan dan pegang bedil?

@nurbaniyusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here