Takbiran & Lebaran di Kopenhagen

0
108

Oleh: Arfa Darojati Hadiyanto
Warga Muhammadiyah dan Kontributor KLIKMU.CO
Tinggal di Kopenhagen, Denmark

Tepat seminggu yang lalu kita baru saja merayakan hari kemenangan. Mumpung masih berada di bulan Syawal, izinkan saya berbagi cerita tentang serunya takbiran & Lebaran di perantauan. Sudah hampir dua tahun saya menetap di Kopenhagen, Denmark. Di sini, durasi puasa cukup lama. Antara 19-20 jam. Jadi, ketika bisa menuntaskan Ramadhan, ada kelegaan tersendiri. Meski di satu sisi tentu ada perasaan yang sedih juga karena bulan yang penuh berkah telah pergi.

Jika di Indonesia Ramadhan diakhiri dengan meriahnya takbiran, di sini tentu hal semacam itu sulit ditemukan. Rasanya kangen juga kalau ingat indahnya suara takbir berkumandang di jalanan untuk menyambut datangnya hari kemenangan. Akhirnya, untuk mengobati rasa rindu, saya dan beberapa teman Indonesia mengadakan takbiran bersama. Kebetulan teman-teman sepakat untuk mengadakan takbiran di apartemen saya.

Tanggal 3 Juni 2019 pukul 21.30-an, kami mulai berkumpul. Supaya bisa sekalian berbuka puasa bersama ceritanya. Di sini waktu maghrib baru masuk pukul 21.50-an, lumayan malam. Sambil menunggu adzan maghrib, kami bersama-sama menyiapkan makanan untuk buka puasa. Seperti biasa, jika ada acara kumpul-kumpul kami memakai sistem potluck, para tamu yang hadir akan membawa makanan atau minuman, tentu yang tidak memberatkan.

Menu kami malam itu lumayan komplet. Ada opor ayam, pempek palembang, gudeg jogja, sup tomyam, paru goreng, aneka kue dan puding, juga es buah tersedia. Sangat menggugah selera kan? Saat maghrib tiba, kami segera membatalkan puasa dengan takjil, shalat berjamaah, kemudian makan besar.

Seusai makan kami lanjutkan dengan bertakbir bersama. Kami putar juga video takbiran dari YouTube. “Biar semakin meriah dan nuansanya mirip dengan takbiran di Indonesia,” kata Norka, teman saya. Terharu rasanya. Buka puasa terakhir di Ramadhan kali ini dan takbiran bersama teman-teman benar-benar mengobati rasa sepi yang saya alami karena harus berlebaran jauh dari keluarga. Acara takbiran malam itu kami tutup dengan shalat Isya bersama.

Bicara soal Lebaran, Lebaran di Denmark tahun ini cukup mengejutkan. Pasalnya, 1 Syawal 1440 H jatuh lebih awal dari yang diperkirakan. Sebelumnya, Idul Fitri dijadwalkan pada 5 Juni 2019. Perubahan jadwal ini tentu membuat sebagian warga kelabakan. Kebetulan 5 Juni adalah “tanggal merah” di Denmark. Tiap tahun pada tanggal tersebut Denmark memperingati Grundlovsdag (Constitution Day). Kebanyakan warga pun tidak mengambil cuti Lebaran karena menyangka Idul Fitri tahun ini jatuh pada hari libur nasional. Siapa yang menyangka pada tanggal 3 Juni malam, Islamic Centre di Kopenhagen mengumumkan bahwa 1 Syawal 1440 H jatuh pada 4 Juni 2019.

Oiya, saat Lebaran tiba, sebagian besar warga Indonesia di Denmark akan memilih melaksanakan shalat Id di Wisma Duta Indonesia, kediaman Bapak M. Ibnu Said, Duta Besar RI untuk Kerajaan Denmark dan Republik Lithuania. Lebaran di Wisma Duta selalu istimewa. Seperti yang hampir selalu dilakukan di Indonesia, selepas shalat Id seluruh tamu akan bermaaf-maafan. Setelah itu, ada jamuan dari Bapak M. Ibnu Said & Ibu Ari Sri Lestari yang menunya adalah masakan Indonesia. Menu yang disediakan di Wisma Duta tahun ini beragam. Ada rawon, soto mi, opor ayam, sambal goreng ati, es cincau, dan masih banyak yang lainnya. Berlebaran di Wisma Duta serasa berlebaran di Indonesia.

Yang saya salut, di balik meriahnya persiapan acara Lebaran, rupanya Bapak Dubes maupun Ibu juga turun langsung ke lapangan. Bapak Dubes, misalnya, ikut membantu memasang karpet serta sajadah bagi para jamaah. Kemudian, Ibu memastikan makanan tersaji dengan baik dan dalam jumlah cukup. Pak Dubes berkata, dirinya tidak segan untuk membantu langsung agar terbangun rasa kebersamaan. Kemudian, saat ditanya apakah perubahan tanggal pelaksanaan Lebaran menyulitkan atau tidak, Bapak Ibnu dan Ibu Ari mengatakan tidak terlalu menyulitkan. Bapak dan Ibnu berkata, tim KBRI Kopenhagen sudah terbiasa kompak menyiapkan acara dadakan. Sementara Ibu Ari bercerita bahwa dirinya bersama tim masak KBRI sudah menyiapkan bumbu makanan sejak jauh-jauh hari. Jadi, tidak terlalu masalah meski Lebaran maju sehari.

Khotbah shalat Id di Wisma Duta Kopenhagen tahun ini dibawakan oleh Ustadz Dr Ing Rahmat Suryana. Dia menyampaikan tentang 5 ciri orang yang bertaqwa, yaitu senang berinfaq baik di waktu lapang maupun sempit, selalu menahan amarah, senang memaafkan orang lain, senang berbuat kebaikan di mana pun dan kapan pun, dan terakhir selalu waspada terhadap dosa. Ustadz Rahmat juga memberikan tip agar kita bisa istiqamah dalam ketaqwaan. Pertama, selalu berdoa kepada Allah. Kedua, berusaha menjaga keikhlasan dalam ibadah. Ketiga, rutin beramal meski sedikit. Keempat, rajin bermuhasabah (introspeksi diri). Kelima, memiliki teman yang shaleh . Dan keenam, melakukan puasa Syawal dan puasa sunah lainnya.

Sekitar pukul 13.00, saya sekeluarga meninggalkan Wisma Duta. Di perjalanan pulang, taman di sebelah apartemen kami terlihat ramai sekali. Setelah kami intip, ternyata di sana sedang ada bazar besar-besaran menyambut Lebaran. Berbagai permainan, stan penjualan makanan dan minuman, bisa ditemukan di sana. Ratusan umat muslim tampak memadati area bazar. Melihat banyak playground dadakan yang asyik untuk dicoba, akhirnya Alya-Noura, putri kami, minta berhenti sejenak di bazar tersebut. Beruntung saat Lebaran lalu, cuaca di sini sangat cerah. Kami pun bisa menikmati berbagai wahana outdoor yang tersedia di bazar dan merayakan Idul Fitri bersama umat muslim dari berbagai bangsa yang tinggal di Kopenhagen.

Lagi-lagi, kami hanya bisa mengucap syukur. Alhamdulillah, walau jauh dari keluarga, momen takbiran dan Lebaran kami tahun ini amat berkesan dan rasanya justru akan kami rindukan di masa-masa mendatang. Akhir kata, sebagaimana yang disampaikan Ustadz Rahmat dalam khotbah shalat Id di Wisma Duta, semoga kita bisa menjaga ketaqwaan kita pasca-Ramadhan. Semoga kita dapat terus berada di dalam jalur yang benar, tetap berhati-hati dalam meniti kehidupan, dan tetap senantiasa beribadah kepada Allah meski sudah mengakhiri Ramadhan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here