Takziah Intelektual: Jejak Aktivisme dan Pemikiran Ekonomi Islam Pendiri IMM UB Dr Arief Hoetoro

0
99
Takziah Intelektual Dr Arief Hoetoro melalui Zoom oleh Forum Komunikasi Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (Fokal IMM) Malang Raya dan Koordinator Komisariat (Korkom) IMM UB. (Tangkapan layar oleh Andi Fauzianto).

KLIKMU.CO – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) baru saja kehilangan kader terbaiknya. Aktivis dan sosok intelekual Dr Arief Hoetoro meninggalkan kita semua pada 16 September lalu.

Arief Hoetoro merupakan salah satu pemikir ekonomi Islam dan juga pendiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Universitas Brawijaya (IMM UB). Semasa hidupnya, Dr Arief menghabiskannya untuk menggeluti dunia keintelektualannya sebagai dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UB, terhitung dari tahun 1995 hingga 2020, dan juga dipercaya sebagai Ketua Prodi Jurusan Ekonomi Islam (Kaprodi Ekonomi Islam).

Ia juga aktif dalam menulis. Publikasi tulisan sang peneroka dalam bentuk jurnal-jurnal ilmiah dan buku-buku, di antaranya, yang pertama adalah Ekonomi Islam: Perspektif Historis dan Metodologis, serta yang kedua ialah Ekonomi Mikro Islam: Pendekatan Integratif.

Untuk mengenang dan mendoakannya atas dedikasinya yang begitu tinggi terhadap dunia aktivisme IMM dan dunia ilmu pengetahuan, khususnya Ekonomi Islam, Forum Komunikasi Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (Fokal IMM) Malang Raya dan Koordinator Komisariat (Korkom) IMM UB mengadakan Takziah Intelektual pada Sabtu, 26 September 2020. Takziah Intelektual ini dilaksanakan dalam dua sesi.

Sesi pertama membahas dan mencatat ulang jejak aktivisme IMM dan pemikiran ekonomi Islam Arief dari kacamata sahabat, murid, kader, dan karib intelektualnya.
Acara ini dibuka oleh pemaparan Aktivisme IMM dan Pergulatan Intelektual Arief Hoetoro oleh Ramliyanto, Ketua Fokal IMM Malang Raya.

Dia mengisahkan saat dirinya awal-awal menjadi mahasiswa di Fakultas Pertanian Universitas Muhammdiyah Malang (UMM). Arief Hoetoro mulai bertanya kepada teman-temannya, “UMM ini bayar royalti berapa kepada Muhammad untuk mengambil namanya?”

Dari situ dia gelisah dan berpikir jikalau harus ada pembeda antara Fakultas Ilmu Pertanian Universitas Muhammadiyah dan universitas yang bukan Muhammadiyah. Harus ada integrasi ilmu pengetahuan pertanian dan ilmu pengetahuan Islam serta nilai-nilai keislaman.

Sementara itu, kata Ramli, dunia aktivisme IMM Arief dimulai ketika mengikuti Masa Kasih Sayang Anggota (MAKASA) di UMM. Menurutnya, Arief Hoetoro yang merupakan temannya ini berbeda. Minatnya pada diskusi ilmu pengetahuan pada saat kuliah di Fakultas Pertanian, di mana dia mendorong adanya diskusi yang mengaitkan Ilmu Pengetahuan Islam dan Ilmu Pengetahuan Pertanian, di mana semangat akan keilmuan Islam berangkat dari kultur pesantren. Akhirnya, berdirilah sebuah komisariat Fakultas Pertanian, yang dinamai oleh dirinya bernama Islamic Study Circle.

Menurut Ramliyanto, seorang Arief Hoetoro berpikir bahwa ilmu pengetahuan Islam dan ilmu pengetahuan lainnya tidak bergerak di ruang hampa. Setiap ilmu pengetahuan pasti berurusan dengan pendekatan-pendekatan ilmu lainnya dan keadaan di sekitarnya di sebuah ekosistem, dengan kondisi sosial budaya yang ada di sekitarnya.

“Hal tersebut menjadi dasar pemikiran Arief Hoetoro dalam memandang ilmu pengetahuan hingga menjadi akademisi di Universitas Brawijaya,” paparnya.

Pada tahun 1990, ia mendaftar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Dari sinilah dimulai aktivisme dan mendirikan IMM di Universitas Brawijaya, sekaligus menjadi ketua cabang IMM Malang Raya untuk pertama kalinya yang berasal dari Universitas Brawijaya yang didukung oleh teman lamanya di Universitas Muhammadiyah Malang.

Ramliyanto menjelaskan, yang bisa dipelajari dari Arief Hoetoro sebagai pemikir ialah, dia mau berorganisasi serta mengejahwantahakan pemikirannya di ruang organisasi. Pemikirannya tidak bergerak liar di ruang hampa atau di luar organisasi.

“Berbeda dengan pemikir lainnya, yang notabane tidak mau berorganisasi karena akan menghambat pemikirannya,” tegasnya.

Kesaksian selanjutnya disampaikan oleh Ali Sakti selaku peneliti Bank Indonesia, yang juga ketua Alumni IIUM (Internasional Islamic University Malaysia), tempat Arief Hoetoro menggali dan menimba ilmu doktoralnya di bidang ekonomi Islam.

Ali Sakti mengatakan, dirinya kehilangan teman diskusi seorang fisuf ekonomi Islam yang memiliki pemikiran yang cukup komprehensif. Hal itu, menurut dia, tecermin dari buku Ekonomi Islam beliau, yang cukup istimewa dibandingkan dengan buku sejenisnya, karena ruang lingkupnya dan luasnya pemikiran Arief Heotoro.

“Saya kehilangan sosok Arief Hoetoro, yang dalam diskusi circle alumnus IIUM selalu membahas ekonomi islam secara out of the box,” paparnya.

Ke depan, setelah diskusi ini, jejak aktivisme IMM dan pemikiran Arief Hoetoro terkait ekonomi Islam akan disatukan menjadi sebuah buku bunga rampai yang ditulis dari sahabat, kader, murid, dan karib intelektualnya. Rencananya, buku tersebut berisi pemikiran besar dalam ekonomi Islam yang lahir dari rahim kultur pesantren yang dirawat dalam dunia aktivisme IMM serta dikembangkan dan disebarluaskan dalam pergulatan intelektualnya selama menjadi dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya. (Adi Fauzanto/Chusnus Tsuroyya/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here