Tantangan Muballigh Muhammadiyah Perangi Radikalisme di Dunia Maya

0
221
Muhammad Arifin memberikan suntikan pemahaman tentang radikalisme kepada KMM di Masjid Al Muhajirin Surabaya. (Habibie/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – “Muballigh itu memiliki peran yang sangat strategis dalam mengikis atau meminimalisasi permasalahan dan penyebaran paham radikal yang sangat luar biasa. Paham radikal bisa masuk di pengurus, jamaah, pengajian, dan lainnya.”

Demikian disampaikan Kepala Bidang (Kabid) Agama Sosial Budaya BNPT-FKPT Jawa Timur Ustadz Muhammad Arifin MAg dalam silaturrahim Korps Muballigh Muhammadiyah (KMM) Majelis Tabligh PDM Kota Surabaya di Masjid Al Muhajirin, Jl Jojoran 1/77, Gubeng, Surabaya, Senin (15/3/2021).

Arifin menjelaskan, manusia harus mendapat kemuliaan di sisi Allah. “Apa artinya dimuliakan oleh manusia kalau tidak dimuliakan oleh Allah. Apa artinya disayang manusia kalau tidak disayang oleh Allah,” ujarnya.

Menurut dia, kasih sayang manusia itu terbatas ketika kita hidup. Tetapi ketika kita mati, sifat itu telah putus. “Tetapi ketika disayang Allah, akan selamanya. Karena itu marilah kita berusaha bagaimana kita ini disayang dan disanjung oleh Allah,” katanya.

Menurut Ustadz Arifin, sekarang perkembangan teknologi sangat luar biasa. Dengan semakin canggihnya teknologi, akal manusia tidak bisa menjangkau.

“Kita berada di dunia gaib. Kalau dulu kita belajar kitab, seperti kita imriti, jurmiyah, dan lainnya yang penting hafal dulu, praktiknya kemudian. Maka, kemudian kalau kita tidak mengikuti perkembangan zaman, kita semua akan ketinggalan,” ucapnya.

Contohnya, ada anak belum genap usia satu tahun sudah terpengaruh oleh YouTube. Karena orang tuanya tidak memperhatikan dengan baik. “Ini contoh yang tidak bisa memanfaatkan media dengan baik,” katanya.

Ustadz Arifin menjelaskan, penyebaran radikal melalui dunia maya sangat cepat pengaruhnya terhadap kehidupan manusia. Kemudian, generasi milenial hanya menerima belaka. Maka, mudah terpengaruh.

“Anak yang cerdas, punya intelektual tinggi, tetapi agamanya lemah, maka diajak dan dikosongkan dulu pikirannya yang akhirnya mereka masuk ke kelompok tersebut,” jelas Ketua LDK PWM Jawa Timur itu.

Ia lantas mencontohkan ada satu mahasiswa Unair yang harus mundur dari kuliahnya dan berangkat ke ISIS. Lalu dia mati di sana. “Dari mana mereka bisa tahu tentang gerakan itu? Ternyata mereka kenal dari internet, belajar di sana, bahkan sampai nikah pun melalui internet atau dunia maya<’ tegasnya,” paparnya.

Menurutnya, muballigh harus menyampaikan dakwah sesuai dengan rambu-rambu Al-Quran. “Saya sering kali menggambarkan bahwa Al-Quran sebagai rambu yang kita tidak bisa menggugat, begitu juga Pancasila. Yang dibidik adalah ketika muballigh berlebihan mengupas Pancasila di luar prim, satu ini jangan diutak-atik masalah Pancasila. Muballigh juga hati-hati dengan kalimat ‘Lebih tinggi mana Pancasila dengan Al-Quran’. Perlu kita sadari bahwa Pancasila sebagai cerminan dari syariat Islam,” tegasnya.

Dia lantas menjelaskan bahwa embrio terorisme berawal dari kasus intoleran, penyakit hati, tidak suka kepada orang lain, radikal, rencana jahat, teroris, aksi. Ciri radikal dan teroris tidak menghormati perbedaan, fanatik terhadap pendapatnya sendiri. “Oleh karena itu, tugas kita semuanya adalah memutus mata rantai ini agar tidak menjadi teroris,” kata muballigh FIAD itu.

“Adapun faktor-faktor yang memengaruhi penyebaran paham radikal di kalangan milenial atau generasi muda karena melemahnya peran keluarga, pendidikan keagamaan yang quo vadis, lingkungan pergaulan yang salah, dan kurangnya literasi yang kuat,” pungkasnya. (Habibie/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here