Tarhib Ramadhan: Covid-19, Aisyiyah dan Bulan Mulia

0
357
Foto diambil dari okenews.co.id

KLIKMU.CO

Oleh: Uzlifah*

Ramadhan 1441 H mengingatkan kita pada sosok perempuan Ibu, yang mendasarkan nalar spiritualitas dengan gerak kasih sayang, terbukti dimasa sulit seperti ini, saat pandemi virus corona para perempuan telah berjibaku untuk bersama lainnya bersatu melawan corona, baik bergerak secara personal maupun secara berjamaah melalui organisasi kemasyarakatan maupun komunitas – komunitas.

Aksi mereka telah tersiar diberbagai media, baik media cetak maupun media sosial. Tidak sedikit kaum papa telah merasakan hasil dari aksi – aksi sosial para ibu.
Sifat empati pada sesama dan jiwa dermawan yang sangat besar telah melebihi rasa sayang pada dirinya sendiri. Dengan berbekal pengamanan seadanya, memakai masker, selalu siap dengan hand sanitizer, mereka mampu menghasilkan sesuatu yang lebih. Kita lihat saja para aktivis Aisyiyah.

Mereka yang tidak semua orang kaya, mereka yang bukan pejabat tapi masih mampu menyisihkan hartanya untuk saudara – saudara yang saat ini terlalu banyak yang patut disantuni. Dua hari yang lalu penulis mendengar obrolan dua aktivis Aisyiyah .
“ Bu Ami sesuk isuk blonjo ta, kulakan nang pasar?”, tanya bu Nina ( bukan nama sebenarnya) dengan logat Jawa .
“Gak bu, wes rong minggu gak kulakan, gak ono seng nukoni “, jawab bu Ima.
“Yo ngene iki podho kabeh, naksi yo sepi, tukang parkir yo podho sambat gak ono seng parkir “, sambung bu Nina.

Dari obrolan kedua ibu tersebut bisa diketahui bahwa saat ini mereka tidak ada penghasilan, tapi hebatnya mereka berdua masih menyerahkan uang kepada ketua ranting yang ada di kota Malang untuk disumbangkan peduli masyarakat terdampak ciovid -19.
Tanpa ada instruksi dari Pimpinan diatasnya, mereka telah bergerak dengan cepat . Sejak berlakunya social distancing dan physical distancing tanggal 16 Maret lalu, praktis semua agenda Aisyiyah berhenti. Tapi berhenti dalam hal ini tetap teris bergerak penguasaan literasi yang semakin berkembang para ibu ini mampu bergerak melebihi lainnya tanpa harus berkumpul berulang – ulang untuik mermbahas persiapan tetek bengek alias rapat seperti sebelumnya saat corona belum muncul.

Praktis dalam satu bulan lebih banyak dari Ibu – ibu yang tergabung di pimpinan ranting telah melakukan baksos lebih dari sekali, tidak hanya sembako, mereka juga sangat peduli dengan para medis yang menjadi garda terdepan dalam mnelawan virus corona. Alat Pelindung Diri (APD), Hand Sanitizer dan masker juga tidak ketinggalan menjadi daftar yang harus disiapkan untuk disumbangkan pada para medis. Bahkan banyak masker yang dihasilkan dari jahitan merteka sendiri.
Penulis yakin para perempuan bisa melakukan semua itu bukan karena saking banyaknya tabungannya. Mereka rata – rata pegawai, pensiunan dan swasta. Tentulah bisa diukur berapa uang yang dimiliki. Apalagi dalam kondisi seperti ini kas – kas ranting nyaris tidak terisi, karena hampair semua pemasuklan dari kaleng yamg berputar saat pengajian maupun kegiatan – kegiatan yang lain.

Tidak hanya Aisyiyah , masjid yang juga biasanya bersinergi dalam bergerak juga sama , terhitung mulai bulan maret isi kotak amal pun turun drastis. Praktis dalam giat peduli covid -19 ini dari sisa kas yang ada, dan itu tentu tidak banyak, kemudian darimana dana lainnya? Sebagai sosok tiang utama negara perempuan – perempuan Aisyiyah ini secara otomatis akan merogoh kantong pribadi dan tidak akan menghitung berapapun yang dikeluarkan biaya untuk kegiatan taawun.

Di tengah kesibukan beramal sosial para perempuan, para ibu sekarang ini juga diberi amanah lebih dari yang lain. Profesi sebagai guru bagi putra dan putri di rumah adalah hal yang tidak boleh dianggap remeh. Faktanya karena kurang siapnya sistem pendidikan kita di era digital , membuat para guru seakan mendahkan konsep belajar di kelas ke rumah siswa masing – masing.

Niat baik para guru yang demikian mungkin bisa dibenarkan bila mengacu konsep berfikir bahwa sejatinya anak – anak sekolahnya tidak libur, sehingga apa yang menjadi program sekolah harus tetap berjalan dengan baik. Namun disisi laiinnya seakan guru tidak manusiawi dengan serta merta berharap para orang tua khususnya ibu bisa menggantikan posiksi guru. Dan asumsi ini benar terjadi karena siapapun yang namanya ibu tentu akan sangat memperhatikan petunjuk guru karena merupakan bagian dari menjalankan amanah.

Inilah fakta yang bisa kita lihat saat ini betapa perempuan mempunyai tanggungjawab empat kali lipat dari situasi normal. Bertanggungjawab sebagai masyarakat dengan kiprah sosial yang tiada henti, bertanggungjawab sebagai seoarang istri yang harus selalu siaga mendampingi suami dalam kondisi apapun termasuk kondisi yang terburuk sekalipun, kemudian bertanggungjawab sebagai seorang ibu, dimana pada situasi pagebluk corona ini sosok ibu harus bisa memerankan profesi guru dari sang buah hati selain sebagai sosok ibu yang sesungguhnya.

Apa yang dilakukan para ibu Aisyiyah dan ibu – ibu yang lain tentulah jauh lebih berat . Hebatnya para ibu ini tidak merasakan berat sedikitpun, semua serasa biasa saja. Ada tiga hal yang mendasarinya yaitu iman, ilmu dan amal . Potret perempuan di atas hanya ada pada diri perempuan dengan keimanan yang kuat. Ditunjang dengan keilmuannya, membuat para ibu bergerak sangat cepat karena sangat memahami betapa berbahayanya keganasan penyebaran covid -19.

Sementara lainnya masih sibuk diskusi sana sini. Kemudian amal, mereka berbuat tanpa ada pamrih sedikitpun , jiwa berderma adalah semangat Al Maun yang tidak diragukan lagi, karena mereka punya satu kata yang sangat menguatkan yaitu IKHLAS. Marhaban ya Ramadhan.

*Ibu rumah tangga penggagum gerakan Aisyiyah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here