Teater Gandrik Sambang Suroboyo: Kritik Koruptor yang Punya Dosa pada Negara dan Masyarakat

0
366
Teater Gandrik usai pementatasan di Ciputra Hall Sabtu lalu (7/12/2019). (Achmad San/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Manikebu menolak campur tangan politik dalam kebudayaan, sedangkan Lekra sebagai wakil partai dalam kesenian dan kebudayaan menjadikan politik sebagai panglima.” Begitulah telaah Kuntowijoyo perihal konflik antara Manifes Kebudayaan (Manikebu) dan Lembaga Kebudayan Rakyat (Lekra) puluhan tahun silam.

Nah, apa jadinya jika pada akhirnya politik “masuk” ke dunia seni? Itulah yang ditampilkan Butet Kertaredjasa, Agus Noor, dan rekan-rekannya yang tergabung di Teater Gandrik dalam lakon Para Pensiunan: 2049. Teater Gandrik sambang Suroboyo pada Jumat-Sabtu (6-7/12/2019) di Ciputra Hall.

Dikisahkan, seorang mantan presiden di negara antah berantah yang lama berkuasa dan cukup disegani meninggal dunia. Banyak yang merasa kehilangan, tak terkecuali kerabat dan handai tolan. Jenazah Pak Doorstot, nama eks pemimpin itu, akan dimakamkan.

Masalah muncul ketika Pak Kerkop, penjaga kuburan, menanyakan ke anggota keluarga soal SKKB (surat keterangan kematian baik) milik Pak Doorstot. Ya, di negara antah berantah itu, diberlakukan peraturan dalam UU Pelakor (pelaku korupsi) bahwa siapa pun yang meninggal harus memiliki SKKB agar bisa dimakamkan. SKKB diperoleh di KPK.

“Kalau tidak,” kata Kerkop sang penjaga kuburan, “jenazah almarhum yang diduga semasa hidupnya korupsi akan dibawa ke tempat pembuangan akhir.”

Para pensiunan itu kemudian diseseti agar daging dan tulangnya terpisah. Daging untuk abon, sedangkan tulang untuk pupuk. Memang, kata Kerkop dalam dialognya, seorang koruptor harus mempertanggungjawabkan perbuatannya tak hanya kepada negara dengan hukuman penjara.
“Tetapi juga dengan masyarakat. Nah, dengan tadilah utang kepada masyarakat,” katanya.

Pada akhirnya, arwah Pak Doorstot bergentanyangan ingin mencari orang-orang yang bisa membantunya. Termasuk mencari SKKB di KPK.

Di sisi lain, anak Pak Doorstot, Jacko, menggantikan ayahnya berkuasa. Sementara itu rival politiknya, Onderdel, ikut gerbong pemerintahan. Itu mengingatkan kita pada cerita Jokowi dan Prabowo yang jadi akur setelah pilpres. Bahkan Prabowo masuk ke pemerintahan Jokowi.

Banyak pesan lain yang disampaikan dalam dialog tokoh maupun antartokoh. Hal itu disesuaikan dengan kondisi pokitik yang terjadi akhir-akhir ini.

Horatius bilang, karya sastra/seni itu akan tampak baik jika mengandung dulce at utile, yaitu pendidikan dan hiburan. Nah, Teater Gandrik Sambang Suroboyo, lewat lakon Para Pensiunan: 2049, bisa melaluinya. Mendidik dengan pesan-pesan moral yang disampaikan. Menghibur karena penonton tampak menikmati perpaduan antara dialog, panggung, lampu, latar, suara, dan musik.

Dalam acara itu hadir salah satunya mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan. (Achmad San)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here