Temuan Riset: Radikalisme Bertentangan dengan Paham Keagamaan Muhammadiyah

0
234
Suasana diskusi hasil riset tentang Peran Organisasi Islam Moderat dalam Menangkal Ekstremisme Kekerasan: Studi Kasus Muhammadiyah dan NU di Jakarta. (Panitia/Klikmu.co)
http://klikmu.co/wp-content/uploads/2018/01/iklan720.jpg

KLIKMU.CO – “Hasil sebuah riset itu penting. Dan kalau tidak cocok, kita jangan antikritik. Sebab, dalam berdakwah penting untuk melihat data hasil penelitian agar kita bisa berdakwah dengan tepat.”

Hal itu disampaikan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti dalam menanggapi diskusi hasil riset tentang Peran Organisasi Islam Moderat dalam Menangkal Ekstremisme Kekerasan: Studi Kasus Muhammadiyah dan NU yang dilaksanakan oleh LDK PP Muhammadiyah di Jakarta, Rabu (15/1).

Diskusi penelitian yang dilaksanakan oleh INFID tersebut menghadirkan narasumber M. Ziyad, Ketua LDK, Ahmad Zainul Hamdi, dan Moh. Shofan sebagai peneliti. Acara dipandu oleh Faozan Amar selaku sekretaris LDK dan bertempat di Auditorium KH Ahmad Dahlan Pusat Dakwah Muhammadiyah.

Manurut Zainul Hamdi, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran dan dukungan yang dibutuhkan Muhammadiyah sebagai organisasi keislaman moderat dalam rangka melawan intoleransi dan kekerasan agama yang semakin kuat. “Salah satu hasil temuan penelitian adalah radikalisme bertentangan dengan paham keagamaan yang dianut Muhammadiyah,” ujar Zainul.

Sementara itu, Moh. Shofan mengatakan, upaya-upaya yang dilakukan Muhammadiyah untuk menghadapi radikalisme antara lain adalah jargon Muhammadiyah sebagai gerakan Islam Berkemajuan, penerbitan buku tentang Negara Pancasila sebagai Darul ‘Ahdi Wasy Syahadah, gerakan online, kaderisasi, implementasi program lembaga dan ortom serta jaringan Muhammadiyah kultural.

“Dan daya tahan Muhammadiyah terhadap ideologi radikal cukup baik, terutama di lingkungan pengurus dan kader inti,” ujar Shofan.

Menurut M. Ziyad, dai-dai Muhammadiyah yang dikirim untuk bertugas di daerah terpencil selalu diberi bekal tentang materi-materi kebangsaan. “Apalagi Muhammadiyah sudah menjadikan Pancasila sebagai Darul ‘Ahdi Wasy Syahadah melalui keputusan Muktamar Ke-47,” kata Ziyad.

Dalam diskusi tersebut juga ada penyerahan hasil penelitian oleh Aditiana Dewi Eridani, Direktur Program INFID, yang diterima secara simbolis oleh Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti. Diskusi ini diikuti oleh para dai dan mubalig dari pimpinan daerah Muhammadiyah se-Jabotabek, dosen AIK perguruan tinggi Muhammadiyah, dan aktivis ortom Muhammadiyah. (FA/Achmad San)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here