Tentang Merdeka Belajar: Nertibno Wong Ngawur Iku Luwih Gampang timbang Wong Meneng

0
376
Ketua Kampus Guru Cikal Bukik Setiawan MPSi saat menyampaikan materi tentang merdeka belajar. (Achmad San/Klikmu.co)

 

KLIKMU.CO – Muhammadiyah merespons kebijakan baru merdeka belajar yang telah digagas Kemendikbud. Salah satunya melalui Forum Silaturahim Kepala Sekolah Muhammadiyah (Foskam) SD-MI Jatim yang menggelar diskusi publik bertema “Sekolah Muhammadiyah Menyambut Kebijakan Merdeka Belajar” di Auditorium Din Syamsudddin TMB SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya, Sabtu (1/2).

Acara itu menghadirkan Ketua Majelis Dikdasmen PWM Jatim Dra Arba’iyah Yusuf MA, Pusat Analisis Dan Sinkronisasi Kebijakan Kemendikbud Dr Aulia Esti Wijiasih, serta Ketua Kampus Guru Cikal Bukik Setiawan MPSi.

Bukik Setiawan membuka materi sesi pertama tentang hakikat merdeka belajar. Bukik menyatakan, sebenarnya kepala sekolah dan guru kalau diberi kepercayaan bisa mengatur sendiri urusan pendidikan atau sekolahan. Nah, Nadiem itu adalah orang yang percaya kepada sekolah.

“Sejauh pengalaman saya ketemu guru dan kepala sekolah, mereka paham kok mana esensi pendidikan dan mana yang urusan administrasi saja,” ujarnya.

Kepala sekolah, kata Bukik, mesti mencari guru yang merdeka belajar. Guru merdeka belajar itu ialah yang ketika kuliah tidak hanya kuliah, tetapi juga berorganisasi. Juga yang baca buku tak cuma buku kuliah, tetapi juga buku yang lain.

“Kadang rodok ngawur sedikit. Nertibno wong ngawur luwih gampang timbang wong meneng. Kalau sudah aktif enak ngaturnya. Tapi kalau orang diam, susah tahu maunya apa,” tuturnya, disambut gerrr hadirin.

Bukik menerangkan bahwa impian Kemendikbud 100 persen murid-murid bisa merdeka belajar. Di riset juga terbukti, performa anak yang merdeka belajar lebih positif. Begitu juga mahasiswa. Akademiknya juga bagus. “Wis wayahe taubat nasuha, kata Bu Aulia,” ujarnya, lantas diiyakan Aulia Esti dari Kemendikbud.

Bukik mewanti-wanti karena sampai detik terakhir UN dicabut, masih ada yang percaya bahwa UN meningkatkan prestasi pendidikan Indonesia.

Tahun 2000-2014 adalah rezim ujian nasional (UN). Berdasar hasil riset, dari Semeru maupun PISA, lewat UN prestasi anak bukannya naik, tetapi justru menurun. Dalam lima tahun terakhir skor UN cenderung menurun. “Harus berapa tahun lagi (UN dijalankan, Red)?” tanyanya retoris.

Pilihannya, kata Bukik, kita harus berbalik arah, yaitu merdeka belajar. Merdeka belajar juga menggeser indikator keberhasilan murid di sekolah. “Tujuan bersekolah itu apa? Kalau metode lama orientasinya ya agar siap masuk sekolah ke jenjang selanjutnya. Bukan sekolah untuk kehidupan,” tegasnya.

Bukik menjeleaskan, abad ini sikap kita harus berubah dari siap sekolah menjadi siap hidup. Di Taman Siswa zaman Ki Hajar Dewantara dulu, katanya, kelas 6 sudah harus ngenger alias magang. Mengapa? “Belajar hidup sejak dini. Ketika terlibat dan melihat langsung, jadi paham tanyangan yag dihadapinya. Itulah yang dinamakan siap hidup,” tuturnya.

“Anak kita hidup pada abad 21, tapi dididik dengan pendidikan abad 19,” serunya kepada hadirin.

Di pengujung dialog, Bukik Setiawan mengutip kredo Ki Hajar Dewantara: …kemerdekaan hendaknya dikenakan terhadap caranya anak-anak berpikir, yaitu jangan selalui “dipelopori”, atau disuruh mengakui buah pikiran orang lain, akan tetapi biasakanlah anak-anak mencari sendiri segala pengetahuan dengan menggunakan pikirannya sendiri… (Achmad San)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here