Teroris Siapa, Benarkah Sebuah Rekayasa Negara?

0
299

KLIKMU.CO – Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur periode 2010-2014 M. Khorul Abduh, M.Si menjelaskan bahwa berkumpulnya kelompok anak muda yang di wadahi dalam Kajian Kebon Jambu Kabupaten Jombang dimaksudkan memperkuat basis literasi pengetahuan para kaum muda. Kelompok pemuda dari lintas ormas, lintas usia bahkan beragam latar belakang disiplin ilmu, itu perlahan tapi pasti, kini berkembang secara signifikan.

“Mereka yang muda perlu diperkuat literasinya, sehingga tidak terpapar berita bohong. Dimana akhir-akhir ini tak bisa dibendung dalam menyikapi realitas sosial sebab banyak sumber yang berkeliaran, maka seperti ini perlu tahu dari sumber aslinya,” jelas Abduh di hadapan puluhan pemuda saat pembukaan kajian bertajuk ‘Kembali Merajut Hidup dari Lingkaran Bom Menuju Lingkar Perdamaian’, Sabtu (22/9) lalu.

Sementara itu, Ali Fauzi Manzi, M.Pd.I Ketua Lingkar Perdamaian yang didapuk sebagai narasumber mengungkapkan, paradigma salah dalam memaknai agama tentang ayat-ayat Alquran dan sumber hadist tentang jihad yang dimaknai secara parsial dan tekstual dapat memicu tumbuh kembangnya teroris di Indonesia.

Faktor lain, kata Ali Fauzi adanya penindasan atau ketidakadilan yang dinilai kelompok tersebut oleh rezim berkuasa terhadap umat Islam juga dinilai menjadi pemicu timbulnya teroris. Lebih lanjut, faktor global bahwa umat islam selalu mendapat perlakuan tidak manusiawi oleh Amerika dan sekutunya seperti yang terjadi di Afghanistan juga penyebab timbulnya teroris di Indonesia.

Tidak kalah penting adanya sektarianisme atau pembagian masyarakat tergolong kafir dan non kafir juga menjadi faktor determinasi munculnya kelompok teroris.

Ali Fauzi mengaku, terjerembabnya ke dunia teroris karena faktor ajakan dari kakak kandungnya, Amrozi, pelaku bom Bali I. Ali Fauzi menilai bahwa teroris bukan persoalan ekonomi, banyak mereka (pelaku) dari golongan kaum mapan. Dengan begitu kesetiakawanan atau pertemanan satu lingkaran itu, juga berpotensi memunculkan teroris.

“Saya pernah menjalani hukuman di Filipina selama 4 tahun, yang mana selama di penjara saya disiksa oleh aparat polisi Filipina,” ujar mantan komandan militer di Mindanao Filipina Selatan.

Pengamat bom dan terorisme itu tidak menampik adanya faktor kombinasi antara agama dan politik kekuasaan juga menjadi determinasi munculnya teroris.Tercapainya sistem daulah Islamiyah, sebuah cita-cita ideologis yang menjadi daya dorong mereka untuk ‘berjihad’.

“Dengan demikian, operasi pengeboman atau penembakan kepada aparat kepolisian tidak lain ialah perwujudan jihad, arah yang ingin dicitakan supaya terwujud ideologinya,” ujar mantan kepala Instruktur Perakitan Bom di Jawa Timur ini padahal itu salah.

Adapun, nenih-benih kesadaran Ali Fauzi menjadi orang ‘normal’ ialah tatkala dipindahkannya dari tahanan Filipina ke tahanan Indonesia. “Semula polisi yang saya anggap thoguth (setan) ternyata sangat manusiawi. Termasuk bagaiamana sikap memperlakukan tahanan teroris,” paparnya.

“Saat itu saya diingatkan pak Tito Karnavian yang saat itu sebagai Deputi Penindakan dan Pembinaan Kemapuan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) saya selalu dijenguk juga dinasihati dan lain-lain,” katanya.

Pria kelahiran Lamongan ini menilai bahwa apa yang dilakukan mantan rekan-rekanya merupakan tindakan diluar batas. Sebab, mereka sudah melakukan bom bunuh diri di tempat-tempat yang notabene korbannya sebagian besar warga sipil. “Bukankah itu perilaku yang sudah menyimpang?” ujarnya.

Apakah teroris sengaja diciptakan? Ia tidak menampik bahwa terorisme memang sengaja diciptakan. Akan tetapi, diciptakan oleh kelompok teror tadi. Ali Fauzi menjelaskan, qdapun anggapan teroris sengaja diciptakan negara atau pengalihan isu sejatinya adalah anggapan salah. Jadi terorisme itu benar adanya. (Dul)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here