Tiga Sikap yang Harus Dimiliki Guru Menurut Ketua Forum Guru Muhammadiyah Indonesia

0
1036
Guru-guru mengikuti

KLIKMU.CO – Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Forum Guru Muhammadiyah (FGM) Indonesia mengadakan kegiatan bimbingan teknis perlindungan profesi guru Muhammadiyah di Surakarta, Jawa Tengah, pada Rabu-Jumat (17-29/11/2019). Tema kali ini adalah “Guru Muhammadiyah Berkemajuan Berdaulat Sejahtera dan Bermartabat”.

Pada hari pertama, Rabu (27/11/2019), Ketua Umum PP FGM Pahri SAg MM bertindak sebagai pembicara. Pahri menyatakan, guru Muhammadiyah harus memiliki tiga sikap mental. Pertama, berkemajuan; penampilan meyakinkan dan bangga menjadi guru. Kedua, berkarakter; disiplin, tertib, semangat (berprestasi dan berkarya).

“Ketiga, selalu berinovasi dan berkreasi tanpa dibatasi,” kata pria yang jiga menjadi kepala SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi itu.

Pahri mengutip pendapat Menkdikbud Nadiem Makarim bahwa kemajuan itu harus dimulai dari ruang belajar. “Guru jangan dibebani dengan pekerjaan administrasi yang tidak berhubungan dengan pembelajaran,” ujarnya.

Prof Dr H Baidhowi MSi, Ketua Dikdasmen PP Muhammadiyah, menambahkan, era milenial dengan generasi 4.0 adalah tantangan. “Tantangan untuk melakukan perubahan dan hal itu memerlukan inovasi dan kreativitas guru untuk terus berkarya memajukan pendidikan,” jelasnya.

Sementara itu, Dirjen GTK Kemendikbud Dr Supriano MEd menuturkan, akan ada pergeseran pelatihan besar-besaran berbasis zona. “Awalnya ada di pusat, digeser ke zona. Maka, guru harus terus berinovasi dan berkreativitas tanpa henti,” katanya.

Prof Qomariyatus Sholihah Amd Hyp ST MKes IPU menjelaskan, karakter anak tercipta dari figur seorang guru. Karena itu, didiklah mereka dengan sepenuh hati dan rasa cinta.

“Jangan punya anak kalau tidak bisa mendidik. Anak ketagihan HP karena diberi peluang oleh ortunya. Anak akan terbiasa dengan Alquran karena di rumah selalu terdengar murattal Alquran. Beri stimulus dengan sesuatu sebagai motivasi,” terangnya.

Hakikat etika profesi tendik adalah adab atau moral. Permasalahan etika profesi tendik antara lain idealisme tidak sejalan dengan fakta; berpaling dengan kenyataan mengabaikan idealisme; serta ketika profesi tendik tidak dilengkapi sanksi keras, berpangku pada kesadaran.

Prof Qomariyatus Sholihah, mereka terpaksa memilih profesi guru karena tidak ada pekerjaan lain. Sudah berlangsung sampai belasan tahun, itu tandanya orang tidak hidup alias sama dengan mesin. “Maka sadarilah bahwa kita hidup,” tegasnya.

“Guru terlihat cantik dan tampan bukan dilihat dari penampilan tapi bagaimana anak di dekatnya merasa nyaman,” imbuhnya. (Juni Muslimin/Achmad San)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here