Tingkatkan Literasi Media, Ditjen Dikti Jalin Kerja Sama dengan Maarif Institute

0
104
Sekretaris Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Paristiyanti pada acara Penandatanganan MoU Ditjen Dikti dengan Maarif Institute secara daring. (Tangkapan layar/KLIKMU)

Ribuan Dosen dan Jutaan Mahasiswa Jadi Sasaran

KLIKMU.CO – Dalam upaya meningkatkan literasi media untuk mahasiswa dan dosen, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) bekerja sama dengan Maarif Institute for Culture and Humanity. Literasi media merupakan kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mendekonstruksi pencitraan media. Maka, mahasiswa dan dosen dianggap menjadi kelompok yang dapat meningkatkan literasi media.

Atas dasar hal itu, Ditjen Dikti bersama Maarif Institute menandatangani nota kesepahaman yang memiliki ruang lingkup sebagai pelatihan literasi media bagi mahasiswa dan dosen, sosialisasi pelatihan literasi media, serta monitoring dan evaluasi pelatihan literasi media.

Sebelumnya, kegiatan komunikasi dan kolaborasi sudah kurang lebih 3 bulan dijalankan dan sampailah pada penandatanganan nota kesepahaman ini. Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Paristiyanti pada acara Penandatanganan MoU Ditjen Dikti dengan Maarif Institute, Jumat (23/10/2020).

Harapannya, kata Paristiyanti, kerja sama ini dapat betul-betul dilaksanakan dengan perencanaan yang baik. Menerapkan win-win solution antara Ditjen Dikti dengan Maarif Institute, melakukan implementasi, monitoring, dan evaluasi untuk keberlanjutan serta perbaikan yang terstruktur agar kegiatan kerja sama di masa yang akan datang jauh lebih baik.

“Kami titipkan kepada Maarif Institute 287 ribu dosen dan 8 juta mahasiswa untuk diberikan literasi tentang media dan agar dapat mempercepat transformasi pendidikan tinggi untuk meningkatkan transformasit ekonomi. Sesuai dengan tagline dari Ditjen Dikti, yaitu Kampus Merdeka Indonesia Jaya. Diharapkan hal tersebut dapat dilakukan bersama-sama,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Staf Khusus Bidang Kompetensi dan Manajemen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Dei Sudarmo menyampaikan apresiasi dan rasa bangga karena terciptanya kerja sama antara Ditjen Dikti dengan Maarif Institute.

“Hal ini merupakan milestone kerja sama dan sinergi antara Kemendikbud, Ditjen Dikti, dengan Maarif Institute. Atas pencapaian ini, diharapkan kita dapat bekerja lebih erat lagi,” ungkapnya.

Direktur Program Maarif Institute Khelmy menyampaikan, permasalahan literasi media yang terjadi saat ini diakibatkan kurangnya informasi dan solusi yang tersedia. Karena itu, tantangan hoaks semakin kompleks, sementara belum ada panduan kurikulum dan materi yang tersedia pun belum memadai. Selain itu, sebagian besar literasi media disajikan dalam bentuk kelas yang berdampak pada keterbatasan masyarakat untuk mengakses materi-materi tersebut.

Menurut dia, hal ini juga diperburuk dengan peningkatan konsumsi internet, khususnya pada masa pandemi namun tidak diiringi dengan literasi digital atau literasi informasi.

Khelmy menyampaikan, melalui kerja sama Program Tular Nalar, Maarif Institute berharap dapat menularkan nalar yang baik dan meningkatkan literasi digital di masyarakat. Program ini ditujukan kepada 26.700 guru, dosen, dan mahasiswa calon guru dalam bentuk daring dan luring selama 1,5 tahun. Para peserta program diberi materi pelajaran terkait pemikiran kritis dan literasi media berupa seminar, pelatihan, talk show radio, video, modul, asesmen, serta platform pembelajaran yang dapat diakses secara gratis.

“Program ini yang nantinya Maarif Institute kombinasikan dengan sistem pembelajaran daring (SPADA) yang sudah dimiliki oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan akan berjalan di 23 kota. Harapannya, peserta program ini memiliki kompetensi pribadi mengenai literasi digital, bisa merespons situasi dan hoaks, dan terakhir memiliki suatu ketahanan yang luar biasa terhadap dirinya atau bahkan bisa berdampak pada lingkungan sekitarnya atau menjadi agent of change,” tuturnya.

Suyoto, Bendahara Yayasan Ahmad Syafi’i Maarif, dalam kesempatan yang sama menyampaikan bahwa terdapat 4 modal yang harus dimiliki dalam berbangsa dan bernegara, yaitu fiskal, natural, human capital, dan social capital. Saat ini, dunia digital berhubungan langsung dengan 2 modal yang besar, yaitu human capital serta manusia sekaligus.

Selain itu, kata dia, perlu adanya moralitas dalam penggunaan dunia digital di masa sekarang ini. Tanpa adanya dua modal yang kuat yaitu human capital dan manusia, sebuah bangsa tidak akan produktif dalam membangun bangsa dan negara serta melakukan pembangunan berkelanjutan.

“Dunia digital jika dimasukkan nilai-nilai keagamaan yang positif dan juga melakukan kolaborasi, kerja sama, dan gotong royong saya yakin kecepatan berita buruk itu akan bisa ditandingi minimal dikurangi. Oleh karenanya, saya berterima kasih kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Sekretaris Jenderal Pendidikan Tinggi, Maarif Institute, dan Google atas kerja sama ini, “ pungkasnya. (MFS/VAL/YJ/ITR/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here