Tirulah Jepang, Korea, dan China yang Sukses Maksimalkan Bonus Demografi

0
1326
Ekbis Sindonews.com

KLIKMU.CO – Sebagai negara dengan penghasilan menengah menuju menengah ke atas, Indonesia sangat membutuhkan sarjana-sarjana dan lulusan perguruan tinggi yang tidak hanya membawa gelar kesarjanaannya, tetapi juga memiliki kompetensi yang kuat, memiliki jiwa profesionalisme yang unggul, sekaligus memiliki akhlak yang mulia. Hal itu disampikan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Prof Ir Nizam MSc DIC PhD IPM  ASEAN Eng saat memberikan orasi ilmiah pada Wisuda Ke-97 Periode III Tahun 2020 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (22/10/2020).

“Kalau kita melihat angkatan kerja di Indonesia saat ini, sebagian besar lebih dari 50% baru tamatan SD dan SMP. Sementara yang tamatan pendidikan tinggi masih di bawah 10%. Ingat, itu satu tantangan yang besar bagi kita semua. Jadi, Anda sekalian para sarjana ini merupakan bagian kecil dari angkatan kerja di Indonesia yang diharapkan menjadi penggerak utama dari kemajuan perekonomian, kemajuan sosial, budaya, dan kesejahteraan masyarakat,” kata Nizam di Hall Dome UMM.

Dibandingkan dengan negara-negara tetangga, sambung Nizam, rata-rata angkatan kerja mereka sudah di atas 35% yang berpendidikan tinggi. Saat ini, Indonesia sedang memasuki apa yang dikenal dengan bonus demografi, yakni jumlah angkatan kerja lebih banyak daripada anak-anak dan usia manula.

“Tetapi, bonus demografi tidak serta-merta menghasilkan kemajuan, meskipun kita juga sudah melihat dalam sejarahnya. Mulai kita lihat yang nyata sekali Jepang. Tahun ‘70-an dengan bonus demografinya itu berhasil membawa Jepang menjadi macannya Asia. Tetapi kemudian di tahun ‘90-an hingga sekarang Jepang mulai mengalami atau memasuki masyarakat yang menua atau aging society,” ujar Nizam secara virtual.

Diikuti kemudian oleh Korea Selatan, yang di tahun ‘90-an memasuki bonus demografinya dan menjadi kekuatan baru ekonomi di Asia. Itu terjadi bersamaan dengan bonus demografi yang dialami oleh Korea Selatan pada tahun 1990-2000an. Karena itu, tidak heran tahun-tahun tersebut  Korea tumbuh dengan sangat pesat dan bahkan dalam banyak kompetisi bisa mengalahkan Jepang. Samsung, misalnya, mengungguli Sony dalam produk handphone dan produk alat-alat elektronik yang lain.

Demikian pula China tahun 2000-an akhir mulai memasuki bonus demografinya. Dan jika dilihat China sekarang menjadi raksasa dunia di dalam ekonomi. Itu bersamaan dengan bonus demografi yang dialami oleh China di tahun 2010-an hingga sekarang. Tapi, saat ini China pun juga mengalami aging society, sementara Indonesia sedang memasuki bonus demografi tersebut.

“Tentu peluang ini tidak boleh kita sia-siakan. Dan Anda sekalian para sarjana baru bagian dari bonus demografi tersebut, yang tentu dengan segala potensi, dengan segala kreativitas, Anda sekalian akan menjadi bagian dari membangun ekonomi Indonesia yang lebih maju, membangun kesejahteraan masyarakat yang lebih makmur, serta berkeadilan. Dan tentunya mewujudkan Indonesia Raya yang kita cita-citakan bersama,” ujar Nizam.

Lebih jauh Nizam menyebut, kemajuan dunia saat ini sangat ditentukan oleh inovasi. Dasar dari inovasi adalah kreativitas. Kreativitas dan inovasi akan lahir dari perguruan tinggi ketika para sarjananya memiliki jiwa merdeka. Mempunyai semangat untuk terus berkreasi dan semangat untuk mengembangkan ilmu teknologinya, serta mendarmabaktikan ilmu teknologinya itu untuk kemajuan bangsa dan negaranya.

“Saya yakin anda sekalian dengan bekal dari Universitas Muhammadiyah Malang, Anda sekalian sudah mendapat bekal yang cukup dari segi kompetensi dan dari sisi akhlak. Tinggal bagaimana anda sekalian memanfaatkan bekal tadi untuk membangun masa depan anda sekalian,” pungkas Nizam. (Ade/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here