Tugas Berat Kemenag: Di Pundak Kanan Pendidikan Harus Sukses, di Pundak Kiri Agama Jangan Ketinggalan

0
232
Kepala Kantor Kemenag Jombang Dr H Emy Chulaimi SAg MH saat diwawancarai warcil MIM 10 Rejosopinggir. (Zuly/Klikmu.co)

KLIKMU.CO

Mengisi liburan dengan kegiatan positif. Itulah yang dilakukan wartawan cilik (warcil) MI Muhammadiyah 10 Rejosopinggir Tembelang Jombang “Madrasah Penghafal Al-Qur’an” dengan mengunjungi kantor Kemenag untuk menggali informasi pada Plt Kepala Kantor Kemenag Jombang Dr H Emy Chulaimi SAg MH, Selasa(31/12/2019).

Wawancara dilakukan Cintia Nur Rahma dan Nana Safinatun Najah. Berikut nukilannya.

Apa arti HAB Kemenag itu?

Hari Amal Bakti dari Kementerian Agama Republik Indonesia. Jadi, intinya di amal bakti itu memperingati hari kelahiran Kementerian Agama Republik Indonesia yang lahir pada 3 Januari 1946. Jadi, instasi pemerintah yang dibentuk setelah kemerdekaan 1945 adalah Kementerian Agama. Jadi, usianya sudah sangat tua, kalau sekarang berarti ke-74 tahun.

Apa saja kegiatan HAB Kemenag?

Alhamdulillah banyak sekali, salah satunya lomba-lomba kesegaran jasmani. Jadi ada lomba tenis meja, badminton, voli, dan juga ada penampilan-penampilan ekspresi dari lembaga-lembaga madrasah. Ada juga kemarin, Ahad (29/12/2019), senam hijaiyah yang diikuti guru RA (Roudhotul Athfal) Se-Kabupaten Jombang di Alun-Alun Jombang. Kemudian juga ada kegiatan sema’an Al-Qur’an. Kemudian juga ada kegiatan goes sepeda, kegiatan dari ibu-ibu dharmawanita, yaitu ibu-ibu istri ASN Kementerian Agama Kabupaten Jombang. Salah satunya ada bakti sosial tentang pemeriksaan mata secara gratis, donor darah kerja sama dengan Palang Merah Indonesia Kabupaten Jombang, kemudian ada kegiatan parenting. Parenting itu bicara tentang keluarga orang tua dan anak, jadi insya Allah akan mendatangkan psikolog UINSA Surabaya dan nanti puncaknya ya upacara bendera tanggal 3 Januari 2020 di lapangan Pulo Lor, Jombang.

Apa harapan Bapak dengan adanya HAB Kemenag?

Harapannya agar tidak hanya bagi ASN (aparatur sipil negara) Kementerian Agama. Semua masyarakat bisa mengetahui keberadaan Kementerian Agama. Jadi, kita bagaimana menjalankan program-program pemerintah, apalagi yang sekarang ini visi misinya mengikuti presiden dan wakil presiden, khususnya pembangunan masalah pendidikan agama, dan keagamaan itu sendiri. Pendidikan agama berarti ketika berbicara di lembaga-lembaga agama, seperti RA, MI, MTS, MA. Kalau keagamaan berarti bagaimana meningkatkan keimanan dan ketakwaan, kerukunan umat beragama itu sendiri.

Menurut Bapak, bagaimana sistem pendidikan yang ada di Indonesia ini?

Ya, sistem pendidikan yang ada di Indonesia ini alhamdulillah cukup bagus. Kalau dari Kementerian Agama kita tetap bagaimana menyukseskan program pendidikan nasional, juga menyukseskan program pendidikan keagamaan. Jadi memang, di lembaga Kementerian Agama ini tugasnya berat. Jadi, ibaratnya di pundak kanan program pendidikan nasional harus sukses, di pundak kiri jangan ketinggalan masalah agama itu sendiri. Jadi sama-sama sukses berjalan beriringan.

Apa yang perlu diperbaiki dari sistem pendidikan di Indonesia?

Sebetulnya sistem pendidikan di Indonesia kalau saya berbicara hanya di internal Kementerian Agama ya bukan di Kementerian Pendidikan Nasional dan Kebudayaan. Jadi, kalau di Kementerian Agama ini, sekarang alhamdulillah sudah mengakomodasi semua.
Pendidikan nasional yang juga berhubungan dengan kurikulum bisa berjalan, kemudian pendidikan keagamaan yang ada di lingkungan pondok pesantren salaf juga bisa berjalan, kemudian bagaimana khususnya lembaga-lembaga pendidikan yang ada di pondok pesantren itu bisa juga diakui secara nasional. Jadi ada program wajar dikdas, ada juga program paket a, b, c yang ada di pondok pesantren. Kemudian juga di S1-nya juga ada ma’had ‘ali yang semuanya diakomodasi oleh pemerintah.

Menurut Bapak, abad 21 atau zaman 4.0 itu apa?

Abad 21 adalah informasi dan transformasi ilmu pengetahuan budaya. Ini bicara tentang globalisasi. Jadi sekarang ini disebut anak muda yang berkiprah anak milenial kan gitu informasinya. Tetapi, bagian itu semua jangan sampai merugikan bangsa Indonesia itu sendiri. Jadi, hal-hal yang positif hal-hal yang menuju perbaikan hal-hal yang juga nanti dampaknya kondusif, karena ini memengaruhi stabilitas nasional di Negara Indonesia. Khususnya bagaimana konsep pendidikan itu sendiri. Jadi, menurut saya di abad 21 ini luar biasa masalah ilmu pengetahuan IT maupun budaya. Tetapi, bangsa Indonesia ini mempunyai ciri khas sendiri dan itu harus dipertahankan tidak boleh terpengaruh oleh globalisasi dunia. Karena budaya itu menentukan masa depan sebuah bangsa itu sendiri.

Sebagai generasi muda, apa yang harus kami siapkan untuk menghadapi abad 21 ini?

Karena ini generasi muda dari Islam, maka paling tidak kita kembali kepada bagaimana ajaran-ajaran Al-Qur’an itu sendiri, juga As-sunnah yang juga disampaikan oleh Rosulullah Nabi Muhammad SAW sebagai uswatun hasanah. Jadi, apa pun bentuknya di abad 21 ini, kita harus berkiprah mewarnai konsep Al-Qur’an dan As Sunnah itu sendiri. Jangan kemudian abad 21 ini malah memengaruhi konsep agama. Nah, ini yang perlu kita pertahankan sebagai generasi muda islami.

Pesan Bapak untuk pelajar di Indonesia?

Yang pertama bagaimana menjaga sebuah akhlakul karimah itu sendiri, karena kita tahu zaman sudah globalisasi seperti ini. Yang paling penting kurikulum maju sebagaimanapun tapi kalau cerminan kelembagaan, lembaga keagamaan MI itu sendiri harus tetap menjaga yang namanya akhlakul karimah. Karena ketika kurikulum bagus, semuanya bagus. Tetapi ketika berbicara cerminan dari akhlakul karimah itu tidak bisa terjaga, itu semua tidak ada artinya. Kemudian yang kedua bagaimana bersinergi antara dewan pendidikan. Di situ ada guru, tenaga pendidik,bada juga siswa-siswi. Ada juga mungkin komite masyarakat itu bisa bersatu padu bagaimana membangun sebuah lembaga pendidikan. (Zuly Ahsanul Bariyyah/Achmad San)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here