Tuntunan Lengkap Ibadah Ramadan di Masa Pandemi, PP Minta Seluruh Warga Muhammadiyah Patuh

0
254
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir. (Detik.com)

KLIKMU.CO – Pimpinan Pusat Muhamadiyah mengeluarkan tuntunan ibadah di bulan suci Ramadan 1442 H/2021 M dalam kondisi darurat Covid-19. Isinya tidak jauh berbeda dengan imbauan tahun sebelumnya yang juga harus dilalui pada masa pandemi.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Haedar Nashir mengatakan, edaran tuntunan ini sesuai fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Haedar Nashir berharap tuntunan tersebut hendaknya dapat dilaksanakan dan dapat menjadi panduan bagi umat Islam pada umumnya dan warga Muhammadiyah pada khususnya.

“Khusus bagi warga Muhammadiyah dengan seluruh institusi yang berada di lingkungan persyarikatan dari pusat sampai ranting, hendaknya memedomani tuntunan ini sebagai wujud mengikuti garis kebijakan organisasi untuk berada dalam satu barisan yang kukuh,” tegas Haedar dalam imbauan yang bertanggal 22 Maret tersebut.

Tuntunan tersebut, antara lain, puasa Ramadan hukumnya wajib dilakukan, kecuali bagi orang yang sakit dan yang kondisi kekebalan tubuhnya tidak baik. Orang yang terkonfirmasi positif Covid-19, baik yang bergejala maupun tidak bergejala atau disebut orang tanpa gejala (OTG), termasuk dalam kelompok orang yang sakit ini.

“Mereka mendapat rukhsah meninggalkan puasa Ramadan dan wajib menggantinya setelah Ramadan sesuai dengan tuntunan syariat. Ini sesuai dengan Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 185,” papar Haedar.

Bagi tenaga kesehatan, untuk menjaga kekebalan tubuh dan dalam rangka berhati-hati guna menjaga agar tidak tertular, mereka yang sedang bertugas menangani kasus Covid-19, bilamana dipandang perlu, dapat meninggalkan puasa Ramadan dengan ketentuan menggantinya setelah Ramadan sesuai dengan tuntunan syariat sebagaimana dipahami dari firman Allah dan hadis Nabi saw.

Kemudian, soal vaksinasi. Muhammadiyah menjelaskan ahwa vaksinasi dengan suntikan boleh dilakukan saat berpuasa dan tidak membatalkan puasa. Sebab, vaksin diberikan tidak melalui mulut atau rongga tubuh lainnya seperti hidung serta tidak bersifat memuaskan keinginan dan bukan pula merupakan zat makanan yang mengenyangkan (menambah energi).

“Adapun yang membatalkan puasa adalah aktivitas makan dan minum, yaitu menelan segala sesuatu melalui mulut hingga masuk ke perut besar, sekalipun rasanya tidak enak dan tidak lezat. Suntik vaksin tidak termasuk makan atau minum,” tegasnya.

Kemudian, bagi masyarakat yang di sekitar tempat tinggalnya ada penularan Covid-19, salat berjamaah, baik salat fardu (termasuk salat Jumat) maupun salat qiyam Ramadan (Tarawih), tetap dilakukan di rumah masing-masing.

“Bagi masyarakat yang di sekitar tempat tinggalnya tidak ada penularan Covid-19, salat berjamaah, baik salat fardu (termasuk salat Jum‘at) maupun salat qiyam Ramadan (Tarawih), dapat dilaksanakan di masjid, musala, langgar, atau tempat lainnya, dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan secara ketat,” tegasnya. (AS)

EDARAN-Tuntunan Ramadan 1442-2021-b-RESMI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here