Turun ke Bawah, IMM Blusukan ke Kampung Bermasalah di Kota Pahlawan

0
287
Ketua DPP IMM beserta kader dan warga Stren Kali Jagir. (Khoirun Nash/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Di kampung Strenkali Surabaya, kampung yang sampai saat ini belum mendapatkan hak legal dari pemerintah setempat, Selasa lalu (25/12), Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah melalui Bidang Sosial Pemberdayaan Masyarakat menutup serangkaian agenda Temu Pegiat Pemberdayaan Sosial dan Field Study. Agenda itu diikuti oleh kader-kader IMM dari berbagai wilayah di Indonesia yang dimulai sejak Jumat-Rabu, 20-25 Desember 2019.

Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama DPP IMM, alumni Loknas SPM Regional Jatim, dan PC IMM Kota Surabaya di Kota Surabaya. Rangkaian kegiatannya meliputi Field Study dan Sharing Komunitas bersama dengan pegiat pemberdayaan sosial berbasis komunitas yang ada di Surabaya.

Agenda penutupan ini langsung melibatkan warga tempat diadakannya Field Study. Penampilan angklung anak-anak binaan Urban Care Community jadi pembuka acara. Mereka didampingi oleh Azrohal selaku sekretaris Bidang Sosial Pemberdayaan DPP IMM dan Lutfi dari Urban Care Community. Acara dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh salah satu immawati peserta kegiatan.

Warsito, perwakilan warga, menuturkan bahwa kampung yang bersebelahan dengan tembok PDAM Kota Surabaya ini belum mendapat perhatian pemerintah. “Bahkan, akses air PDAM juga belum bisa masuk kampung ini karena persoalan legalitas kampung,” ujarnya.

Kampung ini memang salah satu kampung yang bermasalah di Surabaya. Selama kegiatan, peserta memang disebar ke kampung-kampung di Kota Surabaya yang bermasalah. Selain daerah Jagir, mereka juga mendatangi Kampung Keputih Pompa yang mempunyai permasalahan sengketa tanah dengan sebuah perusahaan pengembang perumahan. Kemudian, Kampung Sulung di utara Kantor Gubernur Jawa Timur yang berlokasi di sepanjang jalur kereta api dengan permasalahan sosial dan pendidikan. Ada pula kelompok yang lain bertempat di perkampungan nelayan Kenjeran dengan berbagai persoalan mengenai lingkungan.

Sementara itu, Ketua Umum PC IMM Surabaya M. Firdaus Su’udi menuturkan, pelatihan ini sangat dibutuhkan kader IMM se-Indonesia. Dia berharap sepulang dari sini peserta dapat membuat acara terkait pelatihan pemberdayaan di tempat asal mereka.

Ketua Umum DPP IMM Najih Prastiyo menambahkan, selama ini IMM sering berkutat pada kegiatan sosial aplikatif, seperti bakti sosial untuk mengimplementasikan nilai humanitas sebagai ideologi IMM. Najih membuat analogi bahwa kegiatan itu diibaratkan koboi yang tidak mempunyai strategi, bahkan memikirkan dampak jangka panjang.

Dia berharap sepulang dari acara ini pola pikir kader IMM diubah oleh para peserta pelatihan agar nanti IMM selalu dapat menjadi jawaban atas persoalan yang terjadi di masyarakat.

“Kader IMM tidak hanya dapat berdialektika dan berwacana besar, tapi juga mampu berkolaborasi dengan berbagai lapisan masyarakat. Intelektual profetik juga berbicara aspek pemberdayaan. Pemberdayaan yang sesungguhnya adalah bagaimana kita mampu menjadi problem solver paling tidak di lingkungan terdekat kita, baik berhubungan dengan alam maupun dengan kehidupan sosial, dan IMM harus mampu hadir di situ.
(Khoirun Nash/Achmad San)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here