Ibrah Kehidupan #131: Ubaidah ibn al-Harits, Nabi saw Sendiri Turun ke Liang Lahat, Saat Pemakamannya (Habis)

0
420
Foto diambil dari Twitter

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Melihat Ubaidah ibn al-Harits yang sedang terluka parah pasca mengalahkan Utbah dalam duel head to head, lalu Rasulullah saw. meletakkan kepala Ubaidah ke paha beliau dan mengusap mukanya yang penuh debu. Dan saat itu pula Ubaidah teringat pada peristiwa saat orang kafir Quraisy ingin membunuh rasulullah saw, bahkan mereka menawarkan seorang anak muda bernama Umarah sebagai “pengganti” Muhammad kepada Abu Thalib.

Lalu Abu Thalib menolak seraya berkata :
“Tidak mungkin aku menyerahkan Muhammad untuk kalian bunuh, sementara kalian menyerahkan Umarah untuk aku jadikan anak. Aku tidak akan pernah menyerahkan Muhammad kepada kalian. Aku akan melindunginya, walaupun aku mati terkapar di depan kalian. Dan bahkan menelantarkan anak-anak dan istriku, aku akan tetap rela melindunginya”.

Teringat perkataan Abu Thalib tersebut, Ubaidah ibn al-Harits memandang Rasulullah saw. dan berkata : “Wahai Rasulullah, seandainya Abu Thalib melihat keadaanku seperti ini, ia pasti akan mengetahui bahwa aku lebih berhak atas kata-kata yang di ucapkannya tersebut”.

Rasulullah saw. pun tersenyum mendengar perkataan Ubaidah ibn al-Harits tersebut. Lalu Ubaidah bertanya kepada Nabi yang dicintainya: “bukankah aku sudah syahid, wahai rasulallah ?” Tanya Ubaidah. “benar”. Jawab Rasulullah saw.
Sedikitpun Ubaidah ibnu al-Harits tidak mengeluh dengan keadaannya. Dan dalam perjalanan pulang, antara 4 atau 5 hari setelah peperangan badar, Ubaidah ibn al-Harits meninggal dunia di daerah al-Shafra.

Dalam satu riwayat disebutkan bahwa waktu penguburan Ubaidah ibn al-Harits, Rasulullah saw sendiri yang turun ke liang lahat, padahal beliau belum pernah sekalipun turun langsung ke liang lahat dalam setiap penguburan sahabat. Ini adalah bentuk penghormatan Nabi Muhammad saw kepada salah satu sahabatnya.
Dalam salah satu riwayat disebutkan, saat Rasulullah saw bersama para sahabat melaksanakan suatu perjalanan, mereka beristirahat di sebuah tempat/ area kampung bernama Nazilah, para sahabat berkata kepada Rasulullah saw, : “sungguh kami mencium wangi misik.”

Rasulullah saw pun bersabda, “Apakah kalian tidak tahu? Di sinilah kuburan Abu Muawiyah, yakni Ubaidah ibn al-Harits.” Ubaidah ibn al-Harits berperawakan sedang / ideal dan berwajah rupawan. Ia wafat sebagai syahid dalam usia 63 tahun. Semoga Allah swt merahmatinya.

Demikian biografi singkat salah satu sahabat Rasulullah saw. “Ubaidah ibn al-Harits”. Begitu besar pengorbanan beliau terhadap agama Islam, bahkan beliau rela mengorbankan jiwa dan raga demi agama yang dibawa oleh Rasulullah saw.
Tentang perang tanding yang dilakukan oleh Ubaidah ibnu al-Harits ini, Allah Subhanahu wa ta’ala sebutkan didalam Al-Qur’an surat Al-Hajj ayat 19 -24 :
هَذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ فَالَّذِينَ كَفَرُوا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِّن نَّارٍ يُصَبُّ مِن فَوْقِ رُؤُوسِهِمُ الْحَمِيمُ -١٩
Artinya : Inilah dua golongan (Mukmin dan kafir) yang bertengkar, mereka bertengkar mengenai (kebenaran) Tuhan mereka. Maka bagi orang kafir akan dibuatkan pakaian-pakaian dari api (neraka) untuk mereka. Ke atas kepala mereka akan disiramkan air yang mendidih.

IBRAH DARI KISAH INI:

Ubaidah ibnu al-Harits, lebih sering dipanggil Abu Mu’awiyah. Merupakan profil sahabat Nabi Muhammad saw, salah satu dari “Assaabiquunal Awwaluun” yakni kelompok orang-orang yang masuk islam periode pertama (periode awal).

Dibandingkan dengan shabat-sahabat sesama Assabiquunal Awwaluun, beliau tidak begitu dikenal (tidak begitu popular). Tetapi sesungguhnya beliau punya peran penting dalam perjuangan umat Islam di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad saw, baik ketika periode Makkah maupun periode Madinah.

Beberapa peran yang menonjol, antara lain : Ubaidah ibnu al-Harits adalah prajurit pemegang bendera perang pertama yang diterimanya langsung dari Nabi Muhammad saw.
Kemudian Ubaidah ibnu al-Harits adalah satu dari tiga sahabat yang dengan keberaniannya melakukan perang tanding “Head to Head” satu lawan satu. Beliau berhasil menghabisi lawan tandingnya meskipun beliau sendiri dalam keadaan luka parah akibat pertarungan yang sengit.

Wahai aktifis 1912, Yang sangat mengagumkan adalah, ketulusan jiwa, keikhlasan hati dalam berjuang menegakkan agama Islam serta membela kepentingannya. keberanian, dan kesungguhan di dalam perjuangan, telah beliau abdikan seutuhnya, lahir dan batin.
Pilihan hidup sebagai pengabdi dakwah Islam amar makruf nahi munkar telah diejawantahkan dalam perilaku kesehariannya. Inilah semestinya karakter yang kita miliki. Ubaidah ibnu al-Harits, contoh profil pejuang sejati. Sangat inspiratif.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here